RETORIKA
DAN RELEVANSINYA
BAGI
KEHIDUPAN MANUSIA
(diajukan
untuk memenuhi tugas akhir matakuliah retorika)
Disusun oleh :
Astri
Oktia Indriyani (1131020009)
Perandingan
Agama Smester II (dua/A)
PROGRAM
STUDI PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS
USHULUDDIN
UNIVERSITAS
ISLAM
NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur mari kita panjatkan ke hadirat Allah SWT,karena atas izin-Nya ksaya dapat menyelesaikan makalahyang berjudul ”Retorika dan Relevansinya bagi Kehidupan Manusia”. Makalah ini
disusun sebagai tugas akhir pada matakuliah Retorika.
Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan ucapan
terimakasih kepada Bapak dosen mata kuliah Retorikayang telah memberi masukan
dan nasehatnya.
Sayamenyadaripenulisankaryatulisinimasihbelumsempurna,
untukitusaya mengharapkankritikdan
saran yang sifatnyamembangundariBapakdosenkhususnya, umumnyadariparapembaca
demi lebihbaiknyakarya-karyatulis yang selanjutnya.
Akhirnya, semogamakalah yang saya tulisinidapatmemberikanmanfaatbagisemuapembaca.
Amin..
Bandung, 9 Juni 2014
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftarisi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang
1.2 RumusanMasalah
1.3 TujuanPenulisanMakalah
1.4 ManfaatPenulisanMakalah
1.5 MetodePenelitianMakalah
BAB II ISI
2.1 Pengertian Retorika dan Sejarah Kemunculannya
2.2 Tujuan dan Fungsi Retorika
2.3 Contoh Pengaplikasian Retorika dalam Kehidupan Manusia
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Pada
umumnya, berbicara merupakan kemampuan alami yang dimiliki oleh setiap manusia.
Seorang bayi yang baru lahir tidak perlu diajari bagaimana cara menangis,
karena itu merupakan kemampuan berbicara tahap pertama, yaitu melalui isyarat
tangisan. Kemampuan berbicara ini terus berkembang sesuai dengan
perkembangannya. Cara ia mengenal bahasa adalah dengan meniru. Bahasa yang
digunakan oleh lingkungan akan mempengaruhi cara ia bebicara. Mulai dari
intonasi, hingga jenis bahasa yang ia gunakan.
Jika
seorang anak hidup dalam lingkungan yang orang tuanya berbahasa yang baik, maka
besar kemungkinan bahwa di masa yang akan datang ia tumbuh menjadi seseorang
yang setiap kata yang ia ucapkan bisa ‘membius’ mereka yang mendengarkan. Ini
adalah kemampuan berbahasa yang alami yang dimiliki oleh seseorang, karena ia
belajar dari lingkungan yang dimulai sejak ia baru mengenal bahasa.
Hanya
saja, tidak semua anak lahir dari lingkungan yang baik bahasanya. Sehingga,
kemungkinan ia tumbuh dengan bahasa yang tidak baik pula. Namun sebenarnya
tidak menutup kemungkian bahwa seseorang yang tumbuh di lingkungan seperti ini
akan memiliki bahasa yang baik. Karena cara berbicara yang baik ini bisa
dipelajari dengan seni bahasa yang disebut retorika.
Karena
alasan tidak semua anak lahir di lingkungan yang berbahasa yang baik, dan
betapa pentingnya seni berbicara dalam kehidupan manusia inilah, saya mengambil
judul makalah “Retorika dan Relevansinya
bagi Kehidupan Manusia”, agar kita yang teralahir di lingkungan yang tidak
baik bahasanya, di kemudian hari dapat mengguakan bahasa yang baik dengan cara
mempelajari retorika.
1.2 RumusanMasalah
Berdasarkan
latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan rumusan masalah sebagai
berikut,
1.2.1
Apa yang dimaksud dengan
retorika, dan bagaimana sejarah kemunculannya?
1.2.2
Apatujuan
dan fungsi retorika?
1.2.3
Bagaimana contoh
pengaplikasian retorika dalam kehidupan manusia?
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
Sejalan
dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk:
1.3.1
Mengetahuisejarah
kemunculan dan pengertianretorika;
1.3.2
Mengetahuitujuan
dan fungsi retorika;
1.3.3
Mengetahuicontoh
pengaplikasian retorika dalam kehidupan masusia.
1.4 ManfaatPenulisanMakalah
Makalah
ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoretis maupun
praktis. Secara teoretis makalah ini berguna untuk mengembangkan konsep
penelitian mengenai gambaran tentang retorika dan relevansinya bagi kehidupan
manusia. Secara praktis makalah ini diharapkan bisa bermanfaat bagi:
1.4.1
Penulis, sebagai wahana
penambah pengetahuan dan konsep keilmuan. Khususnya tentang konsep penelitian
masalah-masalah pentingnya seni berbicara dalam kehidupan manusia.
1.4.2
Pembaca, sebagai media
informasi untukmenambahpengetahuantentang
retorika dan relevansinya bagi kehidupan manusia.
1.5 Metode Penelitian Makalah
Makalah ini disusun dengan menggunakan
pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode deskritif. Melalui
metode ini penulis akan menguraikan permasalahan yang dibahas secara jelas dan
konprehensif. Data teoretis dalam makalah ini dikumpulkan dengan menggunakan
teknik studi pustaka, artinya penulis mengambil data melalui kegiatan membaca
berbagai literatur yang relevan dengan tema makalah. Data tersebut diolah
dengan teknik analisis isi melalui mengeksposisikan data serta mengaplikasikan
data tersebut dalam konteks tema makalah.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Retorika dan Sejarah Kemunculannya
Retorika
atau dalam bahasa inggris rhetoricbersumber
dari bahasa latin rhetoricayang
berarti ilmu bicara[1].
Cleanth Brooks
dan Robert Penn Warren dalam bukunya, Modern
Rhetoric, mendefinisikan retorika sebagai the art of using language effectively atau seni penggunaan bahasa
secara efektif[2].
Kedua pengertian
tersebut menunjukkan bahwa retorika mempunyai pengertian sempit: mengenai bicara, dan pengertian luas:
penggunaan bahasa, bisa lisan, dapat juga tulisan.
Oleh karena itu, ada sebagian orang yang
mengartikan retorika sebagai public speaking atau pidato di depan umum, banyak
juga yang beranggapan bahwa retorika tidak hanya berarti pidato di depan umum,
tetapi juga termasuk seni menulis[3].
Sedangkan menurut Wahyono (1989:40),
yang dikutip oleh Arsjad (1988:4-5), bahwa pengertian retorika berdasarkan kaum
sofis adalah kepandaian memainkan ulasan, kefasihan berbahasa, pandai
memanfaatkan emosi penganggap tutur, keseluruhan tutur harus ditujukan untuk
mencapai kemenangan.[4]
Dedy
Djamaluddin Malik menuliskan bahwa Retorikaadalah teknik persaiapan,
penyusunan dan penyampaian pidato.
Sumber lain
menyebutkan bahwa retorika
adalah teknik pemakaian bahasa seni, yang didasarkan pada suatu pengetahuan
yang tersusun baik.Dua aspek penting dalam retorika adalah: pengetahuan
mengenai bahasa dan penggunaan bahasa dengan baik.Retorika menitiberatkan pada
seni oratori atau teknik berpidato[5].
Selain memiliki pengertian seperti yang telah disebutkan di
atas, retorika pun berarti seniuntuk “memanipulasi” percakapan (the art of
fake speech).
Dengan kata lain, bahwa seseorang yang menguasai seni berbicara ini, akan lebih
mudah mempengaruhi orang lain dibanding dengan mereka yang tidak berretorika
saat berbicara, karena itulah, retorika merupakan cikal bakal dari ilmu
komunikasi.
Onong Uchjana Effendy, dalam bukunya, Ilmu KomunikasiTeori dan Praktek (2006:53) menyebutkan: Sebagai cikal
bakal ilmu komunikasi, retorika mempunyai sejarah yang panjang. Para ahli
berpendapat bahwa retorika sudah ada sejak manusia ada. Akan tetapi, retorika
sebagai seni berbicara yang dipelajari dimulai pada abad kelima sebelum Masehi
ketika kaum Sofis di Yunani mengembara dari suatu tempat ke tempat yang lain
untuk mengajarkan pengetahuan mengenai politik dan pemerintahan dengan
penekanan terutama pada kemampuan berpidato. Pemerintah, menurut kaum Sofis,
harus berdasarkan suara terbanyak atau demokrasi sehingga perlu adanya usaha
membujuk rakyat demi kemenangan dalam pemilihan-pemilihan. Maka berkembanglah
seni pidato yang membenarkan pemutarbalikan kenyataan demi tercapainya
tujuan.yang penting, khalayak bisa tertarik perhatiannya dan terbujuk.
2.2
Tujuan dan Fungsi Retorika
Seperti yang
telah disebutkan di atas, bahwa retorika merupakan cikal bakal ilmu komunikasi.
Menurut Laswell, Komunikasi adalah proses yang
menggambarkan siapa mengatakan dengan cara apa, kepada siapa dengan efek apa.
Sedangkan Carl I Hovland berpendapat bahwa, komunikasi adalah proses dimana seorang
individu atau komunikator mengoperkan stimulan, biasanya dengan
lamabang-lambang bahasa (verbal maupun nonverbal) untuk mengubah tingkah laku
orang lain.[6]
Komunikasi yang
dilakukan manusia, seringkali tanpa pikir, sebenarnya merupakan kegiatan yang
pokok dalam kehidupan bermasyarakat atau sebagaimana yang dikatakan oleh
seorang tokoh komunikasi: bahwa “Communication is human existen ans social
proses”. Melalui komunikasi, seseorang dapat mempengaruhi dan mengubah tingkah
laku orang lain. Hal ini karena komunikasi merupakan suatu alat pembangunan,
alat integrasi, alat kekuasaan, dan untuk tu komunikasi penting diketahui,
dipahami serta dihayati oelh semua orang, khususnya untuk penyelenggaraan
pembangunan, sebab mereka lebih banyak berhadapan dan berhubungan dengan
pelaksanaan pembangungan dan masyarakat luas.[7]
Fungsi komuniasi
sendiri, menurut William I. Gorden yang ditulis ulang oleh Deddy Mulyana dalam
bukunya, ILMU KOMUNIKASI Suatu Pengantar
(2007:5), adalah sebagai: kominikasi sosial, komunikasi ekspresif, komunikasi
ritual, dan komunikasi instrumental.
Fungsi
komunikasi sebagai komunikasi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi
penting untuk membangun konsep diri kita, aktualisasi-diri, untuk kelangsungan
hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan,
antara lain lewat komunikasi yang menghibur, dan memupuk hubungan dengan orang
lain. Orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusiabisa dipastikan akan
“tersesat”, karena ia tidak sempat menata dirinya dalam suatu lingkungan sosial[8].
Erat kaitannya
dengan komunikasi sosial adalah komunikasi ekspresif yang dapat dilakukan baik
sendirian ataupun dalam kelompok. Komunikasi ekspresif tidak otomatis bertujuan
mempengaruhi orang lain, namun dapat dilakukan sejauh komunikasi tersebut
menjadi instrumen untuk menyampaikan perasaan-perasaan (emosi) kita[9].
Erat kaitannya
dengan komunikasi ekspresif adalah komuniasi ritual, yang biasanya dilakukan
secara kolektif. Suatu komunitas sering melakukan upacara-upacara berlainan
sepanjang tahun dan sepenjang hidup, yang disebut para antropolog sebagai rites of passage, mulai dari upacara
kelahiran hingga upacara kematian. Dalam acara-acara itu orang mengucapkan kata-kata
atau menampilkan perilaku-perilaku simbolik.[10]
Komunikasi
instrumental mempunyai beberapa tujuan umum: menginformasikan, mengejar,
mendorong, mengubah sikap dan keyakinan, dan mengubah perilaku atau
menggerakkan tindakan, dan juga menghibur. Bila diringkas, maka kesemua tujuan
tersebut dapat disebut membujuk (bersifat persuasif).[11]
Sedangkan tujuan retorika, menurut
Cahim Parelman, adalah untuk menebalkan
kesetiaan terhadap nilai-nilai, menciptakan disposisi bertindak, menuntun orang
bertindak.
I. A Ricahards (1965) dalam bukunya, The Philosophy of Rhetoric, bahwa tujuan retorika ialah untuk
membina berkembangnya saling pengertian, kerjasama dan kedamaian dalam
kehidupan masyarakat lewat kegiatan bertutur.
Adapun fungsi retorika menurut Forbes I Hill (1983), dalam
artikelnya, Rhetoric of Aristotle,
retorika yang dikembangkan Aristoteles pada dasarnya memiliki 4 fungsi, yaitu:
·
Menegakkan kebenaran dan keadilan;
·
Memberi informasi kepada orang kebanyakan;
·
Meyakinkan; dan
·
Mempertahankan diri dari ketidakadilan.
2.3
Contoh Pengaplikasian Retorika dalam Kehidupan Manusia
Retorika atau
yang dikenal juga dengan seni berbicara, berpidato, atau berorasi erat
kaitannya dengan pembangunan di suatu negara. Di Indonesia sendiri, kemampuan
seorang dalam berorasi sedikit banyaknya telah mempengaruhi masyarakat untuk
ikut serta dalam proses pembangunan.
Proses
pembangunan yang dilakukan suatu tokoh dengan menggunaan retorika, kadang kala
berbeda dalam penyampaiannya. Seperti yang menggunakan media wayang purwa
sebagai media komunikasinya.
Pandan Guritno
membahas potensi seni tradisional Indonesia, khususnya wayang purwa sebagai
sarana pembangunan. Pokok-pokok pikiran yang diajukan bagi pemanfaatan seni
tradisional ini bagi kepentingan pembangunan adalah:
1.
Terputusnya media
modern di kota-kota besar di indonesia, yang negaranya agraris;
2. Harga
mass media modern sepeti radio dan televisi yang jauh dari jangkauan masyarakat
desa;
3. Wayang
purwa dapat menjembatani jurang komunikasi antardesa dan kota; dan
4.
Yang terpenting, wayang
purwa dapat menyearkan berita-erita melalui dialognya, serta masih relevan
sebagai bentuk seni dan hiburan trasdisioal.[12]
Selain melalui
media kesenian, pembangunan lebih banyak dilakukan melalui proses politik.
Karena seorang politisi agar suaranya ‘didengar’, mau tidak mau harus menguasai
retorika. Seperti halnya pada masa kemunculannya.
Menurut ilmuan
politik Mark Roelofs bahwa politik adalah pembicaraan; atau lebih tepat,
kegiatan politik (‘berpolitik’) adalah berbicara. Ia menekankan bahwa politik
tidak hanya pembicaraan, juga tidak semua pembicaraan adalah politik. Akan
tetapi, “hakikat pengalaman politik, dan bukan hanya kondisi dasarnya, ialah
bahwa ia adalah kegiatan berkomunikasi antara orang-orang”[13]
Salah satu tokoh
politik indonesia yang juga dikenal karena retorikanya ialah Ir. Soekarno. Onong Uchjana Effendy dalam bukunya, Spektrum Komunikasi (1992:55)
menyatakan, Bung karno yang ternyata adalah pengagum Jean Jaures, oleh para
pakar, pidatonya dikenal sebagai “air terjun yang membongkar bukit-bukit
karang.” (een waterval die ritsen omvergooit).
Tokoh lain yang
juga mendunia adalah Obama. Obama, yang dikenal sebagai orang berkulit hitam pertama
yang bisa menguasai Negeri Paman Sam, adalah termasuk orang yang pandai
berbicara. Pandai berbicarabukan
dalam arti banyak omong, melainkan beliau mampu mengolah kata-kata sedemikian
rupa sehingga apa yang disampaikannya dapat menguasai alam bawah sadar
pendengar, mampu mengubah pola pikir mereka, dan kemudian mempengaruhinya
untuk seolah-olah mengiya-kan apapun yang dikatakan oleh Presiden AS ini.[14]
Selain beberapa contoh pengaplikasian retorika di atas,
contoh lain yang juga sangat dipengaruhi oleh retorika adalah pelaku media
massa. Seorang pembawa acara yang menyiarkan berita baik itu di televisi
ataupun radio, tentu sangat membutuhkan penguasaan terhadap retorika. Mereka
yang menyampaikan informasi dengan seni berbicara, akan mudah diterima
informasinya oleh pendengar.
Selain dalam bahasa lisan, retorika pun berperan penting
dalam bahasa tulisan, salah satunya dalam bidang sastra. Karena meskipun gaya
bahasa seorang sastrawan berbeda dan unik, namun ada beberapa kesamaan yang
dapat dipergunakan dan ini biasanya disebut sarana retorika (rhetorical
devices).[15]
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Retorika
merupakan seni berbicara yang telah ada sejak adanya manusia. Pemikiran ini
berdasar pada kebutuhan manusia akan pentingnya retorika agar dapat diterima
dengan baik oleh lingkungannya.
Pada tahap
selanjutnya, retorika menjadi cikal bakal munculnnya sebuah ilmu yang disebut
ilmu komunikasi.
Retorika selain
dikenal dengan seni berbicara, juga lebih menekankan pada seni berpidato.
Walaupun pada kenyataannya retorika tidak hanya berarti seni berbicara dalam
bahasa lisan, karena ia pun memiliki pengertian seni berbicara dalam bahasa
tulisan.
Salah satu
kegunaan retorika dalam bahasa lisan ialah untuk menjadikan orator yang baik.
Sedangkan dalam bahasa tulisan ialah untuk menjadikan seorang sastrawan yang
andal.
DAFTAR
REFERENSI
·
Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
·
Effendy, Onong Uchjana.
1992. Spektrum Komunikasi. Bandung:
Penerbit Mandar
Maju
·
Effendy, Onong Uchjana.
2006. Ilmu Komunikasi. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya
·
Nimmo, Dan. Komunikasi Politik. 2005. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya
·
Depari, Eduard dan
Colin Macandrews. Peran Komunikasi Masa
dalam
·
Widjaja, A. W.. Komunikasi (Komunikasi dan Hubungan
Masyarakat). 2008. Jakarta:
PT Bumi Aksara
·
Engkos Kosasih (PPT)
·
Dedy Djamaluddin Malik
(PPT)
[1] Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A., Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 53.
[2] Ibid,.
[3] Ibid,.
[7] Prof. Drs. H.A.W. Widjaja, Komunikasi (komunikasi dan hubungan
masyarakat), (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008), hlm.6
[8] Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph. D., ILMU KOMUNIKASI Suatu pengantar,
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), hlm.6
[9] Ibid. hlm. 24.
[10] Ibid. hlm. 27.
[11] Ibid. hlm. 33.
[12] Pandan guritno, wayang purwa as a medium of change” dalam
communication and rural hange, 1976, AMIC, singapore. Yang ditulis ulang oleh
Dr. Eduard Depari dan Dr. Colin Macandrews, Peran
Komunikasi Masa dalam Pembangunan, (Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press, 1998), hlm. 127.
[13] Gaye Talese, The Kingdom and The Power, The World Publishing Co., New
York, 1969 yang dikutip ulang oleh Dan Nimmo, Komunikasi Politik, (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2005) hlm. 8
Tidak ada komentar:
Posting Komentar