RINGKASAN
MATERI SOSIOLOGI AGAMA
Selama 8 kali pertemuan bersama Bapak
Dody S. Truna
Nama : Astri Oktia Indriyani
NIM : 1131020009
Jurusan :
Perbandingan Agama
Smester/Kelas : III/A
Pertemuan pertama (11 September 2014)
Seperti
pada umumnya, di pertemuan pertama, dosen memperkenalkan dirinya terlebih
dahulu. Selanjutnya membahas mengenai kontrak belajar dan memberikan daftar
pembahasan atau silabus sosiologi agama yang akan dipelajari selama satu
smester kedepan.
Silabus
yang diberikan oleh Bapak Dody S. Truna selaku dosen sosiologi agama antara
lain:
1)
Pengertian dan ruang lingkup kajian
sosiologi agama
2)
Metode-metode kajian atau penelitian
sosiologi agama
3)
Sejarah perkembangan sosiologi agama
4)
Teori-teori sosiologi tentang agama
sebagai fenomena sosial
·
Teori fungsionalisme
· Perspektif
marxis
· Perspektif
fenomenologis
· Rodney
Stark dan William Sims Bainbridge: Agama sebagai kompensasi
5)
Kedudukan dan fungsi agama bagi manusia
dan masyarakat
6)
Pelembagaan dan kelembagaan agama
7)
Institusi dan organisasi keagamaan
8)
Agama dan perubahan sosial
9)
Agama: faktor penyebab integrasi dan
konflik sosial
10) Kelompok
dan gerakan agama
11) Tokoh dan pemikiran sosiologi di dunia islam
· Ibn.
Khaldun
· Ali
Shariati
· Bassam
Tibi
· Kuntowidjojo:
Ilmu sosial profetik
12) Kehidupan beragama di Indonesia
Adapun buku referensi
yang disarankan sebagai bahan bacaan untuk mendukung tema perkuliahan antara
lain:
a. Ibn.
Khaldun: Muqadimah
b. Djamari:
Agama dalam Perspektif Sosiologi
c. Kuntowidjojo:
Ilmu Sosial Profetik
d. Hendropuspito:
Sosiologi Agama
e. Dadang
Kahmad: Sosiologi Agama
Tidak hanya itu, pada
pertemuan pertama Bpk. Dody sempat menerangkan mengenai fokus kajian sosiologi
agama.
Sama halnya dengan ‘ilmu
sosiologi’, pada dasarnya kajian sosiologi agama pun berfokus pada masyarakat. Hanya
saja, dalam sosiologi agama, yang menjadi bahan kajiannya adalah interaksi keagamaan masyarakat tersebut.
Dalam perspektif sosiologi,
meskipun agama bersifat ghaib, tetapi bisa diselidiki melalui ungkapan-ungkapan keagamaan dalam
gejala-gejala sosial.
Adapun wilayah kajian
sosiologi agama adalah: sesuatu yang dilakukan oleh masyarakat secara
berkelompok ataupun secara individu.
Bukti adanya
pengungkapan keagamaan di masyarakat antara lain meliputi:
·
Fisik: Tempat ibadah, alat peribadatan,
kuburan, bangunan suci, dll.
·
Non fisik: Nama-nama, praktek ritus,
legenda atau cerita rakyat, prilaku atau ekspresi kebudayaan, struktur sosial.
Pertemuan Kedua (18 September 2014)
Pada
pertemuan kedua, materi yang dibahas yaitu mengenai pengalaman dan dimensi
keagamaan.
Pengalaman
Keagamaan menurut Joachim Wach:
A. Hakikat
pengalaman keagamaan
B.Ungkapan
pengalaman keagamaan:
a. Bentuk
pemikiran keagamaan
b. Bentuk
praktek atau pelaksanaan
c. Bentuk
persekutuan/kelompok/ummat
Pada dasarnya, pengalaman
keagamaan (religius experiencess) secara utuh hanya bisa dirasakan oleh manusia
secara individu. Karena, pengalaman keagamaan pada tiap individu pasti
berbeda-beda tergantung pada situasi dan kondisi yang telah ia alami.
Seorang manusia bisa
mengetahui pengalaman keagamaan manusia lain adalah jika seseorang
mengungkapkan pengalaman keagamaan yang telah ia alami. Ungkapan-ungkapan
tersebut berupa:
a. Pemikiran,
atau bisa disebut dengan konsep-konsep.
Konsep-konsep
keagamaan ini terbagi menjadi dua, yakni: mitos
dan doktrin.
Mitos
berhubungan dengan keyakinan terhadap sesuatu yang dianggap suci. Sedangkan doktrin
berisi kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan yang berdasar pada mitos.
Contoh: pemujaan
terhadap sesuatu yang dianggap keramat.
b. Praktek,
atau disebut juga kegiatan.
Kegiatan yang
dimaksud adalah yang merupakan pelaksanaan dari doktrin-doktrin.
c. Persekutuan,
adalah orang yang memiliki keyakinan yang sama, menjalankan praktek terhadap
doktrin yang sama, kemudian mereka berkumpul.
Dimensi
Keagamaan menurut Stark & Glock.
Menurut Stark & Glock, dimensi
keagamaan terbagi menjadi 5 bagian, antara lain:
a.
Keyakinan (ideological)
Dimensi ini
berisi pengharapan-pengharapan dimana orang religius berpegang teguh pada
pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin tersebut. Misalnya
keyakinan akan adanya malaikat, surga dan neraka.
b.
Praktik
Dimensi ini
mencakup perilaku pemujaan, pelaksanaan ritus formal keagamaan, kataatan dan
hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang
dianutnya. Praktik-praktik agama ini terdiri atas dua kelas penting, yaitu:
1. Ritual, mengacu kepada seperangkat
ritus, tindakan keagamaan formal dan praktik-praktik suci yang semua
mengharapkan para pemeluk melaksanakannya.
2. Ketaatan, apabila aspek ritual dari
komitmen sangat formal dan khas publik, semua agama yang dikenal juga mempunyai
seperangkat tindakan persembahan dan kontemplasi personal yang relatif spontan,
informal dan khas pribadi.
c.
Pengalaman
Dimensi ini berkaitan dengan
pengalaman keagamaan, perasaan, persepsi dan sensasi yang dialami seseorang
atau didefenisikan oleh suatu kelompok keagaman (atau masyarakat) yang melihat
komunikasi, walaupun kecil, dalam suatu esensi ketuhanan yaitu dengan Tuhan,
kenyataan terakhir, dengan otoritas transedental.
d.
Pengetahuan
Dimensi ini mengacu pada harapan
bagi orang-orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal
pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan
tradisi-tradisi.
e.
Konsekuensi
Dimensi ini mengacu pada
identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman dan
pengetahuan seseorang dari hari ke hari. Dengan kata lain, sejauh mana
implikasi ajaran agama mempengaruhi perilakunya.[1]
Pertemuan ketiga (25 September 2014)
Pada pertemuan ketiga,
disebutkan adanya beberapa pendekatan sosiologi agama, antara lain:
·
Fungsional (Durkheim, Parsons);
·
Marx (Marx, Brian s. Turner); dan
·
Fenomenologi (Peter S. Borger).
Beberapa
tokoh besar menyebutkan tentang kesadaran mengenai adanya sesuatu yang sakral,
yang suci. Karena biar bagaimanapun, pada kenyataanya yang sakral atau agama sering
dijadikan sebagai tempat kembali ketika manusia sudah tidak bisa lagi menjawab
keadaan sosial yang berkembang begitu pesat.
Yang
sakral tersebut dibedakan secara penyebutan oleh beberapa tokoh, misalnya:
Menurut:
*Rudolf Otto: The Holy (yang suci, sakral)
*Paul Tillich: The Ultimate
Concern
*Mircea Eliade: The Ultimate
Reality (realitas yang maha luhur)
*Emile Durkheim: The Sacred
(yang maha suci)
Pertemuan keempat (02 Oktober 2014)
Manusia secara
personal atau individu, pasti pernah mengalami krisis dalam kehidupan. Selama krisis
tersebut dialami oleh individu saja, maka tidak akan mengganggu stabilitas
sosial. Tetapi jika dialami oleh banyak orang secara berkelanjutan, maka akan
mengancam stabilitas (disorganisasi sosial). Agama memainkan fungsi untuk
mengatasi ancaman terhadap stabilitas sosial tersebut melalui pernyataan dan
janji masa depan.
Menurut perspektif
fungsionalisme, agama diperlukan salah satunya untuk memberikan jawaban atas
problem-problem yang dihadapi masyarakat.
Thomas F O’dea dalam bukunya Sosiologi Agama suatu Pengenalan Awal
menyebutkan bahwa problem masyarakat antara lain:
·
Ketidakpastian;
·
Kelangkaan; dan
·
Ketidakberdayaan.
Lebih lanjut, Thomas juga menerangkan tentang fungsi agama yang
bisa menjawab problem masyarakat tersebut melalui manfaat dari ritual-ritual
keagamaan. Fungsi agama antara lain:
1.
Fungsi manifest, adalah fungsi yang
disengaja atau dimaksudkan ‘seperti itu’ menurut agamanya. Misalnya, ummat islam
mengetahui bahwa fungsi manifest dari ritual shalat adalah mencegah perbuatan
keji dan munkar. Mereka meyakininya karena memang agama mengatakannya.
2.
Fungsi laten, adalah fungsi yang tidak
disengaja, tidak langsung, tidak dimaksudkan untuk ‘itu’ menurut teksnya. Fungsi
laten bersifat tersembunyi.
Misalnya
dalam ritual shalat, fungsi latennya adalah melatik kedisiplinan.
Agama
tidak menyebutkan fungsi shalat sebagai ajang melatih kedisiplinan, hanya saja
pada kenyataannya ternyata dengan shalat tepat waktu, seorang penganut agama
bisa menjadi lebih disiplin.
Contoh
lain, fungsi manifest dari wudhu adalah menyucikan, sedangkan fungsi latennya
menyegarkan badan.
Pertemuan kelima (09 Oktober 2014)
Pada pertemuan kelima,
materi yang dibahas mengenai teori
fungsionalisme agama menurut beberapa tokoh.
1.
Emile Durkheim (the sacred and the
profare)
Emile
Durkheim menyatakan bahwa sesuatu yang sakral itu bersifat simbolik. Mereka merepresentasikan suatu kekuatan.
Sebuah
simbol bisa membangkitkan kekuatan perasaan yang notabene bersifat abstrak. Simbol
pun bisa mempersatukan atau mengikat suatu kelompok.
Dilatarbelakangi oleh kesadaran mengenai hal
tersebutlah, menurut E. Durkheim, agama menciptakan simbo-simbol. Simbol tersebut
misalnya berupa benda yang disakralkan karena dianggap mempunyai kekuatan
ghaib, yang mempengaruhi kehidupan kelompok masyarakat tertentu (totem).
Untuk mendalami teori ini, Emile Durkheim melakukan
penelitian terhadap masyarakat aborigin yang melakukan ritual-ritual dengan
yang ghaib.
2.
Bronislav Malinoski
Pada
dasarnya, setiap manusia pasti menginginkan ketenangan dalam menjalankan
kehidupan di muka bumi. Karena hal itu, pada perkembangannya manusia menciptakan
aturan-aturan yang disepakati oleh kelompoknya. Aturan-aturan tersebut
berfungsi sebagai salah satu pengendali keteriban sosial.
Krisis
kehidupan dan ketegangan yang kadang kala terjadi dalam kelompoknya cenderung akan
mengganggu atau bahkan merusak ketertiban sosial yang telah mereka ciptakan. Dan
pada kenyataannya, aturan-aturan yang ada tidak banyak membantu menyelesaikan persoalan
ketegangan tersebut.
Hingga
pada akhirnya, menurut Bronislav Malinoski, agama difungsikan untuk mengatasi
situasi disruptif (merusak, mengganggu) tersebut. Karena agama menawarkan jalan
keluar dari krisis kehidupan melalui proses-proses ritual yang dilakukan.
3.
Talcot Parsons
Masyarakat
terbangun karena adanya solidaritas. Menurut Talcot Parsons, agama menawarkan
solidaritas sosial untuk mengatasi ketegangan emosional yang mengancam
stabilitas sosial.
Pertemuan keenam (16 Oktober 2014)
Pada pertemuan keenam, materi yang dibahas masih mengenai fungsi agama. Di pertemuan ini,
disebutkan adanya 9 fungsi agama secara umum, antara lain:
a. Fungsi sosialisasi individu;
b. Fungsi edukatif;
c. Fungsi pengawasan sosial ( social control);
d. Fungsi pemeliharaan;
e. Fungsi memupuk solidaritas;
f. Fungsi pelestarian nilai;
g. Fungsi transformatif;
h. Fungsi memupuk dan memecah kesatuan sosial;
dan
i. Fungsi identitas.
1. Fungsi Sosialisasi Individu
Maksud dari fungsi sosialisasi
individu adalah, agama bisa menjadikan individu (seseorang sebagai individu)
menjadi anggota dari suatu kelompok masyarakat.
Misalnya ketika seorang anak lahir,
ia terlahir sebagai seorang individu saja. Dengan adanya naluri manusia sebagai
mahluk sosial, individu tersebut pasti menginginkan dirinya tergabung dalam
sebuah kelompok masyarakat. Maka anak yang lahir akan dikenalkan oleh orang
tuanya mengenai nilai-nilai agama agar ia bisa menjadi bagian dalam kelompok
masyarakat tersebut. Agama memainkan fungsi untuk menjadikan seseorang diakui
dalam masyarakat.
2. Fungsi Edukatif
Pada kenyataannya, sosialisasi
individu melibatkan banyak institusi untuk pembangunan kohesifitas antara diri
dan kelompoknya. Salah satunya melalui institusi pendidikan, baik formal,
non-formal, maupun informal.
Agama ikut menentukan proses
pendidikan. Sebaliknya, lembaga pendidikan pun ikut mempengaruhi agama. Agama mendidik
manusia untuk menjadi anggota masyarakat yang baik.
3. Fungsi Pengawasan Sosial (social
control)
Aturan-aturan
yang dibuat oleh masyarakat dimaksudkan untuk mempertahankan eksistensi,
menciptakan ketertiban, konsensus, dan keamanan agar tercipta ketertiban dalam
masyarakat.
Agama membuat aturan-aturan
berfungsi secara lebih efektif. Ketertiban sosial yang diawasi oleh hukum,
hanya efektif ketika diawasi aparat. Berbeda dengan ketika diciptakan oleh
agama.
Pertemuan ketujuh (30 Oktober 2014)
Di
pertemuan ketujuh, pembahasan masih melanjutkan uraian mengenai fungsi agama.
Fungsi
Pemeliharaan dan Pelestarian Nilai
Fungsi
pemeliharaan nilai keagamaan akan tampak ketika masyarakat beragama dihadapkan
pada perubahan sosial yang amat cepat, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi.
Salah
satu contohnya adalah, disaat pesatnya perkembangan zaman di era modern ini,
nilai perkastaan agama Hindu masih tetap dijaga. Hal ini bertujuan untuk tetap
melestarikan agama Hindu.
Contoh
lain dalam pemeliharaan adalah tindakan ummat Islam masih tetap menjalankan
ritual shalat jum’at, ataupun kebaktian yang dilakukan ummat Kristiani. Jika tetap
dipertahankan, ritual tersebut akan menyatukan ummat dalam sebuah perkumpulan,
sehingga terciptalah ketertiban sosial sekaligus tetap terpeliharanya eksistensi
agama.
Sekarang
ini, banyak teknologi yang menciptakan sesuatu yang bermanfaat tetapi
mengakibatkan terancamnya eksistensi agama. Maka fatwa agama berusaha
mempertahankan atau memelihara nilai-nilai keagamaan dalam masyarakat.
Fungsi
Transformasi (perubahan, perpindahan)
Perubahan
yang dibuat oleh agama misalnya dalam kasus perbudakan. Sebelum munculnya
agama, perbudakan diperbolehkan. Maka, agama mengubah aturan tersebut menjadi
tidak diperbolehkan.
Namun
pada salah satu kasus, agama justru mengubah aturan agama itu sendiri,
alasannya adalah karena perubahan zaman. Contohnya, dahulu kala, peperangan
atas nama agama adalah sesuatu yang wajar, agama pun memperbolehkannya dengan
alasan-alasan tertentu. Dan pada sekarang ini, justru agama sendiri yang
menimbulkan kesadaran ummat bahwa peperangan bukanlah jalan untuk membela
keutuhan kelompok. Terlebih lagi setelah maraknya pemahaman toleransi yang
diajarkan oleh agama itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar