Jumat, 05 September 2014

Pemuda!



Malam itu, saya benar-benar beruntung.
Sebenarnya tak sengaja, saya diajak komunitas Teater Obor untuk menghadiri undangan Kang Iman Soleh, salah satu seniman hebat dari Bandung, dalam acara Pementasan dan ‘Ngariung’ bersama komunitas beliau yang dinamai CCL (Celah-celah Langit).
Yang menarik adalah ketika saya merasa tak ada yang dikenal selain teman-teman dari sanggar obor, pembawa acara mempersilakan untuk saling berjabat tangan dengan orang yang duduk di sebelah. Maka otomatis, seakan tak ada jarak lagi antara semua yang hadir di sana.Karena biar bagaimanapun, jika tidak dilakukan hal itu, tentu tetap saja seakan-akan ada dinding pembatas mengingat—walau semuanya menamakan diri sebagai seniman, namun—kami berada pada level yang berbeda.
Acara terus berlangsung. Mulai dari sambutan dari Kang Iman Soleh dan pengurus pemerintahan setempat, pembacaan puisi yang begitu menarik oleh salah satu anggota CCL, hingga permainan alat musik sejenis kecapi yang dipetik oleh seorang Tionghoa.
Dan hal yang tak saya duga ialah kehadiran Bpk. Anies Baswedan. Beliau hadir untuk menghadiri acara tersebut dan untuk berdialog dengan semua yang hadir. Banyak yang beliau sampaikan pada malam itu. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah pandangannya mengenai Pemuda.
Bagi beliau, pemuda bukanlah soal usia, tetapi lebih kepada pemikiran, jiwa, cara pandang. Ia menambahkan bahwa seorang pemuda bukanlah orang yang selalu melihat masa lalu, tetapi justru yang selalu berbicara tentang kehidupan yang akan datang.
Lebih jauh lagi, beliau bercerita mengenai apa yang pernah ia alami di suatu hari dalam perjalanan di kereta api. Kurang lebih begini inti ceritanya:
Ada seorang tua yang duduk di gerbong yang sama dengan beliau—yang terbilang jauh lebih muda dari segi usia, seorang tua itu berusia sekitar 90 tahun-an. Dalam perjalanan tersebut, mereka berkenalan, saling mendekatkan diri hingga obrolan pun mengalir begitu saja, menjadikan mereka tampak akrab.
Ditengah obrolan ringan tersebut, si anak muda bertanya tentang masa lalu orang tua tersebut. Yang mengagetkan adalah, ternyata si orang tua malah lebih senang berbicara mengenai impian-impian di masa yang akan datang, bukan menceritakan kehidupannya di masa lalu.
Jika dilihat dengan yang terjadi sekarang, kita, sebagai anak muda justru lebih sering menceritakan hal-hal yang terjadi di masa lalu, apalagi jika kejadian tersebut membuat kita terluka hingga selalu muncul dalam ingatan. Maka, pak Anies berpendapat bahwa seorang tua dalam kereta tersebut jauh lebih bisa disebut pemuda daripada kita yang mengaku anak muda tetapi tidak mempunyai pemikiran-pemikiran atau perencanaan untuk masa depan.
Malam itu, saya jelas sependapat dengan beliau. Hanya saja, saya sangat jarang bertemu dengan sosok ‘tua’ namun memiliki jiwa muda.
Hingga sampailah pada hari ini, saya akhirnya menemukan sosok itu.
Saya seorang mahasiswa Perbandingan Agama, semester tiga. Dosen pembimbing saja sejak awal adalah Dr. H. Darun S. Walaupun beliau adalah seorang pembimbing, yang seharusnya menjadi tempat kami (saya dan teman sekelompok) berkonsultasi, namun pertemuan kami selama dua smester ini hanya berlangsung selama dua kali. Itu pun hanya untuk menandatangani KRS.
Kenapa? Karena beberapa tahun ini beliau mengalami gangguan fisik yang mengakibatkan beliau tak bebas lagi beraktivitas, dan ada dalam pengawasan dokter, hingga beliau lebih sering menghabiskan waktunya di rumah.
Jika sebelumnya kami harus datang ke rumah sakit, hari ini saya dan teman-teman mengunjungi rumah beliau untuk penandatanganan KRS. Keadaan beliau masih sama, masih ada dalam pengawasan dokter.
Hanya saja beliau tampak berbeda dengan orang sakit kebanyakan, saat berbincang dengannya, saya menemukan sosok pemuda yang diceritakan Bpk. Anies Baswedan. Saya menemukannya di diri dosen pembimbing saya sendiri. Beliau dengan retorika dan pemikirannya berhasil membuat kami menyesal menyia-nyiakan waktu setahun terakhir ini dengan tidak berkonsultasi dengannya. Padahal kalau dipikir-pikir, sama sekali jauh perbandingan atara ilmu yang di dapat dari beliau dengan waktu yang kami tempuh untuk menemuinya di kediamannya.
 Walaupun dalam keadaan sakit, selain menjadi dosen pembimbing, beliau masih semangat mengajar kakak tingkat kami. Ia pun bercerita tentang mahasiswa s-2nya yang rela pergi ke Rumah Sakit hanya untuk kuliah dengan beliau, walaupun beliau harus mengajar sambil tidur. Itu jelas membuktikan bahwa mahasiswanya sangat membutuhkan ilmu dari seorang pemikir seperti dirinya.
Hhhhh saya ingin seperti beliau, meskipun raganya tidak sehat, tetapi ia selalu produktif, otaknya selalau ia gunakan. Dalam pengawasan dokter pun, ia tidak ingin dikasihani. Sebaliknya, beliau malah berkata, “Jangan mengasihani saya, do’akan saja!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar