Duar!
Petir membelah langit
siang ini, gelegarnya membuat hati kebanyakan manusia bergetar, kembali
mengingatkan adanya Tuhan dan kematian. Semut dan hewan-hewan kecil mengintip
dibawah rumput, menutup telinga, takut petir berikutnya menyusul.
Mendung semakin
menghitam, butir-butir air mulai menetes dari langit. Semakin deras... deras...
dan akhirnya sempurna membasahi bumi.
Bau tanah, aspal, dan
sampah di selokan mulai tercium, kesemuanya berbaur membentuk aroma yang khas. Para
pengendara motor silih berganti memarkir kendaraannya. Sebagian ikut berteduh
dibawah kios pinggir jalan, sebagian lagi membuka jas hujan.
Aku mulai menapakkan
kaki keluar dari kamar kost yang pengap ini. Sejenak kutengok kamar yang
berantakan dibelakangku sebagai tanda pamit. Kulihat beberapa butir air menetes
melalui celah genteng yang tak tertutup rapat, seakan ingin memberi tahu pada
benda-benda yang mengisi kamarku bahwa hujan mulai turun.
Perlahan kututup pintu
dan meninggalkan kamarku sendirian dalam kebisuan. Sepulangnya nanti, mungkin
akan kulihat kamar kostku kebanjiran. Atau mungkin justru sebaliknya, air yang
menggenang telah dikeringkan oleh tikus dan kecoa yang sudah setahun ini ikut
menginap di dalamnya.
Kulangkahkan kaki menaiki
tangga yang tak beratap. Tangga itu biasanya kami—penghuni kos-kosan—gunakan menuju
tempat menjemur pakaian. Kulihat pinggiran tangga itu mulai berlumut, seakan
keberadaannya tak dipedulikan, meskipun sangat dibutuhkan.
Air mulai mengguyur
tubuhku. Kerudung tipisku tak lagi berbentuk, kali ini fungsinya hanya untuk
menahan air agar tidak langsung menyambar rambut. Kutengadahkan kepalaku, mencari
sosok yang menumpahkan ribuan liter air ini dari langit. Bulu mata melindungi
bola mataku dari serangannya. Pedih, tapi bibirku justru tak bisa menahan
senyum. Aku sangat menikmati momen ini.
Kembali kuayun kaki
yang tak beralas, anak tangga yang cukup tinggi ini mulai kutemui ujungnya.
Tibalah aku di tempat tujuan...
Kulihat sekeliling,
beberapa pakaian yang tak diangkat telah basah sempurna, air menggenang di
sebagian lantainya yang tak terawat.. kabut semakin menyempitkan penglihatan. Dan
aku, disini, merasa bahagia...
Kusandarkan tanganku di
pagar besi yang mulai berkarat. Dari atas sini, aku bisa melihaat atap gedung
tempatku kuliah. Aku mulai tertawa kecil.. Kuingat kenakalanku di smester awal
menjadi mahasiswa. ‘Gedung fakultas telah kutaklukkan’ batinku, seraya kembali
tertawa.
Kembali kusebarkan
pandangan. Hujan semakin deras. Petir-petir kecil mewarnai langit yang kosong. Lembut
dan dinginnya kabut sesekali menyapa, diantarkan angin menuju pori-pori
kulitku.
Searah dengan bahu
kananku, terbentang pesawahan yang tak begitu luas. Di pinggirnya terdapat
jalanan dan perumahan. Otakku kembali memunculkan memori malam itu. Malam ketika
aku dan seorang penyair menyusuri jalanan menuju kamar yang kusewa. Malam itu
kami pulang bersama dari sanggar kesenian. Entah mengapa rasanya jarang
kuselami malam seindah itu. Bintang-bintang bertaburan mengelilingi rajanya
malam, dan kesunyian tak membuatku takut. Ia, seseorang yang banyak memberiku
pelajaran, meskipun tak lama aku mengenalnya.
Kuhembuskan nafas
panjang, hatiku berterima kasih untuk apa yang telah ia beri, meskipun ia sama
sekali belum menerima apapun.
Menit berikutnya, kulihat
dibawah sana beberapa orang berlarian mencari tempat berteduh. Mulailah aku
merasa ada yang aneh dengan diriku, karena saat ini aku justru menyuguhkan
ragaku diserang milyaran butir kristal air.
Menit berikutnya, menit
berikutnya, dan menit berikutnya, tempat-tempat yang kulihat kembali
mengingatkan apa yang telah kualami disana.
Namun,
seketika, keliaran penglihatanku terganggu oleh bayangan gunung yang terlukis
diantara putihnya kabut. Kulihat, warna biru terlukis dengan begitu lembut. Pandanganku
mencoba menembus sesuatu dibaliknya.
Kulihat mata bulat itu,
kulihat tetesan air dari celah rambut itu, kurasakan embusan nafas bertempo
cepat itu, kurasakan beban berat di pundak kecil itu. Kulihat celana basah itu.
Hingga kudengar rengekan karena tak dijemput itu. Adikku...
Lama,
mataku tak mau beralih dari apa yang sedang ia jelajahi. Kerinduan terhadap
kampung halaman merebut kebahagiaan siang ini. Kelembutan gunung itu membuatku
merasa ada jarak yang begitu luas yang memisahkanku darinya.
Kali ini pandanganku
menelisik pesawahan yang begitu luas, dibingkai pegunungan di kanan-kirinya. Ayam-ayam
yang bebas berkeliaran kesana-kemari, domba-domba yang tak henti meneriakan
rasa lapar, kodok yang tak segan bertamu dikala hujan, hinga capung yang masih
bertahan hidup. Ah... aku begitu merindukan kampungku.
Terlebih disana, di kampung halamanku,
ada dia, sosok yang sangat kurindukan....
*Semoga kamu tumbuh dengan baik...