Rabu, 12 November 2014

FEATURE (?) Seren Taun



Pemandangan tak biasa menyambut kedatangan sekelompok pemuda yang tergabung dalam komunitas JAKATARUB (Jaringan Kerja Antar Ummat Beragama) sejak memasuki wilayah Lembang, Bandung, pada Minggu 26 Oktober 2014. Sejauh mata memandang, terlihat pegunungan yang diselimuti hijaunya dedaunan, dengan dihiasi beberapa pemukiman di lerengnya. Udara dingin mulai menyergap. Meski terik, kesejukan masih mendominasi. Suasana seperti ini tentu sangat berbeda jika dibandingkan dengan penatnya sebagian besar wilayah Bandung.
Setelah sekitar satu jam menyusuri jalanan yang menanjak dengan tikungan yang cukup tajam, tibalah mereka pada suatu tempat bernama Kp. Ciputri, Desa Wangunharja, Kec. Lembang-Bandung.
Eden, salah satu panitia pelaksanaan acara Seren Taun menyambut baik kedatangan mereka. Seren Taun merupakan sebuah acara yang dilaksanakan sebagai peringatan tahun baru Saka. Dimaknai sebagai pengucapan syukur pada tahun sebelumnya, agar kehidupan di tahun berikutnya bisa lebih baik.
Terlihat puluhan orang yang menamakan dirinya anggota komunitas Budidaya, atau juga dikenal dengan kelompok yang berkepercayaan Penghayat. Mereka berkumpul dengan mengenakan pakaian serba hitam atau pakaian beradat sunda. Beberapa orang memimpin jalannya acara yang mereka sebut Ngaruat Hulu Cai (‘membersihkan’ mata air), sebagai salah satu rangkaian acara Seren Taun. Ngaruat hulu cai dimaknai sebagai pengungkapan rasa terima kasih pada air yang telah memberikan kehidupan, dengan tanpa pamrih.
Sejak acara itu dimulai, di dekat mata air telah disimpan berbagai jenis hasil bumi sebagai simbol rasa terima kasih mereka terhadap kebaikan alam.
Jika selama ini Seren Taun dikenal dengan ungkapan syukur terhadap hasil bumi berupa padi, di Kampung Ciputri ini rasa syukur diberikan terhadap hasil bumi berupa sayur-mayur. Perbedaan ini dikarenakan kondisi wilayah dan hasil bumi yang memang berbeda. Yang menjadi persamaan adalah, mereka masih sangat peduli dan sangat menghargai kebaikan alam. Terlihat dari keasrian yang masih terjaga di kampung tersebut.
Tidak hanya menjaga alam, mereka juga tetap melestarikan budaya sunda yang diwariskan oleh leluhurnya. Terbukti dengan ditampilkannya berbagai kesenian sunda baik oleh tetua kampung maupun anak-anak.
Tania, seorang warga kebangsaan Australia yang juga aktif mengikuti kegiatan komunitas JAKATARUB, mengungkapkan apresiasinya terhadap acara Seren Taun ini. Karena baginya, inilah yang menjadi daya tarik Indonesia. Tetap dilestarikannya berbagai kepercayaan dan warisan budaya dari leluhur bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar