Kamis, 06 November 2014

RINGKASAN MATERI SOSIOLOGI AGAMA



RINGKASAN MATERI SOSIOLOGI AGAMA
Selama 8 kali pertemuan bersama Bapak Dody S. Truna

Nama               : Astri Oktia Indriyani
NIM                : 1131020009
Jurusan            : Perbandingan Agama
Smester/Kelas : III/A


Pertemuan pertama (11 September 2014)
Seperti pada umumnya, di pertemuan pertama, dosen memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Selanjutnya membahas mengenai kontrak belajar dan memberikan daftar pembahasan atau silabus sosiologi agama yang akan dipelajari selama satu smester kedepan.
Silabus yang diberikan oleh Bapak Dody S. Truna selaku dosen sosiologi agama antara lain:
1)        Pengertian dan ruang lingkup kajian sosiologi agama
2)        Metode-metode kajian atau penelitian sosiologi agama
3)        Sejarah perkembangan sosiologi agama
4)        Teori-teori sosiologi tentang agama sebagai fenomena sosial
·      Teori fungsionalisme
·      Perspektif marxis
·      Perspektif fenomenologis
·      Rodney Stark dan William Sims Bainbridge: Agama sebagai kompensasi
5)        Kedudukan dan fungsi agama bagi manusia dan masyarakat
6)        Pelembagaan dan kelembagaan agama
7)        Institusi dan organisasi keagamaan
8)        Agama dan perubahan sosial
9)        Agama: faktor penyebab integrasi dan konflik sosial
10)    Kelompok dan gerakan agama

11)     Tokoh dan pemikiran sosiologi di dunia islam
·      Ibn. Khaldun
·      Ali Shariati
·      Bassam Tibi
·      Kuntowidjojo: Ilmu sosial profetik
12)     Kehidupan beragama di Indonesia

Adapun buku referensi yang disarankan sebagai bahan bacaan untuk mendukung tema perkuliahan antara lain:
a.       Ibn. Khaldun: Muqadimah
b.      Djamari: Agama dalam Perspektif Sosiologi
c.       Kuntowidjojo: Ilmu Sosial Profetik
d.      Hendropuspito: Sosiologi Agama
e.       Dadang Kahmad: Sosiologi Agama
Tidak hanya itu, pada pertemuan pertama Bpk. Dody sempat menerangkan mengenai fokus kajian sosiologi agama.

Sama halnya dengan ‘ilmu sosiologi’, pada dasarnya kajian sosiologi agama pun berfokus pada masyarakat. Hanya saja, dalam sosiologi agama, yang menjadi bahan kajiannya adalah interaksi keagamaan masyarakat tersebut.
Dalam perspektif sosiologi, meskipun agama bersifat ghaib, tetapi bisa diselidiki melalui ungkapan-ungkapan keagamaan dalam gejala-gejala sosial.
Adapun wilayah kajian sosiologi agama adalah: sesuatu yang dilakukan oleh masyarakat secara berkelompok ataupun secara individu.
Bukti adanya pengungkapan keagamaan di masyarakat antara lain meliputi:
·         Fisik: Tempat ibadah, alat peribadatan, kuburan, bangunan suci, dll.
·         Non fisik: Nama-nama, praktek ritus, legenda atau cerita rakyat, prilaku atau ekspresi kebudayaan, struktur sosial.



Pertemuan Kedua (18 September 2014)
        Pada pertemuan kedua, materi yang dibahas yaitu mengenai pengalaman dan dimensi keagamaan.
Pengalaman Keagamaan menurut Joachim Wach:
A.  Hakikat pengalaman keagamaan
B.Ungkapan pengalaman keagamaan:
a.     Bentuk pemikiran keagamaan
b.    Bentuk praktek atau pelaksanaan
c.     Bentuk persekutuan/kelompok/ummat
Pada dasarnya, pengalaman keagamaan (religius experiencess) secara utuh hanya bisa dirasakan oleh manusia secara individu. Karena, pengalaman keagamaan pada tiap individu pasti berbeda-beda tergantung pada situasi dan kondisi yang telah ia alami.
Seorang manusia bisa mengetahui pengalaman keagamaan manusia lain adalah jika seseorang mengungkapkan pengalaman keagamaan yang telah ia alami. Ungkapan-ungkapan tersebut berupa:
a.    Pemikiran, atau bisa disebut dengan konsep-konsep.
Konsep-konsep keagamaan ini terbagi menjadi dua, yakni: mitos dan doktrin.
Mitos berhubungan dengan keyakinan terhadap sesuatu yang dianggap suci. Sedangkan doktrin berisi kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan yang berdasar pada mitos.
Contoh: pemujaan terhadap sesuatu yang dianggap keramat.
b.    Praktek, atau disebut juga kegiatan.
Kegiatan yang dimaksud adalah yang merupakan pelaksanaan dari doktrin-doktrin.
c.    Persekutuan, adalah orang yang memiliki keyakinan yang sama, menjalankan praktek terhadap doktrin yang sama, kemudian mereka berkumpul.



Dimensi Keagamaan menurut Stark & Glock.
Menurut Stark & Glock, dimensi keagamaan terbagi menjadi 5 bagian, antara lain:
a.    Keyakinan (ideological)
Dimensi ini berisi pengharapan-pengharapan dimana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin tersebut. Misalnya keyakinan akan adanya malaikat, surga dan neraka.
b.    Praktik
Dimensi ini mencakup perilaku pemujaan, pelaksanaan ritus formal keagamaan, kataatan dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya. Praktik-praktik agama ini terdiri atas dua kelas penting, yaitu:
1. Ritual, mengacu kepada seperangkat ritus, tindakan keagamaan formal dan praktik-praktik suci yang semua mengharapkan para pemeluk melaksanakannya.
2. Ketaatan, apabila aspek ritual dari komitmen sangat formal dan khas publik, semua agama yang dikenal juga mempunyai seperangkat tindakan persembahan dan kontemplasi personal yang relatif spontan, informal dan khas pribadi.
c.    Pengalaman
Dimensi ini berkaitan dengan pengalaman keagamaan, perasaan, persepsi dan sensasi yang dialami seseorang atau didefenisikan oleh suatu kelompok keagaman (atau masyarakat) yang melihat komunikasi, walaupun kecil, dalam suatu esensi ketuhanan yaitu dengan Tuhan, kenyataan terakhir, dengan otoritas transedental.
d.   Pengetahuan
Dimensi ini mengacu pada harapan bagi orang-orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi-tradisi.


e.    Konsekuensi
Dimensi ini mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari. Dengan kata lain, sejauh mana implikasi ajaran agama mempengaruhi perilakunya.[1]



Pertemuan ketiga (25 September 2014)
Pada pertemuan ketiga, disebutkan adanya beberapa pendekatan sosiologi agama, antara lain:
·         Fungsional (Durkheim, Parsons);
·         Marx (Marx, Brian s. Turner); dan
·         Fenomenologi (Peter S. Borger).

Beberapa tokoh besar menyebutkan tentang kesadaran mengenai adanya sesuatu yang sakral, yang suci. Karena biar bagaimanapun, pada kenyataanya yang sakral atau agama sering dijadikan sebagai tempat kembali ketika manusia sudah tidak bisa lagi menjawab keadaan sosial yang berkembang begitu pesat.
Yang sakral tersebut dibedakan secara penyebutan oleh beberapa tokoh, misalnya:
Menurut: *Rudolf Otto: The Holy (yang suci, sakral)
                *Paul Tillich: The Ultimate Concern
                *Mircea Eliade: The Ultimate Reality (realitas yang maha luhur)
                *Emile Durkheim: The Sacred (yang maha suci)   




Pertemuan keempat (02 Oktober 2014)
                        Manusia secara personal atau individu, pasti pernah mengalami krisis dalam kehidupan. Selama krisis tersebut dialami oleh individu saja, maka tidak akan mengganggu stabilitas sosial. Tetapi jika dialami oleh banyak orang secara berkelanjutan, maka akan mengancam stabilitas (disorganisasi sosial). Agama memainkan fungsi untuk mengatasi ancaman terhadap stabilitas sosial tersebut melalui pernyataan dan janji masa depan.
Menurut perspektif fungsionalisme, agama diperlukan salah satunya untuk memberikan jawaban atas problem-problem yang dihadapi masyarakat.
Thomas F O’dea dalam bukunya Sosiologi Agama suatu Pengenalan Awal menyebutkan bahwa problem masyarakat antara lain:
·         Ketidakpastian;
·         Kelangkaan; dan
·         Ketidakberdayaan.

Lebih lanjut,  Thomas  juga menerangkan tentang fungsi agama yang bisa menjawab problem masyarakat tersebut melalui manfaat dari ritual-ritual keagamaan. Fungsi agama antara lain:
1.      Fungsi manifest, adalah fungsi yang disengaja atau dimaksudkan ‘seperti itu’ menurut agamanya. Misalnya, ummat islam mengetahui bahwa fungsi manifest dari ritual shalat adalah mencegah perbuatan keji dan munkar. Mereka meyakininya karena memang agama mengatakannya.
2.      Fungsi laten, adalah fungsi yang tidak disengaja, tidak langsung, tidak dimaksudkan untuk ‘itu’ menurut teksnya. Fungsi laten bersifat tersembunyi.
Misalnya dalam ritual shalat, fungsi latennya adalah melatik kedisiplinan.
Agama tidak menyebutkan fungsi shalat sebagai ajang melatih kedisiplinan, hanya saja pada kenyataannya ternyata dengan shalat tepat waktu, seorang penganut agama bisa menjadi lebih disiplin.
Contoh lain, fungsi manifest dari wudhu adalah menyucikan, sedangkan fungsi latennya menyegarkan badan.


Pertemuan kelima (09 Oktober 2014)
Pada pertemuan kelima, materi yang dibahas mengenai teori fungsionalisme agama menurut beberapa tokoh.
1.      Emile Durkheim (the sacred and the profare)
Emile Durkheim menyatakan bahwa sesuatu yang sakral itu bersifat simbolik. Mereka merepresentasikan suatu kekuatan.
            Sebuah simbol bisa membangkitkan kekuatan perasaan yang notabene bersifat abstrak. Simbol pun bisa mempersatukan atau mengikat suatu kelompok.
Dilatarbelakangi oleh kesadaran mengenai hal tersebutlah, menurut E. Durkheim, agama menciptakan simbo-simbol. Simbol tersebut misalnya berupa benda yang disakralkan karena dianggap mempunyai kekuatan ghaib, yang mempengaruhi kehidupan kelompok masyarakat tertentu (totem).
Untuk mendalami teori ini, Emile Durkheim melakukan penelitian terhadap masyarakat aborigin yang melakukan ritual-ritual dengan yang ghaib.
2.      Bronislav Malinoski
Pada dasarnya, setiap manusia pasti menginginkan ketenangan dalam menjalankan kehidupan di muka bumi. Karena hal itu, pada perkembangannya manusia menciptakan aturan-aturan yang disepakati oleh kelompoknya. Aturan-aturan tersebut berfungsi sebagai salah satu pengendali keteriban sosial.
Krisis kehidupan dan ketegangan yang kadang kala terjadi dalam kelompoknya cenderung akan mengganggu atau bahkan merusak ketertiban sosial yang telah mereka ciptakan. Dan pada kenyataannya, aturan-aturan yang ada tidak banyak membantu menyelesaikan persoalan ketegangan tersebut.
Hingga pada akhirnya, menurut Bronislav Malinoski, agama difungsikan untuk mengatasi situasi disruptif (merusak, mengganggu) tersebut. Karena agama menawarkan jalan keluar dari krisis kehidupan melalui proses-proses ritual yang dilakukan.

3.      Talcot Parsons
Masyarakat terbangun karena adanya solidaritas. Menurut Talcot Parsons, agama menawarkan solidaritas sosial untuk mengatasi ketegangan emosional yang mengancam stabilitas sosial.



Pertemuan keenam (16 Oktober 2014)
          Pada pertemuan keenam, materi yang dibahas masih mengenai fungsi agama. Di pertemuan ini, disebutkan adanya 9 fungsi agama secara umum, antara lain:
a.   Fungsi sosialisasi individu;
b.  Fungsi edukatif;
c.   Fungsi pengawasan sosial ( social control);
d.  Fungsi pemeliharaan;
e.   Fungsi memupuk solidaritas;
f.   Fungsi pelestarian nilai;
g.  Fungsi transformatif;
h.  Fungsi memupuk dan memecah kesatuan sosial; dan
i.    Fungsi identitas.

1. Fungsi Sosialisasi Individu     
            Maksud dari fungsi sosialisasi individu adalah, agama bisa menjadikan individu (seseorang sebagai individu) menjadi anggota dari suatu kelompok masyarakat.
            Misalnya ketika seorang anak lahir, ia terlahir sebagai seorang individu saja. Dengan adanya naluri manusia sebagai mahluk sosial, individu tersebut pasti menginginkan dirinya tergabung dalam sebuah kelompok masyarakat. Maka anak yang lahir akan dikenalkan oleh orang tuanya mengenai nilai-nilai agama agar ia bisa menjadi bagian dalam kelompok masyarakat tersebut. Agama memainkan fungsi untuk menjadikan seseorang diakui dalam masyarakat.

2. Fungsi Edukatif
            Pada kenyataannya, sosialisasi individu melibatkan banyak institusi untuk pembangunan kohesifitas antara diri dan kelompoknya. Salah satunya melalui institusi pendidikan, baik formal, non-formal, maupun informal.
            Agama ikut menentukan proses pendidikan. Sebaliknya, lembaga pendidikan pun ikut mempengaruhi agama. Agama mendidik manusia untuk menjadi anggota masyarakat yang baik.

3. Fungsi Pengawasan Sosial (social control)
            Aturan-aturan yang dibuat oleh masyarakat dimaksudkan untuk mempertahankan eksistensi, menciptakan ketertiban, konsensus, dan keamanan agar tercipta ketertiban dalam masyarakat.
Agama membuat aturan-aturan berfungsi secara lebih efektif. Ketertiban sosial yang diawasi oleh hukum, hanya efektif ketika diawasi aparat. Berbeda dengan ketika diciptakan oleh agama.



Pertemuan ketujuh (30 Oktober 2014)
            Di pertemuan ketujuh, pembahasan masih melanjutkan uraian mengenai fungsi agama.
Fungsi Pemeliharaan dan Pelestarian Nilai
Fungsi pemeliharaan nilai keagamaan akan tampak ketika masyarakat beragama dihadapkan pada perubahan sosial yang amat cepat, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Salah satu contohnya adalah, disaat pesatnya perkembangan zaman di era modern ini, nilai perkastaan agama Hindu masih tetap dijaga. Hal ini bertujuan untuk tetap melestarikan agama Hindu.
Contoh lain dalam pemeliharaan adalah tindakan ummat Islam masih tetap menjalankan ritual shalat jum’at, ataupun kebaktian yang dilakukan ummat Kristiani. Jika tetap dipertahankan, ritual tersebut akan menyatukan ummat dalam sebuah perkumpulan, sehingga terciptalah ketertiban sosial sekaligus tetap terpeliharanya eksistensi agama.
Sekarang ini, banyak teknologi yang menciptakan sesuatu yang bermanfaat tetapi mengakibatkan terancamnya eksistensi agama. Maka fatwa agama berusaha mempertahankan atau memelihara nilai-nilai keagamaan dalam masyarakat.

Fungsi Transformasi (perubahan, perpindahan)
            Perubahan yang dibuat oleh agama misalnya dalam kasus perbudakan. Sebelum munculnya agama, perbudakan diperbolehkan. Maka, agama mengubah aturan tersebut menjadi tidak diperbolehkan.
            Namun pada salah satu kasus, agama justru mengubah aturan agama itu sendiri, alasannya adalah karena perubahan zaman. Contohnya, dahulu kala, peperangan atas nama agama adalah sesuatu yang wajar, agama pun memperbolehkannya dengan alasan-alasan tertentu. Dan pada sekarang ini, justru agama sendiri yang menimbulkan kesadaran ummat bahwa peperangan bukanlah jalan untuk membela keutuhan kelompok. Terlebih lagi setelah maraknya pemahaman toleransi yang diajarkan oleh agama itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar