Malam itu, saya benar-benar beruntung.
Sebenarnya tak sengaja, saya
diajak komunitas Teater Obor untuk menghadiri undangan Kang Iman Soleh, salah
satu seniman hebat dari Bandung, dalam acara Pementasan dan ‘Ngariung’ bersama
komunitas beliau yang dinamai CCL (Celah-celah Langit).
Yang menarik adalah ketika saya
merasa tak ada yang dikenal selain teman-teman dari sanggar obor, pembawa acara
mempersilakan untuk saling berjabat tangan dengan orang yang duduk di sebelah. Maka
otomatis, seakan tak ada jarak lagi antara semua yang hadir di sana.Karena biar
bagaimanapun, jika tidak dilakukan hal itu, tentu tetap saja seakan-akan ada
dinding pembatas mengingat—walau semuanya menamakan diri sebagai seniman, namun—kami
berada pada level yang berbeda.
Acara terus berlangsung. Mulai dari
sambutan dari Kang Iman Soleh dan pengurus pemerintahan setempat, pembacaan
puisi yang begitu menarik oleh salah satu anggota CCL, hingga permainan alat
musik sejenis kecapi yang dipetik oleh seorang Tionghoa.
Dan hal yang tak saya duga ialah
kehadiran Bpk. Anies Baswedan. Beliau hadir untuk menghadiri acara tersebut dan
untuk berdialog dengan semua yang hadir. Banyak yang beliau sampaikan pada malam
itu. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah pandangannya mengenai Pemuda.
Bagi beliau, pemuda bukanlah soal
usia, tetapi lebih kepada pemikiran, jiwa, cara pandang. Ia menambahkan bahwa
seorang pemuda bukanlah orang yang selalu melihat masa lalu, tetapi justru yang
selalu berbicara tentang kehidupan yang akan datang.
Lebih jauh lagi, beliau bercerita
mengenai apa yang pernah ia alami di suatu hari dalam perjalanan di kereta api.
Kurang lebih begini inti ceritanya:
Ada seorang tua yang
duduk di gerbong yang sama dengan beliau—yang terbilang jauh lebih muda dari
segi usia, seorang tua itu berusia sekitar 90 tahun-an. Dalam perjalanan
tersebut, mereka berkenalan, saling mendekatkan diri hingga obrolan pun mengalir
begitu saja, menjadikan mereka tampak akrab.
Ditengah obrolan
ringan tersebut, si anak muda bertanya tentang masa lalu orang tua tersebut. Yang
mengagetkan adalah, ternyata si orang tua malah lebih senang berbicara mengenai
impian-impian di masa yang akan datang, bukan menceritakan kehidupannya di masa
lalu.
Jika dilihat dengan yang terjadi
sekarang, kita, sebagai anak muda justru lebih sering menceritakan hal-hal yang
terjadi di masa lalu, apalagi jika kejadian tersebut membuat kita terluka
hingga selalu muncul dalam ingatan. Maka, pak Anies berpendapat bahwa seorang
tua dalam kereta tersebut jauh lebih bisa disebut pemuda daripada kita yang
mengaku anak muda tetapi tidak mempunyai pemikiran-pemikiran atau perencanaan
untuk masa depan.
Malam itu, saya jelas sependapat dengan beliau. Hanya saja,
saya sangat jarang bertemu dengan sosok ‘tua’ namun memiliki jiwa muda.
Hingga sampailah pada hari ini, saya akhirnya menemukan
sosok itu.
Saya seorang mahasiswa
Perbandingan Agama, semester tiga. Dosen pembimbing saja sejak awal adalah Dr.
H. Darun S. Walaupun beliau adalah seorang pembimbing, yang seharusnya menjadi
tempat kami (saya dan teman sekelompok) berkonsultasi, namun pertemuan kami
selama dua smester ini hanya berlangsung selama dua kali. Itu pun hanya untuk
menandatangani KRS.
Kenapa? Karena beberapa tahun ini
beliau mengalami gangguan fisik yang mengakibatkan beliau tak bebas lagi
beraktivitas, dan ada dalam pengawasan dokter, hingga beliau lebih sering
menghabiskan waktunya di rumah.
Jika sebelumnya kami harus datang
ke rumah sakit, hari ini saya dan teman-teman mengunjungi rumah beliau untuk
penandatanganan KRS. Keadaan beliau masih sama, masih ada dalam pengawasan
dokter.
Hanya saja beliau tampak berbeda
dengan orang sakit kebanyakan, saat berbincang dengannya, saya menemukan sosok
pemuda yang diceritakan Bpk. Anies Baswedan. Saya menemukannya di diri dosen
pembimbing saya sendiri. Beliau dengan retorika dan pemikirannya berhasil
membuat kami menyesal menyia-nyiakan waktu setahun terakhir ini dengan tidak
berkonsultasi dengannya. Padahal kalau dipikir-pikir, sama sekali jauh
perbandingan atara ilmu yang di dapat dari beliau dengan waktu yang kami tempuh
untuk menemuinya di kediamannya.
Walaupun dalam keadaan sakit, selain menjadi
dosen pembimbing, beliau masih semangat mengajar kakak tingkat kami. Ia pun
bercerita tentang mahasiswa s-2nya yang rela pergi ke Rumah Sakit hanya untuk
kuliah dengan beliau, walaupun beliau harus mengajar sambil tidur. Itu jelas
membuktikan bahwa mahasiswanya sangat membutuhkan ilmu dari seorang pemikir
seperti dirinya.
Hhhhh saya ingin seperti beliau, meskipun raganya tidak
sehat, tetapi ia selalu produktif, otaknya selalau ia gunakan. Dalam pengawasan
dokter pun, ia tidak ingin dikasihani. Sebaliknya, beliau malah berkata, “Jangan
mengasihani saya, do’akan saja!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar