Ada yang
unik dengan menu sarapan di hari terakhir ospek jurusan Perbandingan Agama 2013
dengan tema “Tetap Ilmiah dalam Keintelektualitasan, Bersatu dalam Perbedaan
dan Indah dalam Kemajemukan” yang diadakan di Arjasari, Banjaran pada tanggal
25-27 oktober 2013.
Siapa
sangka ketegangan ospek yang dua hari sebelumnya dirasakan, seakan terlupakan karena
menu sarapan di hari terakhir adalah nasi dengan campuran bubur kacang ijo. Uniknya,
menu ini bukanlah menu yang sengaja disiapkan panitia sebagai tradisi ospek
yang biasanya terkesan menyeramkan dan penuh dengan kejahilan. Karena ternyata,
menu sarapan pagi itu adalah buah dari kecelakaan yang justru ditimbulkan
akibat rencana kejahilan peserta.
Bermula
setelah kegiatan malam hampir selesai dan menuju waktu istirahat, salah seorang
peserta merencanakan kejahilan untuk mengejutkan panitia. Setelah disepakati,
rencana itu pun menyebar ke telinga peserta putra dan putri.
Keesokan
harinya, setelah seluruh peserta berolah raga, seperti biasa panitia menyiapkan
sarapan untuk para peserta. Berbeda dengan hari sebelumnya, pagi itu peserta
menolak untuk sarapan—seperti yang telah direncanakan—dengan berbagai alasan,
mulai dari tidak layaknya tempat makan dan alasan-alasan lainnya. Ketegangan pun
tidak bisa terhindarkan karena panitia
merasa tidak dihargai oleh sikap peserta. Setelah ketegangan mulai memuncak,
peserta pun bersorak sebagai tanda ketidakseriusan sikap mereka dan karena telah
berhasil memancing amarah panitia.
Salah
satu alumni yang terkejut karena ketegangan itu refleks menyemburkan bubur
kacang ijo yang telah disiapkan panitia untuk pembuka sarapan. Bubur kacang ijo
itu pun menghujani sebagian peserta dan tumpah di menu sarapan mereka. Akibatnya,
panitia pun meminta peserta menghabiskan makanan yang telah tercampur kacang
ijo tersebut sebagai imbalan atas kejahilan mereka.
Karena
tanggung jawabnya, peserta pun saling membantu menghabiskan makanan tersebut. Tidak
hanya saat makan, rasa solidaritas mereka pun terlihat ketika membersihkan
tempat makan yang dipenuhi dengan bubur kacang ijo. Setelah kejadian tersebut,
tidak terlihat lagi ketegangan antara peserta dan panitia, karena justru sikap
kekeluargaanlah yang semakin tampak diantara mereka.
 |
| tegang | |
 |
| penutupan | |