Minggu, 07 September 2014

CERPEN FIKSI SUREALIS: RAMSES



            Panas. Kala itu matahari berada di puncak tertinggi, menyoroti ribuan domba yang tersebar di hamparan lumput yang sangat luas. Domba-domba itu tengah menyantap rumput yang telah dimasak. Sementara  di sisi lain, tampak danau yang masih menyemburkan uapnya. Air danau yang panas itu biasa digunakan domba-domba untuk mengolah rumput sebagai bahan makanan.
Diantara padang rumput dan danau panas, terdapat sebuah rumah yang sangat megah. Rumah itu dibuat dari material yang paling langka di dunia, dan rumah yang bagai istana itu hanya dihuni oleh seorang lelaki bernama Ramses.
Seperti biasa, sang pemilik rumah baru terlihat batang hidungnya ketika matahari berada di puncaknya. Maka saat ini, lelaki tinggi besar itu tampak berada diantara bingkai pintu yang menjulang tinggi. Ia merentangkan kedua tangan, menggeliatkan tubuhnya, dan membuka mulut selebar yang ia bisa degan rambut yang masih tak tertata. Ya, ia baru saja bangun.
Kawanan domba itu memperhatikan Ramses. Mereka tahu apa yang harus dilakukan setelah laki-laki itu keluar rumah, karena hal ini sudah menjadi rutinitas mereka selama ratusan tahun terakhir.
Tak lama kemudian, lelaki itu berjalan dengan agak sempoyongan ke arah gudang di samping rumahnya. Gudang itu penuh sesak oleh perkakas yang tak terhitung jumlahnya, dari yang ukuan terkecil sampai yang paling besar. Maka seperti biasa, ribuan domba yang tadinya melakukan aktifitas masing-masing pun mulai mengantre.
Satu persatu, berbagai jenis perkakas itu ia lemparkan. Dengan sigap domba-domba pun menangkapnya. Bagi ribuan domba itu, tangkapan menentukan hidup dan mati mereka. Tak jarang, ketika ada domba yang tak bisa menangkap, perkakas yang dilemparkan Ramses malah mengenai bagian tubuhnya. Mungkin kepala, perut, punggung,  atau apapun.
 Kejadian ini justru merupakan hiburan bagi Ramses. Ia bisa tertawa menggelegar menyaksikan domba yang terkapar dengan darah mengucur dari tubuhnya yang tertancap perkakas. Sementara domba-domba yang lain menatap iba.
Domba terakhir yang mengantre, selalu mendapatkan tugas yang sama yaitu memasak domba-domba yang tak berhasil menangkap perkakas. Hari ini ada tujuh domba yang akan dimasak. Karena harus menghabiskan olahan domba itu sendirian, lelaki itu pun melakukan rutinitasnya sebelum makan besar: mengeluarkan isi perut.
Rutinitas itu berlangsung selama domba yang berperan sebagai chef, sedang mengolah domba yang akan ia santap. Sedikit demi sedikit, ia mengiriskan pisau tajam ke perutnya. Seiring dengan irisan tersebut, cairan lemak mulai membasahi perut dan seakan menjadi pelumas untuk memudahkan irisan selanjutnya.
Perlahan-lahan perutnya mulai menganga. Bau busuk mulai tercium. Darah merah pekat disertai nanah mengucur tak terkendali dan menggenang di ruangan tempat ia melakukan ritual tersebut. Puluhan lalat mulai berhamuran masuk ke dalam ruangan, seketika bau busuk memenuhi ruangan gelap yang minim fentilasi itu. Namun si lelaki malah tampak sangat menikmati momen itu. Ia kembali tertawa memperlihatkan deretan giginya yang runcing dan mulai membusuk.
Tak ingin membiarkan isi perutnya habis dimakan lalat, ia pun memanggil anjing liar kesayangannya. Seketika sang anjing liar yang ia pelihara pun menjulurkan lidah, di sisi-sisi mulutnya tampak liur yang kental.
Anjing itu langsung menjilati wajah tuannya, disambut tawa si lelaki yang semakin menggema di ruangan gelap itu. Dengan lahap, si anjing pun memakan daging busuk yang telah sehari bermukim di perut besar Ramses.
Setelah ritual itu selesai, Ramses kembali memasukkan usus yang sebelumnya terurai di lantai. Hingga di tahap terakhir, ia menjahit perutnya lagi untuk kembali disinggahi daging domba.
Tiga jam berlalu, si domba belum mengantarkan menu makan malamnya. Maka ia pun menunggu dengan menonton tv. Yang muncul di setiap stasiun televisi adalah domba dengan nama yang berbeda. Hal ini pun membuatnya tertawa. Bagaimana mungkin setiap domba memiliki nama yang berbeda. Sementara baginya, domba-domba itu berwajah dan berkelakuan sama. Tidak ada bedanya.
Setiap malam di waktu yang sama, tawanya menggema di sudut ruangan. Ramses selalu menertawakan hal yang sama, membuatnya kembali memperlihatkan deretan gigi runcingnya. Bahunya naik-turun seiring kuatnya suara tawa. Jahitan di perutnya hampir saja robek kalau saja ia tidak menghentikan tawanya.
Pemandangan ini tampak ganjil. Ramses tiba-tiba murung, jauh berbeda dengan ekspresi puas nan bahagia sedetik yang lalu. Kali ini ia menatap layar televisi dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang ke ratusan tahun silam, ketika bumi masih dipenuhi oleh milyaran manusia. Saat barang-barang canggih selalu diciptakan oleh mahluk yang disebut manusia, bukan domba.
Ya, selama ratusan tahun terakhir, lelaki itu adalah satu-satunya manusia yang menghuni planet bumi. Selebihnya adalah hewan-hewan, dan yang paling mendominasi adalah domba.
Masa punahnya manusia adalah ketika jumlah wanita jauh lebih banyak dari laki-laki, dan manusia saling membunuh. Manusia terakhir yang tersisa adalah Ramses. Itupun berkat otak licik yang dimilikinya.
Tiba-tiba, ia kembali merindukan saat-saat ketika ia bisa menggunakan otaknya untuk mencuri milyaran rupiah uang manusia lain. Ya, ketika uang menjadi benda yang sangat berharga.
Ramses kembali tertawa. kali ini menertawakan kerinduannya. Bukankah ini yang selama ratusan tahun ia cari? Kekuasaan yang tak perlu lagi terbebani oleh pikiran-pikiran lain?
Ditengah tawanya, domba pesuruh pun datang mengantarkan daging pesanan tuannya. Maka dengan lahap, tujuh domba yang telah diolah itu beralih tempat ke perutnya. Perutnya pun kembali bulat dan ia lantas tertidur.
Keesokan harinya, Ramses kembali terbangunkan oleh sengatan matahari. Ia pun hendak melakukan rutinitas seperti biasa. Hanya saja, hari ini ia merasa ada yang aneh. Ramses merasakan perutnya bergolak, dan ia merasa lapar.
Jika biasanya Ramses tak bisa melihat ujung kakinya hanya dengan menunduk, kali ini ia bisa melihatnya dengan jelas karena perutnya tiba-tiba seakan tak terisi apapun, yang ganjil lainnya adalah muncul bulu-bulu halus di antara perutnya yang sedikit menganga. Mungkin jahitan perutnya hancur saat ia tertawa, atau saat perutnya dijejali daging domba. Entahlah. Yang pasti, ia memutuskan mengubah kebiasaannya dengan menyembelih domba terlebih dahulu.
Dengan malas, Ramses membuka pintu secara perlahan. Ia hendak membuka mulutnya ketika ia mendapati ribuan domba membentuk barisan dengan masing-masing memegang perkakas. Sebagai seorang manusia yang masih memiliki pikiran, seketia ia pun menyadari dirinya dalam bahaya. Ramses hendak berbalik arah sementara ribuan domba itu berteriak menahannya melarikan diri. Domba-domba itu menyeretnya ke tengah hamparan rumput nan luas.
Seiring dengan cepatnya seretan tersebut, bulu-bulu halus di perut Ramses mulai menjalar ke bagian tubuhnya yang lain. Suasana siang itu tampak begitu mencekam ketika tiba-tiba lelaki itu digeletakkan di sebuah lobang yang hanya seukuran kepala manusia, lehernya ditempatkan di tengah-tengan lobang itu.
Pada saat yang sama, Ramses meraung, menjerit, dan meronta sebebas yang ia bisa. Tangan dan kakinya mulai diikat. Seekor domba yang akan bertindak sebagai penjagal menatapnya dengan tatapan iba, hanya saja ia merasa bahwa ini sudah menjadi kewajibannya. Golok yang tajam pun telah berada tepat di lehernya. Lelaki itu memejamkan mata, sementara ia merasakan tubuhnya sepenuhnya dipenuhi bulu-bulu lebat. Perutnya kembali membuncit, tangannya memanjang seukuran kaki, hingga ia tak bisa membayangkan bagaimana bentuk tubuhnya lagi saat golok itu sempurna membuat jantungnya tak lagi berdetak.
Di ujung hidupnya, samar-samar lelaki itu mendengar suara seorang bapak, suara seorang yang berwibawa. Kata-kata yang keluar dari mulut bapak itu sangat lembut dan penuh keikhlasan, “Ismail, alhamdulillah kita telah melewati ujian itu”


*Astri Aitko

Tidak ada komentar:

Posting Komentar