Panas.
Kala itu matahari berada di puncak tertinggi, menyoroti ribuan domba yang
tersebar di hamparan lumput yang sangat luas. Domba-domba itu tengah menyantap rumput yang telah dimasak. Sementara di sisi lain, tampak danau yang masih
menyemburkan uapnya. Air danau yang panas itu biasa digunakan domba-domba untuk
mengolah rumput sebagai bahan makanan.
Diantara padang rumput
dan danau panas, terdapat sebuah rumah yang sangat megah. Rumah itu dibuat dari
material yang paling langka di dunia, dan rumah yang bagai istana itu hanya
dihuni oleh seorang lelaki bernama Ramses.
Seperti biasa, sang
pemilik rumah baru terlihat batang hidungnya ketika matahari berada di puncaknya.
Maka saat ini, lelaki tinggi besar itu tampak berada diantara bingkai pintu
yang menjulang tinggi. Ia merentangkan kedua tangan, menggeliatkan tubuhnya,
dan membuka mulut selebar yang ia bisa degan rambut yang masih tak tertata. Ya,
ia baru saja bangun.
Kawanan domba itu
memperhatikan Ramses. Mereka tahu apa yang harus dilakukan setelah laki-laki itu
keluar rumah, karena hal ini sudah menjadi rutinitas mereka selama ratusan
tahun terakhir.
Tak lama kemudian,
lelaki itu berjalan dengan agak sempoyongan ke arah gudang di samping rumahnya.
Gudang itu penuh sesak oleh perkakas yang tak terhitung jumlahnya, dari yang
ukuan terkecil sampai yang paling besar. Maka seperti biasa, ribuan domba yang
tadinya melakukan aktifitas masing-masing pun mulai mengantre.
Satu persatu, berbagai jenis
perkakas itu ia lemparkan. Dengan sigap domba-domba pun menangkapnya. Bagi ribuan
domba itu, tangkapan menentukan hidup dan mati mereka. Tak jarang, ketika ada
domba yang tak bisa menangkap, perkakas yang dilemparkan Ramses malah mengenai
bagian tubuhnya. Mungkin kepala, perut, punggung, atau apapun.
Kejadian ini justru merupakan hiburan bagi
Ramses. Ia bisa tertawa menggelegar menyaksikan domba yang terkapar dengan
darah mengucur dari tubuhnya yang tertancap perkakas. Sementara domba-domba
yang lain menatap iba.
Domba terakhir yang
mengantre, selalu mendapatkan tugas yang sama yaitu memasak domba-domba yang
tak berhasil menangkap perkakas. Hari ini ada tujuh domba yang akan dimasak.
Karena harus menghabiskan olahan domba itu sendirian, lelaki itu pun melakukan
rutinitasnya sebelum makan besar: mengeluarkan isi perut.
Rutinitas itu berlangsung
selama domba yang berperan sebagai chef,
sedang mengolah domba yang akan ia santap. Sedikit demi sedikit, ia mengiriskan
pisau tajam ke perutnya. Seiring dengan irisan tersebut, cairan lemak mulai
membasahi perut dan seakan menjadi pelumas untuk memudahkan irisan selanjutnya.
Perlahan-lahan perutnya
mulai menganga. Bau busuk mulai tercium. Darah merah pekat disertai nanah
mengucur tak terkendali dan menggenang di ruangan tempat ia melakukan ritual
tersebut. Puluhan lalat mulai berhamuran masuk ke dalam ruangan, seketika bau
busuk memenuhi ruangan gelap yang minim fentilasi itu. Namun si lelaki malah
tampak sangat menikmati momen itu. Ia kembali tertawa memperlihatkan deretan
giginya yang runcing dan mulai membusuk.
Tak ingin membiarkan
isi perutnya habis dimakan lalat, ia pun memanggil anjing liar kesayangannya. Seketika
sang anjing liar yang ia pelihara pun menjulurkan lidah, di sisi-sisi mulutnya
tampak liur yang kental.
Anjing itu langsung
menjilati wajah tuannya, disambut tawa si lelaki yang semakin menggema di
ruangan gelap itu. Dengan lahap, si anjing pun memakan daging busuk yang telah
sehari bermukim di perut besar Ramses.
Setelah ritual itu
selesai, Ramses kembali memasukkan usus yang sebelumnya terurai di lantai. Hingga
di tahap terakhir, ia menjahit perutnya lagi untuk kembali disinggahi daging domba.
Tiga jam berlalu, si domba
belum mengantarkan menu makan malamnya. Maka ia pun menunggu dengan menonton
tv. Yang muncul di setiap stasiun televisi adalah domba dengan nama yang
berbeda. Hal ini pun membuatnya tertawa. Bagaimana mungkin setiap domba memiliki
nama yang berbeda. Sementara baginya, domba-domba itu berwajah dan berkelakuan
sama. Tidak ada bedanya.
Setiap malam di waktu
yang sama, tawanya menggema di sudut ruangan. Ramses selalu menertawakan hal
yang sama, membuatnya kembali memperlihatkan deretan gigi runcingnya. Bahunya
naik-turun seiring kuatnya suara tawa. Jahitan di perutnya hampir saja robek
kalau saja ia tidak menghentikan tawanya.
Pemandangan ini tampak
ganjil. Ramses tiba-tiba murung, jauh berbeda dengan ekspresi puas nan bahagia
sedetik yang lalu. Kali ini ia menatap layar televisi dengan tatapan kosong. Pikirannya
melayang ke ratusan tahun silam, ketika bumi masih dipenuhi oleh milyaran
manusia. Saat barang-barang canggih selalu diciptakan oleh mahluk yang disebut
manusia, bukan domba.
Ya, selama ratusan
tahun terakhir, lelaki itu adalah satu-satunya manusia yang menghuni planet
bumi. Selebihnya adalah hewan-hewan, dan yang paling mendominasi adalah domba.
Masa punahnya manusia
adalah ketika jumlah wanita jauh lebih banyak dari laki-laki, dan manusia
saling membunuh. Manusia terakhir yang tersisa adalah Ramses. Itupun berkat
otak licik yang dimilikinya.
Tiba-tiba, ia kembali
merindukan saat-saat ketika ia bisa menggunakan otaknya untuk mencuri milyaran
rupiah uang manusia lain. Ya, ketika uang menjadi benda yang sangat berharga.
Ramses kembali tertawa.
kali ini menertawakan kerinduannya. Bukankah ini yang selama ratusan tahun ia
cari? Kekuasaan yang tak perlu lagi terbebani oleh pikiran-pikiran lain?
Ditengah tawanya, domba
pesuruh pun datang mengantarkan daging pesanan tuannya. Maka dengan lahap,
tujuh domba yang telah diolah itu beralih tempat ke perutnya. Perutnya pun
kembali bulat dan ia lantas tertidur.
Keesokan harinya, Ramses
kembali terbangunkan oleh sengatan matahari. Ia pun hendak melakukan rutinitas
seperti biasa. Hanya saja, hari ini ia merasa ada yang aneh. Ramses merasakan
perutnya bergolak, dan ia merasa lapar.
Jika biasanya Ramses tak
bisa melihat ujung kakinya hanya dengan menunduk, kali ini ia bisa melihatnya
dengan jelas karena perutnya tiba-tiba seakan tak terisi apapun, yang ganjil
lainnya adalah muncul bulu-bulu halus di antara perutnya yang sedikit menganga.
Mungkin jahitan perutnya hancur saat ia tertawa, atau saat perutnya dijejali
daging domba. Entahlah. Yang pasti, ia memutuskan mengubah kebiasaannya dengan
menyembelih domba terlebih dahulu.
Dengan malas, Ramses
membuka pintu secara perlahan. Ia hendak membuka mulutnya ketika ia mendapati
ribuan domba membentuk barisan dengan masing-masing memegang perkakas. Sebagai seorang
manusia yang masih memiliki pikiran, seketia ia pun menyadari dirinya dalam
bahaya. Ramses hendak berbalik arah sementara ribuan domba itu berteriak
menahannya melarikan diri. Domba-domba itu menyeretnya ke tengah hamparan
rumput nan luas.
Seiring dengan cepatnya
seretan tersebut, bulu-bulu halus di perut Ramses mulai menjalar ke bagian
tubuhnya yang lain. Suasana siang itu tampak begitu mencekam ketika tiba-tiba
lelaki itu digeletakkan di sebuah lobang yang hanya seukuran kepala manusia,
lehernya ditempatkan di tengah-tengan lobang itu.
Pada saat yang sama,
Ramses meraung, menjerit, dan meronta sebebas yang ia bisa. Tangan dan kakinya
mulai diikat. Seekor domba yang akan bertindak sebagai penjagal menatapnya
dengan tatapan iba, hanya saja ia merasa bahwa ini sudah menjadi kewajibannya. Golok
yang tajam pun telah berada tepat di lehernya. Lelaki itu memejamkan mata,
sementara ia merasakan tubuhnya sepenuhnya dipenuhi bulu-bulu lebat. Perutnya kembali
membuncit, tangannya memanjang seukuran kaki, hingga ia tak bisa membayangkan
bagaimana bentuk tubuhnya lagi saat golok itu sempurna membuat jantungnya tak
lagi berdetak.
Di ujung hidupnya,
samar-samar lelaki itu mendengar suara seorang bapak, suara seorang yang
berwibawa. Kata-kata yang keluar dari mulut bapak itu sangat lembut dan penuh
keikhlasan, “Ismail, alhamdulillah kita telah melewati ujian itu”
*Astri Aitko
Tidak ada komentar:
Posting Komentar