Senin, 09 Juni 2014

CERPEN : SISI LAIN



Tak ada ayam berkokok, hanya cahaya matahari yang membangunkanku dari hibernasi selama 6 jam terakhir. Telah ratusan pagi kulewati di negeri matahari terbit ini. Jutaan kelopak sakura pun telah aku injak.
Mataku masih setengah terpejam, tapi hatiku sudah sepenuhnya sadar, karena ada agenda besar yang akan aku lewati hari ini.
Beberapa tahun lalu, Jepang adalah negara yang hanya ada dalam mimpiku. Mimpi terbesarku. Suatu tempat yang dijejali manusia berotak modern. Gudangnya orang-orang cerdas sehingga berimbas pada pendapatan perkapita di negara ini yang terbilang tinggi. Dan bagiku saat itu, Jepang adalah jalan keluar yang bisa membawaku ke dunia yang lebih baik. Keluar dari negara yang hampir aku benci. Indonesia.
Aku ingin pergi dari padatnya Jakarta, dari kemacetannya, dari kekotorannya, dari manusia-manusia busung lapar yang semakin hari semakin menumpuk, dari pengemis yang berserakan di jalanan, dari masyarakat yang hanya bisa diam dan membiarkan sistem yang menghimpit mereka dan dari manusia-manusia yang sok modern tapi tak berprestasi.
Hingga tibalah jawaban dari keputusasaanku. Lebih dari setahun yang lalu aku seakan mendapatkan jawaban dari doa-doaku, saat aku menerima beasiswa untuk melanjutkan studiku di negara ini.
Disini, waktu seakan berjalan lebih cepat, mesin-mesin berputar tiada henti, begitupun otak pekerjanya. Sangat jarang aku melihat orang yang tak bekerja, apalagi bermalas-malasan. Dan yang membuat aku bangga, di negara yang semodern ini, mereka tak melupakan budaya. Salah satu yang begitu dikenal adalah budaya membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan.
Dan satu lagi ‘budaya’ yang membuatku tertarik, yang hari ini akan aku selami.
Satu jam berlalu setelah aku benar-benar membuka mata. Saat ini aku sudah siap untuk menjelajahi kaki gunung Fujiama dengan berbagai perlengkapan yang telah kugendong di punggung—kamera, notebook dan makanan.
          Seperti orang Jepang kebanyakan, aku pun lebih senang menggunakan kereta sebagai alat transportasi. Bisa dipastikan bebas dari kemacetan.
Aku masih sibuk mengamati para penumpang yang hampir sebagian besar tenggelam dalam dunia tulisan, saat kereta tiba-tiba berhenti setelah sebelumnya terdengar kata personal injury. Dan kereta pun diberhentikan selama kurang lebih dua jam.
          Hal ini tentu merugikan sebagian besar orang, apalagi bagi para pekerja. Tetapi ini adalah hal yang biasa terjadi di Jepang, walau aku belum sepenuhnya yakin sebelum tiba di tempat tujuanku.
*       
Berjalan sendirian di lautan pohon bukan pilihan yang tepat, batinku.  Walaupun tempat ini memiliki gua-gua es yang populer dan dihiasi bebatuan yang indah, hutan Aokigahara dengan luas 32 kilometer persegi ini tetap saja didominasi oleh aura mistis. Aku merasakan angin asing yang tiba-tiba menyambutku di jalan masuk tadi. Semakin dalam aku berjalan, angin yang berembus tadi seakan beraroma. Aroma kematian!
Aokigahara adalah tempat populer di Jepang yang biasa digunakan untuk bunuh diri! Beberapa mayat bergelantungan di sekitarku, di sisi lain tulang-belulang berserakan menandakan telah lamanya ia meninggal.
Ya, salah satu yang seakan telah menjadi budaya di negara ini adalah harakiri (bunuh diri). Orang-orang jaman dulu biasanya mengakhiri hidup dengan menusukkan samurai ke dalam perut mereka, bahkan jika untuk tanda perjuangan, mereka sampai mengeluarkan isi perutnya. Namun sekarang, cara bunuh diri yang mereka pilih sudah beragam. Mulai dari menenggak racun, memotong urat nadi, menggantung diri, hingga menabrakkan diri ke kereta api.
Aku terdiam beberapa saat, seminggu yang lalu tradisi ini hanya menjadi bahan perbincanganku dengan orang Jepang asli. Dan sekarang aku melihatnya sendiri, sedangkan hutan Aokigahara telah menjadi saksi kengerian ini bahkan sejak puluhan tahun yang lalu.
Tanganku sudah cekatan mengambil gambar sejak aku memasuki hutan ini. Banyak objek menarik yang aku bidik. Selain manusia yang sudah tak bernyawa, juga benda-benda di sekitarnya.
Yang membuat mulutku berdecak heran, motif bunuh diri yang mereka lakukan ternyata hampir serupa. Di saat perang dunia II misalnya, Jepang tidak ingin sejengkal pun tanah mereka diinjak oleh AS dan sekutunya, hingga dengan cara apapun, pergerakan musuh harus mereka tahan. Mereka lebih baik melakukan harakiri daripada harus bertekuk lutut pada musuh. Ini salah satu contoh harakiri dengan motif harga diri.
Aku tiba-tiba ingat dengan peristiwa yang menghambat perjalananku pagi tadi. Pemberhentian kereta.
Ya, yang terjadi sebenarnya bukanlah ada masalah pada kereta, melainkan pada lintasannya. Pemberhentian kereta mendadak adalah karena ada manusia yang mengakhiri hidupnya dengan menabrakkan diri ke kereta. Motif mereka adalah balas dendam terhadap keluarga. Karena di Jepang, jika kasus tadi terjadi, maka keluarga harus mengganti rugi atas keterlambatan perjalanan.
Negara ini memang maju dan dipenuhi manusia super. Tetapi aku baru menyadari, ternyata justru hal itulah yang membuat mereka lebih mudah stress. Selalu ingin besaing dan menjadi yang terbaik, atau minimal tidak tertinggal. Mereka malu saat aibnya diketahui khalayak walaupun aib itu belum terbukti benar. Seperti pejabat yang melakukan harakiri karena diindikasikan korupsi. Pengangguran pun melakukan bunuh diri. Karena itulah Jepang menjadi salah satu negara dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia.
Bisa dibayangkan jika Indonesia memiliki jiwa kompetisi setinggi Jepang, berapa ribu pengangguran yang bunuh diri setiap tahunnya, dan berapa koruptor yang akan bunuh diri setiap harinya?
Ahh... kenapa tiba-tiba aku begitu merindukan Indonesia? Sebuah negara yang nyaris aku benci. Namun hidup di Indonesia tak setegang disini. Di Indonesia setidaknya aku masih bisa tertawa lepas dan bergosip bahkan disaat jam kerja.
Manusia-manusianya pun masih bahu-membahu menyelesaikan pekerjaan; tak begitu merugikan saat ingin tidur sehat delapan jam perhari, pengangguran pun masih beristri gemuk.
Ya, orang Indonesia memang kurang kompetitif, tapi setidaknya walaupun beban semakin menghimpit, ujung-ujungnya mereka masih punya Tuhan dan agama sebagai tempat ‘kembali’. Bukan harakiri.
Hmmmh... untuk pertama kalinya aku ingin pulang.





                                                                            *Astri Aitko

Tidak ada komentar:

Posting Komentar