Tak
ada ayam berkokok, hanya cahaya matahari yang membangunkanku dari hibernasi
selama 6 jam terakhir. Telah ratusan pagi kulewati di negeri matahari terbit
ini. Jutaan kelopak sakura pun telah aku injak.
Mataku
masih setengah terpejam, tapi hatiku sudah sepenuhnya sadar, karena ada agenda
besar yang akan aku lewati hari ini.
Beberapa
tahun lalu, Jepang adalah negara yang hanya ada dalam mimpiku. Mimpi
terbesarku. Suatu tempat yang dijejali manusia berotak modern. Gudangnya
orang-orang cerdas sehingga berimbas pada pendapatan perkapita di negara ini
yang terbilang tinggi. Dan bagiku saat itu, Jepang adalah jalan keluar yang
bisa membawaku ke dunia yang lebih baik. Keluar dari negara yang hampir aku
benci. Indonesia.
Aku
ingin pergi dari padatnya Jakarta, dari kemacetannya, dari kekotorannya, dari
manusia-manusia busung lapar yang semakin hari semakin menumpuk, dari pengemis
yang berserakan di jalanan, dari masyarakat yang hanya bisa diam dan membiarkan
sistem yang menghimpit mereka dan dari manusia-manusia yang sok modern tapi tak
berprestasi.
Hingga
tibalah jawaban dari keputusasaanku. Lebih dari setahun yang lalu aku seakan
mendapatkan jawaban dari doa-doaku, saat aku menerima beasiswa untuk
melanjutkan studiku di negara ini.
Disini,
waktu seakan berjalan lebih cepat, mesin-mesin berputar tiada henti, begitupun
otak pekerjanya. Sangat jarang aku melihat orang yang tak bekerja, apalagi
bermalas-malasan. Dan yang membuat aku bangga, di negara yang semodern ini,
mereka tak melupakan budaya. Salah satu yang begitu dikenal adalah budaya
membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan.
Dan
satu lagi ‘budaya’ yang membuatku tertarik, yang hari ini akan aku selami.
Satu
jam berlalu setelah aku benar-benar membuka mata. Saat ini aku sudah siap untuk
menjelajahi kaki gunung Fujiama dengan berbagai perlengkapan yang telah
kugendong di punggung—kamera, notebook
dan makanan.
Seperti orang Jepang kebanyakan, aku
pun lebih senang menggunakan kereta sebagai alat transportasi. Bisa dipastikan
bebas dari kemacetan.
Aku
masih sibuk mengamati para penumpang yang hampir sebagian besar tenggelam dalam
dunia tulisan, saat kereta tiba-tiba berhenti setelah sebelumnya terdengar kata personal injury. Dan kereta pun diberhentikan selama
kurang lebih dua jam.
Hal ini tentu merugikan sebagian besar
orang, apalagi bagi para pekerja. Tetapi ini adalah hal yang biasa terjadi di Jepang,
walau aku belum sepenuhnya yakin sebelum tiba di tempat tujuanku.
Berjalan sendirian di lautan pohon
bukan pilihan yang tepat, batinku.
Walaupun tempat ini memiliki gua-gua es yang populer dan dihiasi
bebatuan yang indah, hutan Aokigahara dengan luas 32 kilometer persegi ini
tetap saja didominasi oleh aura mistis. Aku merasakan angin asing yang
tiba-tiba menyambutku di jalan masuk tadi. Semakin dalam aku berjalan, angin
yang berembus tadi seakan beraroma. Aroma kematian!
Aokigahara adalah tempat populer di Jepang
yang biasa digunakan untuk bunuh diri! Beberapa mayat bergelantungan di
sekitarku, di sisi lain tulang-belulang berserakan menandakan telah lamanya ia
meninggal.
Ya, salah satu yang seakan telah
menjadi budaya di negara ini adalah harakiri (bunuh diri). Orang-orang jaman
dulu biasanya mengakhiri hidup dengan menusukkan samurai ke dalam perut mereka,
bahkan jika untuk tanda perjuangan, mereka sampai mengeluarkan isi perutnya.
Namun sekarang, cara bunuh diri yang mereka pilih sudah beragam. Mulai dari
menenggak racun, memotong urat nadi, menggantung diri, hingga menabrakkan diri
ke kereta api.
Aku terdiam beberapa saat, seminggu
yang lalu tradisi ini hanya menjadi bahan perbincanganku dengan orang Jepang
asli. Dan sekarang aku melihatnya sendiri, sedangkan hutan Aokigahara telah
menjadi saksi kengerian ini bahkan sejak puluhan tahun yang lalu.
Tanganku sudah cekatan mengambil gambar
sejak aku memasuki hutan ini. Banyak objek menarik yang aku bidik. Selain
manusia yang sudah tak bernyawa, juga benda-benda di sekitarnya.
Yang membuat mulutku berdecak heran,
motif bunuh diri yang mereka lakukan ternyata hampir serupa. Di saat perang
dunia II misalnya, Jepang tidak
ingin sejengkal pun tanah mereka diinjak oleh AS dan sekutunya, hingga dengan
cara apapun, pergerakan musuh harus mereka tahan. Mereka lebih baik melakukan harakiri
daripada harus bertekuk lutut pada musuh. Ini salah satu contoh harakiri dengan
motif harga diri.
Aku tiba-tiba ingat dengan peristiwa
yang menghambat perjalananku pagi tadi. Pemberhentian kereta.
Ya, yang terjadi sebenarnya bukanlah
ada masalah pada kereta, melainkan pada lintasannya. Pemberhentian kereta
mendadak adalah karena ada manusia yang mengakhiri hidupnya dengan menabrakkan
diri ke kereta. Motif mereka adalah balas dendam terhadap keluarga. Karena di Jepang,
jika kasus tadi terjadi, maka keluarga harus mengganti rugi atas keterlambatan
perjalanan.
Negara ini memang maju dan dipenuhi
manusia super. Tetapi aku baru menyadari, ternyata justru hal itulah yang
membuat mereka lebih mudah stress. Selalu ingin besaing dan menjadi yang
terbaik, atau minimal tidak tertinggal. Mereka malu saat aibnya diketahui
khalayak walaupun aib itu belum terbukti benar. Seperti pejabat yang melakukan
harakiri karena diindikasikan korupsi. Pengangguran pun melakukan bunuh diri.
Karena itulah Jepang menjadi salah satu negara dengan angka bunuh diri
tertinggi di dunia.
Bisa dibayangkan jika Indonesia
memiliki jiwa kompetisi setinggi Jepang, berapa ribu pengangguran yang bunuh
diri setiap tahunnya, dan berapa koruptor yang akan bunuh diri setiap harinya?
Ahh... kenapa tiba-tiba aku begitu
merindukan Indonesia? Sebuah negara yang nyaris aku benci. Namun hidup di Indonesia
tak setegang disini. Di Indonesia setidaknya aku masih bisa tertawa lepas dan
bergosip bahkan disaat jam kerja.
Manusia-manusianya pun masih
bahu-membahu menyelesaikan pekerjaan; tak begitu merugikan saat ingin tidur
sehat delapan jam perhari, pengangguran pun masih beristri gemuk.
Ya, orang Indonesia memang kurang
kompetitif, tapi setidaknya walaupun beban semakin menghimpit, ujung-ujungnya
mereka masih punya Tuhan dan agama sebagai tempat ‘kembali’. Bukan harakiri.
Hmmmh...
untuk pertama kalinya aku ingin pulang.
*Astri Aitko
Tidak ada komentar:
Posting Komentar