Tok..tok..tok...
Sekali lagi, nafasmu beradu dengan suara
ketukan di pintu. Kau lihat pergelangan tanganmu, 07:45.
“Aisshh,” kau mendengus, mengutuk dirimu
sendiri yang untuk kesekian kalinya terlambat selama lebih dari setengah jam.
“Masuk,” terdengar suara berat dari
dalam ruangan.
Kau langkahlan kaki dengan canggung. Kedua
belah tanganmu beradu, saling menguatkan satu sama lain.
“Izin masuk, Pak,” lagi, kalimat yang telah
begitu kau hafal, meluncur dari mulutmu.
Yang kau ajak bicara hanya mengangguk. Ia
tak langsung melanjutkan pembicaraan. Kau membuat konsentrasinya terganggu. Daripada
mengingat apa yang hendak ia ucapkan, kehadiranmu justru mengingatkannya pada
kejadian puluhan tahun silam, ketika dia masih berada di ‘posisimu’.
Ia ingat betapa banyak waktu istirahat
yang harus ia korbankan hanya untuk bisa masuk kelas tepat waktu. Di masanya, alangkah
pentingnya arti kedisiplinan; dan di masamu, alangkah pentingnya inovasi cara mendidik,
agar tidak salah di mata hukum.
Kamu menyadari itu. Maka, untuk kesekian
kalinya, kau mengembuskan nafas. Malu...
*Tulisan ini kubuat tepat di penghujung hari guru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar