Rabu, 20 November 2013

11-17 November 2013



Minggu kemaren, banyak banget yang Astri lewatin ..
mulai dari dapet kenalan baru yang akhirnya ‘dianggap’ deket :D , sampe jalan selama 8 jam sama temen :p

Hari selasa kami—sama kenalan baru—aksi bareng, mengawal Serikat Tani Indramayu yang aksi di Pengadilan Bandung.. miris banget.
Itu aksi pertama Astri tanpa masker :D, soalnya emang bener-bener ngerasa ada yang diperjuangin! Ngeliat gimana nenek-nenek, kakek-kekek panas-panasan, bahkan banyak para orang tua yang bawa anak cuman buat merjuangin hak mereka sebagai petani.. WAW! Rasanya tuh bener-bener euuuugggghhhhh !!!!
ini kami sama petani, dan semua masa aksi
paling kanan, abang :)
sama sahabat-sahabat PMII
a fuad, astri, riva, algi
astriiiiiiiiiiiiii :)
panas-panasan

Dengan orang yang sama juga, Astri keliling-keliling Bandung, niatnya sih ke BEC.. tapi karena jalan yang biasanya dilewatin malah ditutup, ya terpaksa nyari alternative lain yang akhirnya bikin kami keliling-keliling gak nemu jalan :D parah kan? Apalagi sebelumnya ban motornya bocor, ditambah lagi ujan.. ckckck mengenaskan :D
Tapi gak apa-apaaaa ..




ban bocor. haha



Hari jum’atnya, Astri bener-bener ngerasa jadi anak yang paling beruntung.. punya orang tua (walaupun tiri) yang bener-bener baik .. hhhhhhhhh sampe ikhlas  nganterin sesuatu, walaupun kami ketemu cuman kurang dari 5 menit .. hmm

Mmm minggu ini juga astri nyadar banget kalo pendekatan emosional itu emang sangat pentiiiiingg.. apalagi buat anak rantau kayak astri (ya walaupun merantaunya juga gak jauh-jauh amat, tapi yang namanya gak biasa hidup sendiri kan) .. astri jalan sama temen kost yang emang kita tuh bedaaa karakter, banyak banget bedanya :D tapi Alhamdulillah kami masih bisa akur :)



acting :)
akur
bahagia bangettt
seneng
astri sama fani
kita juga suka galau
bersahabat
jelek
bagus yaaaaaa ;)




Selasa, 05 November 2013

INFO SEPUTAR KAMPUS: Ajaib! Nasi Rasa Kacag Ijo Membawa Berkah


Ada yang unik dengan menu sarapan di hari terakhir ospek jurusan Perbandingan Agama 2013 dengan tema “Tetap Ilmiah dalam Keintelektualitasan, Bersatu dalam Perbedaan dan Indah dalam Kemajemukan” yang diadakan di Arjasari, Banjaran pada tanggal 25-27 oktober 2013.
Siapa sangka ketegangan ospek yang dua hari sebelumnya dirasakan, seakan terlupakan karena menu sarapan di hari terakhir adalah nasi dengan campuran bubur kacang ijo. Uniknya, menu ini bukanlah menu yang sengaja disiapkan panitia sebagai tradisi ospek yang biasanya terkesan menyeramkan dan penuh dengan kejahilan. Karena ternyata, menu sarapan pagi itu adalah buah dari kecelakaan yang justru ditimbulkan akibat rencana kejahilan peserta.
Bermula setelah kegiatan malam hampir selesai dan menuju waktu istirahat, salah seorang peserta merencanakan kejahilan untuk mengejutkan panitia. Setelah disepakati, rencana itu pun menyebar ke telinga peserta putra dan putri.
Keesokan harinya, setelah seluruh peserta berolah raga, seperti biasa panitia menyiapkan sarapan untuk para peserta. Berbeda dengan hari sebelumnya, pagi itu peserta menolak untuk sarapan—seperti yang telah direncanakan—dengan berbagai alasan, mulai dari tidak layaknya tempat makan dan alasan-alasan lainnya. Ketegangan pun tidak bisa terhindarkan  karena panitia merasa tidak dihargai oleh sikap peserta. Setelah ketegangan mulai memuncak, peserta pun bersorak sebagai tanda ketidakseriusan sikap mereka dan karena telah berhasil memancing amarah panitia.
Salah satu alumni yang terkejut karena ketegangan itu refleks menyemburkan bubur kacang ijo yang telah disiapkan panitia untuk pembuka sarapan. Bubur kacang ijo itu pun menghujani sebagian peserta dan tumpah di menu sarapan mereka. Akibatnya, panitia pun meminta peserta menghabiskan makanan yang telah tercampur kacang ijo tersebut sebagai imbalan atas kejahilan mereka.
Karena tanggung jawabnya, peserta pun saling membantu menghabiskan makanan tersebut. Tidak hanya saat makan, rasa solidaritas mereka pun terlihat ketika membersihkan tempat makan yang dipenuhi dengan bubur kacang ijo. Setelah kejadian tersebut, tidak terlihat lagi ketegangan antara peserta dan panitia, karena justru sikap kekeluargaanlah yang semakin tampak diantara mereka.

tegang 



penutupan