Selasa, 25 November 2014

CERPEN: Maafkan.



Tok..tok..tok...
Sekali lagi, nafasmu beradu dengan suara ketukan di pintu. Kau lihat pergelangan tanganmu, 07:45.
“Aisshh,” kau mendengus, mengutuk dirimu sendiri yang untuk kesekian kalinya terlambat selama lebih dari setengah jam.
“Masuk,” terdengar suara berat dari dalam ruangan.
Kau langkahlan kaki dengan canggung. Kedua belah tanganmu beradu, saling menguatkan satu sama lain.
“Izin masuk, Pak,” lagi, kalimat yang telah begitu kau hafal, meluncur dari mulutmu.
Yang kau ajak bicara hanya mengangguk. Ia tak langsung melanjutkan pembicaraan. Kau membuat konsentrasinya terganggu. Daripada mengingat apa yang hendak ia ucapkan, kehadiranmu justru mengingatkannya pada kejadian puluhan tahun silam, ketika dia masih berada di ‘posisimu’.
Ia ingat betapa banyak waktu istirahat yang harus ia korbankan hanya untuk bisa masuk kelas tepat waktu. Di masanya, alangkah pentingnya arti kedisiplinan; dan di masamu, alangkah pentingnya inovasi cara mendidik, agar tidak salah di mata hukum.
Kamu menyadari itu. Maka, untuk kesekian kalinya, kau mengembuskan nafas. Malu...



*Tulisan ini kubuat tepat di penghujung hari guru.
 

Kamis, 13 November 2014

*KANGEN



Duar!
Petir membelah langit siang ini, gelegarnya membuat hati kebanyakan manusia bergetar, kembali mengingatkan adanya Tuhan dan kematian. Semut dan hewan-hewan kecil mengintip dibawah rumput, menutup telinga, takut petir berikutnya menyusul.
Mendung semakin menghitam, butir-butir air mulai menetes dari langit. Semakin deras... deras... dan akhirnya sempurna membasahi bumi.
Bau tanah, aspal, dan sampah di selokan mulai tercium, kesemuanya berbaur membentuk aroma yang khas. Para pengendara motor silih berganti memarkir kendaraannya. Sebagian ikut berteduh dibawah kios pinggir jalan, sebagian lagi membuka jas hujan.
Aku mulai menapakkan kaki keluar dari kamar kost yang pengap ini. Sejenak kutengok kamar yang berantakan dibelakangku sebagai tanda pamit. Kulihat beberapa butir air menetes melalui celah genteng yang tak tertutup rapat, seakan ingin memberi tahu pada benda-benda yang mengisi kamarku bahwa hujan mulai turun.
Perlahan kututup pintu dan meninggalkan kamarku sendirian dalam kebisuan. Sepulangnya nanti, mungkin akan kulihat kamar kostku kebanjiran. Atau mungkin justru sebaliknya, air yang menggenang telah dikeringkan oleh tikus dan kecoa yang sudah setahun ini ikut menginap di dalamnya.
Kulangkahkan kaki menaiki tangga yang tak beratap. Tangga itu biasanya kami—penghuni kos-kosan—gunakan menuju tempat menjemur pakaian. Kulihat pinggiran tangga itu mulai berlumut, seakan keberadaannya tak dipedulikan, meskipun sangat dibutuhkan.
Air mulai mengguyur tubuhku. Kerudung tipisku tak lagi berbentuk, kali ini fungsinya hanya untuk menahan air agar tidak langsung menyambar rambut. Kutengadahkan kepalaku, mencari sosok yang menumpahkan ribuan liter air ini dari langit. Bulu mata melindungi bola mataku dari serangannya. Pedih, tapi bibirku justru tak bisa menahan senyum. Aku sangat menikmati momen ini.
Kembali kuayun kaki yang tak beralas, anak tangga yang cukup tinggi ini mulai kutemui ujungnya.
Tibalah aku di tempat tujuan...
Kulihat sekeliling, beberapa pakaian yang tak diangkat telah basah sempurna, air menggenang di sebagian lantainya yang tak terawat.. kabut semakin menyempitkan penglihatan. Dan aku, disini, merasa bahagia...
Kusandarkan tanganku di pagar besi yang mulai berkarat. Dari atas sini, aku bisa melihaat atap gedung tempatku kuliah. Aku mulai tertawa kecil.. Kuingat kenakalanku di smester awal menjadi mahasiswa. ‘Gedung fakultas telah kutaklukkan’ batinku, seraya kembali tertawa.
Kembali kusebarkan pandangan. Hujan semakin deras. Petir-petir kecil mewarnai langit yang kosong. Lembut dan dinginnya kabut sesekali menyapa, diantarkan angin menuju pori-pori kulitku.
Searah dengan bahu kananku, terbentang pesawahan yang tak begitu luas. Di pinggirnya terdapat jalanan dan perumahan. Otakku kembali memunculkan memori malam itu. Malam ketika aku dan seorang penyair menyusuri jalanan menuju kamar yang kusewa. Malam itu kami pulang bersama dari sanggar kesenian. Entah mengapa rasanya jarang kuselami malam seindah itu. Bintang-bintang bertaburan mengelilingi rajanya malam, dan kesunyian tak membuatku takut. Ia, seseorang yang banyak memberiku pelajaran, meskipun tak lama aku mengenalnya.
Kuhembuskan nafas panjang, hatiku berterima kasih untuk apa yang telah ia beri, meskipun ia sama sekali belum menerima apapun.
Menit berikutnya, kulihat dibawah sana beberapa orang berlarian mencari tempat berteduh. Mulailah aku merasa ada yang aneh dengan diriku, karena saat ini aku justru menyuguhkan ragaku diserang milyaran butir kristal air.
Menit berikutnya, menit berikutnya, dan menit berikutnya, tempat-tempat yang kulihat kembali mengingatkan apa yang telah kualami disana.
            Namun, seketika, keliaran penglihatanku terganggu oleh bayangan gunung yang terlukis diantara putihnya kabut. Kulihat, warna biru terlukis dengan begitu lembut. Pandanganku mencoba menembus sesuatu dibaliknya.
Kulihat mata bulat itu, kulihat tetesan air dari celah rambut itu, kurasakan embusan nafas bertempo cepat itu, kurasakan beban berat di pundak kecil itu. Kulihat celana basah itu. Hingga kudengar rengekan karena tak dijemput itu. Adikku...
            Lama, mataku tak mau beralih dari apa yang sedang ia jelajahi. Kerinduan terhadap kampung halaman merebut kebahagiaan siang ini. Kelembutan gunung itu membuatku merasa ada jarak yang begitu luas yang memisahkanku darinya.
Kali ini pandanganku menelisik pesawahan yang begitu luas, dibingkai pegunungan di kanan-kirinya. Ayam-ayam yang bebas berkeliaran kesana-kemari, domba-domba yang tak henti meneriakan rasa lapar, kodok yang tak segan bertamu dikala hujan, hinga capung yang masih bertahan hidup. Ah... aku begitu merindukan kampungku.
Terlebih disana, di kampung halamanku, ada dia, sosok yang sangat kurindukan....


 
 



*Semoga kamu tumbuh dengan baik...