Pemandangan tak biasa
menyambut kedatangan sekelompok pemuda yang tergabung dalam komunitas JAKATARUB
(Jaringan Kerja Antar Ummat Beragama) sejak memasuki wilayah Lembang, Bandung,
pada Minggu 26 Oktober 2014. Sejauh mata memandang, terlihat pegunungan yang
diselimuti hijaunya dedaunan, dengan dihiasi beberapa pemukiman di lerengnya.
Udara dingin mulai menyergap. Meski terik, kesejukan masih mendominasi. Suasana
seperti ini tentu sangat berbeda jika dibandingkan dengan penatnya sebagian
besar wilayah Bandung.
Setelah sekitar satu
jam menyusuri jalanan yang menanjak dengan tikungan yang cukup tajam, tibalah
mereka pada suatu tempat bernama Kp. Ciputri, Desa Wangunharja, Kec.
Lembang-Bandung.
Eden, salah satu
panitia pelaksanaan acara Seren Taun menyambut baik kedatangan mereka. Seren
Taun merupakan sebuah acara yang dilaksanakan sebagai peringatan tahun baru
Saka. Dimaknai sebagai pengucapan syukur pada tahun sebelumnya, agar kehidupan
di tahun berikutnya bisa lebih baik.
Terlihat puluhan orang yang
menamakan dirinya anggota komunitas Budidaya, atau juga dikenal dengan kelompok
yang berkepercayaan Penghayat. Mereka berkumpul dengan mengenakan pakaian serba
hitam atau pakaian beradat sunda. Beberapa orang memimpin jalannya acara yang
mereka sebut Ngaruat Hulu Cai
(‘membersihkan’ mata air), sebagai salah satu rangkaian acara Seren Taun. Ngaruat
hulu cai dimaknai sebagai pengungkapan rasa terima kasih pada air yang telah
memberikan kehidupan, dengan tanpa pamrih.
Sejak acara itu
dimulai, di dekat mata air telah disimpan berbagai jenis hasil bumi sebagai
simbol rasa terima kasih mereka terhadap kebaikan alam.
Jika selama ini Seren
Taun dikenal dengan ungkapan syukur terhadap hasil bumi berupa padi, di Kampung
Ciputri ini rasa syukur diberikan terhadap hasil bumi berupa sayur-mayur.
Perbedaan ini dikarenakan kondisi wilayah dan hasil bumi yang memang berbeda.
Yang menjadi persamaan adalah, mereka masih sangat peduli dan sangat menghargai
kebaikan alam. Terlihat dari keasrian yang masih terjaga di kampung tersebut.
Tidak hanya menjaga
alam, mereka juga tetap melestarikan budaya sunda yang diwariskan oleh
leluhurnya. Terbukti dengan ditampilkannya berbagai kesenian sunda baik oleh
tetua kampung maupun anak-anak.
Tania, seorang warga
kebangsaan Australia yang juga aktif mengikuti kegiatan komunitas JAKATARUB, mengungkapkan
apresiasinya terhadap acara Seren Taun ini. Karena baginya, inilah yang menjadi
daya tarik Indonesia. Tetap dilestarikannya berbagai kepercayaan dan warisan
budaya dari leluhur bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar