Kamis, 12 Juni 2014

MAKALAH : RETORIKA DAN RELEVANSINYA BAGI KEHIDUPAN MANUSIA

RETORIKA DAN RELEVANSINYA
BAGI KEHIDUPAN MANUSIA
(diajukan untuk memenuhi tugas akhir matakuliah retorika)







  

Disusun oleh :
Astri Oktia Indriyani (1131020009)
Perandingan Agama Smester II (dua/A)




PROGRAM STUDI PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2014



KATA  PENGANTAR




Puji syukur mari kita panjatkan ke hadirat  Allah SWT,karena atas izin-Nya ksaya dapat menyelesaikan makalahyang berjudul ”Retorika dan Relevansinya bagi Kehidupan Manusia”. Makalah ini disusun sebagai tugas akhir pada matakuliah Retorika.
Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada Bapak dosen mata kuliah Retorikayang telah memberi masukan dan nasehatnya.
Sayamenyadaripenulisankaryatulisinimasihbelumsempurna, untukitusaya mengharapkankritikdan saran yang sifatnyamembangundariBapakdosenkhususnya, umumnyadariparapembaca demi lebihbaiknyakarya-karyatulis yang selanjutnya.
Akhirnya, semogamakalah yang saya tulisinidapatmemberikanmanfaatbagisemuapembaca. Amin..







Bandung, 9 Juni 2014

Penulis





DAFTAR ISI



Kata Pengantar   
Daftarisi             

BAB I PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang      
1.2 RumusanMasalah 
1.3 TujuanPenulisanMakalah 
1.4 ManfaatPenulisanMakalah           
1.5 MetodePenelitianMakalah           

BAB II ISI
2.1 Pengertian Retorika dan Sejarah Kemunculannya
2.2 Tujuan dan Fungsi Retorika
2.3 Contoh Pengaplikasian Retorika dalam Kehidupan Manusia

BAB III PENUTUP
Kesimpulan        

DAFTAR PUSTAKA           














BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pada umumnya, berbicara merupakan kemampuan alami yang dimiliki oleh setiap manusia. Seorang bayi yang baru lahir tidak perlu diajari bagaimana cara menangis, karena itu merupakan kemampuan berbicara tahap pertama, yaitu melalui isyarat tangisan. Kemampuan berbicara ini terus berkembang sesuai dengan perkembangannya. Cara ia mengenal bahasa adalah dengan meniru. Bahasa yang digunakan oleh lingkungan akan mempengaruhi cara ia bebicara. Mulai dari intonasi, hingga jenis bahasa yang ia gunakan.
Jika seorang anak hidup dalam lingkungan yang orang tuanya berbahasa yang baik, maka besar kemungkinan bahwa di masa yang akan datang ia tumbuh menjadi seseorang yang setiap kata yang ia ucapkan bisa ‘membius’ mereka yang mendengarkan. Ini adalah kemampuan berbahasa yang alami yang dimiliki oleh seseorang, karena ia belajar dari lingkungan yang dimulai sejak ia baru mengenal bahasa.
Hanya saja, tidak semua anak lahir dari lingkungan yang baik bahasanya. Sehingga, kemungkinan ia tumbuh dengan bahasa yang tidak baik pula. Namun sebenarnya tidak menutup kemungkian bahwa seseorang yang tumbuh di lingkungan seperti ini akan memiliki bahasa yang baik. Karena cara berbicara yang baik ini bisa dipelajari dengan seni bahasa yang disebut retorika.
Karena alasan tidak semua anak lahir di lingkungan yang berbahasa yang baik, dan betapa pentingnya seni berbicara dalam kehidupan manusia inilah, saya mengambil judul makalah “Retorika dan Relevansinya bagi Kehidupan Manusia”, agar kita yang teralahir di lingkungan yang tidak baik bahasanya, di kemudian hari dapat mengguakan bahasa yang baik dengan cara mempelajari retorika.
         
1.2  RumusanMasalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut,
1.2.1        Apa yang dimaksud dengan retorika, dan bagaimana sejarah kemunculannya?
1.2.2        Apatujuan dan fungsi retorika?
1.2.3        Bagaimana contoh pengaplikasian retorika dalam kehidupan manusia?

1.3  Tujuan Penulisan Makalah
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk:
1.3.1        Mengetahuisejarah kemunculan dan pengertianretorika;
1.3.2        Mengetahuitujuan dan fungsi retorika;
1.3.3        Mengetahuicontoh pengaplikasian retorika dalam kehidupan masusia.

1.4  ManfaatPenulisanMakalah
Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoretis maupun praktis. Secara teoretis makalah ini berguna untuk mengembangkan konsep penelitian mengenai gambaran tentang retorika dan relevansinya bagi kehidupan manusia. Secara praktis makalah ini diharapkan bisa bermanfaat bagi:
1.4.1        Penulis, sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep keilmuan. Khususnya tentang konsep penelitian masalah-masalah pentingnya seni berbicara dalam kehidupan manusia.
1.4.2        Pembaca, sebagai media informasi untukmenambahpengetahuantentang retorika dan relevansinya bagi kehidupan manusia.

1.5    Metode Penelitian Makalah
Makalah ini disusun dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode deskritif. Melalui metode ini penulis akan menguraikan permasalahan yang dibahas secara jelas dan konprehensif. Data teoretis dalam makalah ini dikumpulkan dengan menggunakan teknik studi pustaka, artinya penulis mengambil data melalui kegiatan membaca berbagai literatur yang relevan dengan tema makalah. Data tersebut diolah dengan teknik analisis isi melalui mengeksposisikan data serta mengaplikasikan data tersebut dalam konteks tema makalah.


















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Retorika dan Sejarah Kemunculannya
            Retorika atau dalam bahasa inggris rhetoricbersumber dari bahasa latin rhetoricayang berarti ilmu bicara[1].
Cleanth Brooks dan Robert Penn Warren dalam bukunya, Modern Rhetoric, mendefinisikan retorika sebagai the art of using language effectively atau seni penggunaan bahasa secara efektif[2].
Kedua pengertian tersebut menunjukkan bahwa retorika mempunyai pengertian  sempit: mengenai bicara, dan pengertian luas: penggunaan bahasa, bisa lisan, dapat juga tulisan.
 Oleh karena itu, ada sebagian orang yang mengartikan retorika sebagai public speaking atau pidato di depan umum, banyak juga yang beranggapan bahwa retorika tidak hanya berarti pidato di depan umum, tetapi juga termasuk seni menulis[3].
Sedangkan menurut Wahyono (1989:40), yang dikutip oleh Arsjad (1988:4-5), bahwa pengertian retorika berdasarkan kaum sofis adalah kepandaian memainkan ulasan, kefasihan berbahasa, pandai memanfaatkan emosi penganggap tutur, keseluruhan tutur harus ditujukan untuk mencapai kemenangan.[4]
Dedy Djamaluddin Malik menuliskan bahwa Retorikaadalah teknik persaiapan, penyusunan dan penyampaian pidato.
Sumber lain menyebutkan bahwa retorika adalah teknik pemakaian bahasa seni, yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik.Dua aspek penting dalam retorika adalah: pengetahuan mengenai bahasa dan penggunaan bahasa dengan baik.Retorika menitiberatkan pada seni oratori atau teknik berpidato[5].
Selain memiliki pengertian seperti yang telah disebutkan di atas, retorika pun berarti seniuntuk “memanipulasi” percakapan (the art of fake speech). Dengan kata lain, bahwa seseorang yang menguasai seni berbicara ini, akan lebih mudah mempengaruhi orang lain dibanding dengan mereka yang tidak berretorika saat berbicara, karena itulah, retorika merupakan cikal bakal dari ilmu komunikasi.
Onong Uchjana Effendy, dalam bukunya, Ilmu KomunikasiTeori dan Praktek (2006:53) menyebutkan: Sebagai cikal bakal ilmu komunikasi, retorika mempunyai sejarah yang panjang. Para ahli berpendapat bahwa retorika sudah ada sejak manusia ada. Akan tetapi, retorika sebagai seni berbicara yang dipelajari dimulai pada abad kelima sebelum Masehi ketika kaum Sofis di Yunani mengembara dari suatu tempat ke tempat yang lain untuk mengajarkan pengetahuan mengenai politik dan pemerintahan dengan penekanan terutama pada kemampuan berpidato. Pemerintah, menurut kaum Sofis, harus berdasarkan suara terbanyak atau demokrasi sehingga perlu adanya usaha membujuk rakyat demi kemenangan dalam pemilihan-pemilihan. Maka berkembanglah seni pidato yang membenarkan pemutarbalikan kenyataan demi tercapainya tujuan.yang penting, khalayak bisa tertarik perhatiannya dan terbujuk.




2.2 Tujuan dan Fungsi Retorika
Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa retorika merupakan cikal bakal ilmu komunikasi.
Menurut Laswell, Komunikasi adalah proses yang menggambarkan siapa mengatakan dengan cara apa, kepada siapa dengan efek apa. Sedangkan Carl I Hovland berpendapat bahwa, komunikasi adalah proses dimana seorang individu atau komunikator mengoperkan stimulan, biasanya dengan lamabang-lambang bahasa (verbal maupun nonverbal) untuk mengubah tingkah laku orang lain.[6]
Komunikasi yang dilakukan manusia, seringkali tanpa pikir, sebenarnya merupakan kegiatan yang pokok dalam kehidupan bermasyarakat atau sebagaimana yang dikatakan oleh seorang tokoh komunikasi: bahwa “Communication is human existen ans social proses”. Melalui komunikasi, seseorang dapat mempengaruhi dan mengubah tingkah laku orang lain. Hal ini karena komunikasi merupakan suatu alat pembangunan, alat integrasi, alat kekuasaan, dan untuk tu komunikasi penting diketahui, dipahami serta dihayati oelh semua orang, khususnya untuk penyelenggaraan pembangunan, sebab mereka lebih banyak berhadapan dan berhubungan dengan pelaksanaan pembangungan dan masyarakat luas.[7]
Fungsi komuniasi sendiri, menurut William I. Gorden yang ditulis ulang oleh Deddy Mulyana dalam bukunya, ILMU KOMUNIKASI Suatu Pengantar (2007:5), adalah sebagai: kominikasi sosial, komunikasi ekspresif, komunikasi ritual, dan komunikasi instrumental.
Fungsi komunikasi sebagai komunikasi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi penting untuk membangun konsep diri kita, aktualisasi-diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara lain lewat komunikasi yang menghibur, dan memupuk hubungan dengan orang lain. Orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusiabisa dipastikan akan “tersesat”, karena ia tidak sempat menata dirinya dalam suatu lingkungan sosial[8].
Erat kaitannya dengan komunikasi sosial adalah komunikasi ekspresif yang dapat dilakukan baik sendirian ataupun dalam kelompok. Komunikasi ekspresif tidak otomatis bertujuan mempengaruhi orang lain, namun dapat dilakukan sejauh komunikasi tersebut menjadi instrumen untuk menyampaikan perasaan-perasaan (emosi) kita[9].
Erat kaitannya dengan komunikasi ekspresif adalah komuniasi ritual, yang biasanya dilakukan secara kolektif. Suatu komunitas sering melakukan upacara-upacara berlainan sepanjang tahun dan sepenjang hidup, yang disebut para antropolog sebagai rites of passage, mulai dari upacara kelahiran hingga upacara kematian. Dalam acara-acara itu orang mengucapkan kata-kata atau menampilkan perilaku-perilaku simbolik.[10]
Komunikasi instrumental mempunyai beberapa tujuan umum: menginformasikan, mengejar, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan, dan mengubah perilaku atau menggerakkan tindakan, dan juga menghibur. Bila diringkas, maka kesemua tujuan tersebut dapat disebut membujuk (bersifat persuasif).[11]
            Sedangkan tujuan retorika, menurut Cahim Parelman,  adalah untuk menebalkan kesetiaan terhadap nilai-nilai, menciptakan disposisi bertindak, menuntun orang bertindak.
I. A Ricahards (1965) dalam bukunya, The Philosophy of Rhetoric, bahwa tujuan retorika ialah untuk membina berkembangnya saling pengertian, kerjasama dan kedamaian dalam kehidupan masyarakat lewat kegiatan bertutur.


Adapun fungsi retorika menurut Forbes I Hill (1983), dalam artikelnya, Rhetoric of Aristotle, retorika yang dikembangkan Aristoteles pada dasarnya memiliki 4 fungsi, yaitu:
·         Menegakkan kebenaran dan keadilan;
·         Memberi informasi kepada orang kebanyakan;
·         Meyakinkan; dan
·         Mempertahankan diri dari ketidakadilan.

2.3 Contoh Pengaplikasian Retorika dalam Kehidupan Manusia
Retorika atau yang dikenal juga dengan seni berbicara, berpidato, atau berorasi erat kaitannya dengan pembangunan di suatu negara. Di Indonesia sendiri, kemampuan seorang dalam berorasi sedikit banyaknya telah mempengaruhi masyarakat untuk ikut serta dalam proses pembangunan.
Proses pembangunan yang dilakukan suatu tokoh dengan menggunaan retorika, kadang kala berbeda dalam penyampaiannya. Seperti yang menggunakan media wayang purwa sebagai media komunikasinya.
Pandan Guritno membahas potensi seni tradisional Indonesia, khususnya wayang purwa sebagai sarana pembangunan. Pokok-pokok pikiran yang diajukan bagi pemanfaatan seni tradisional ini bagi kepentingan pembangunan adalah:
1.      Terputusnya media modern di kota-kota besar di indonesia, yang negaranya agraris;
2.      Harga mass media modern sepeti radio dan televisi yang jauh dari jangkauan masyarakat desa;
3.      Wayang purwa dapat menjembatani jurang komunikasi antardesa dan kota; dan
4.      Yang terpenting, wayang purwa dapat menyearkan berita-erita melalui dialognya, serta masih relevan sebagai bentuk seni dan hiburan trasdisioal.[12]
Selain melalui media kesenian, pembangunan lebih banyak dilakukan melalui proses politik. Karena seorang politisi agar suaranya ‘didengar’, mau tidak mau harus menguasai retorika. Seperti halnya pada masa kemunculannya.
Menurut ilmuan politik Mark Roelofs bahwa politik adalah pembicaraan; atau lebih tepat, kegiatan politik (‘berpolitik’) adalah berbicara. Ia menekankan bahwa politik tidak hanya pembicaraan, juga tidak semua pembicaraan adalah politik. Akan tetapi, “hakikat pengalaman politik, dan bukan hanya kondisi dasarnya, ialah bahwa ia adalah kegiatan berkomunikasi antara orang-orang”[13]
Salah satu tokoh politik indonesia yang juga dikenal karena retorikanya ialah Ir. Soekarno.  Onong Uchjana Effendy dalam bukunya, Spektrum Komunikasi (1992:55) menyatakan, Bung karno yang ternyata adalah pengagum Jean Jaures, oleh para pakar, pidatonya dikenal sebagai “air terjun yang membongkar bukit-bukit karang.” (een waterval die ritsen omvergooit).
Tokoh lain yang juga mendunia adalah Obama. Obama, yang dikenal sebagai orang berkulit hitam pertama yang bisa menguasai Negeri Paman Sam, adalah termasuk orang yang pandai berbicara. Pandai berbicarabukan dalam arti banyak omong, melainkan beliau mampu mengolah kata-kata sedemikian rupa sehingga apa yang disampaikannya dapat menguasai alam bawah sadar pendengar, mampu mengubah pola pikir mereka, dan kemudian mempengaruhinya untuk seolah-olah mengiya-kan apapun yang dikatakan oleh Presiden AS ini.[14]
Selain beberapa contoh pengaplikasian retorika di atas, contoh lain yang juga sangat dipengaruhi oleh retorika adalah pelaku media massa. Seorang pembawa acara yang menyiarkan berita baik itu di televisi ataupun radio, tentu sangat membutuhkan penguasaan terhadap retorika. Mereka yang menyampaikan informasi dengan seni berbicara, akan mudah diterima informasinya oleh pendengar.
Selain dalam bahasa lisan, retorika pun berperan penting dalam bahasa tulisan, salah satunya dalam bidang sastra. Karena meskipun gaya bahasa seorang sastrawan berbeda dan unik, namun ada beberapa kesamaan yang dapat dipergunakan dan ini biasanya disebut sarana retorika (rhetorical devices).[15]














BAB III
PENUTUP


Kesimpulan
            Retorika merupakan seni berbicara yang telah ada sejak adanya manusia. Pemikiran ini berdasar pada kebutuhan manusia akan pentingnya retorika agar dapat diterima dengan baik oleh lingkungannya.
Pada tahap selanjutnya, retorika menjadi cikal bakal munculnnya sebuah ilmu yang disebut ilmu komunikasi.
Retorika selain dikenal dengan seni berbicara, juga lebih menekankan pada seni berpidato. Walaupun pada kenyataannya retorika tidak hanya berarti seni berbicara dalam bahasa lisan, karena ia pun memiliki pengertian seni berbicara dalam bahasa tulisan.
Salah satu kegunaan retorika dalam bahasa lisan ialah untuk menjadikan orator yang baik. Sedangkan dalam bahasa tulisan ialah untuk menjadikan seorang sastrawan yang andal.











DAFTAR REFERENSI
           
·         Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
·         Effendy, Onong Uchjana. 1992. Spektrum Komunikasi. Bandung: Penerbit Mandar  
    Maju
·         Effendy, Onong Uchjana. 2006. Ilmu Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
·         Nimmo, Dan. Komunikasi Politik. 2005. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
·         Depari, Eduard dan Colin Macandrews. Peran Komunikasi Masa dalam
·         Widjaja, A. W.. Komunikasi (Komunikasi dan Hubungan Masyarakat). 2008. Jakarta:
PT Bumi Aksara
·         Engkos Kosasih (PPT)
·         Dedy Djamaluddin Malik (PPT)




[1] Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A., Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 53.
[2] Ibid,.
[3] Ibid,.
[7] Prof. Drs. H.A.W. Widjaja, Komunikasi (komunikasi dan hubungan masyarakat), (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008), hlm.6
[8] Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph. D., ILMU KOMUNIKASI Suatu pengantar, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), hlm.6
[9] Ibid. hlm. 24.
[10] Ibid. hlm. 27.
[11] Ibid. hlm. 33.
[12] Pandan guritno, wayang purwa as a medium of change” dalam communication and rural hange, 1976, AMIC, singapore. Yang ditulis ulang oleh Dr. Eduard Depari dan Dr. Colin Macandrews, Peran Komunikasi Masa dalam Pembangunan, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1998), hlm. 127.
[13] Gaye Talese, The Kingdom and The Power, The World Publishing Co., New York, 1969 yang dikutip ulang oleh Dan Nimmo, Komunikasi Politik, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005) hlm. 8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar