MAKALAH
Pengertian
Filsafat, Ilmu Dan Agama
(diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas kelompok
Mata Kuliah Pengantar Filsafat)

Disusun oleh :
Astri
Oktia Indriyani (1131020009)
Awwaluddin
Fauzan (1131020010)
PROGRAM
STUDI PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS
USHULUDDIN
UNIVERSITAS
ISLAM
NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2013
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas izin-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ”Hubungan Antara
Filsafat, Ilmu dan Agama”. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas kelompok
pada matakuliah Pengantar Filsafat.
Pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada Bapak dosen mata kuliah Pengantar Filsafat yang telah memberi masukan dan nasehatnya.
Kami menyadari penulisan karya tulis ini masih belum sempurna, untuk itu
kami mengharapkan keritik dan saran yang sifatnya membangun dari Bapak dosen
khususnya, umumnya dari para pembaca demi lebih baiknya karya-karya tulis yang
selanjutnya.
Akhirnya, semoga makalah yang kami susun ini
dapat memberikan manfaat bagi semua pembaca. Amin..
Bandung,
12 September 2013
Peyusun
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ……………………………………………………………………………ii
Daftar isi ……………………………………………………………………… …iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ………………………………………………………………………1
1.2 Rumusan Masalah ………………………………………………………………………2
1.3 Tujuan Penulisan Makalah ………………………………………………………2
1.4 Manfaat Penulisan Makalah ………………………………………………………2
1.4 Metode Penelitian Makalah ………………………………………………………2
BAB II ISI
2.1 Pengertian Filsafat ………………………………………………………………3
2.2 Pengertian Ilmu ………………………………………………………………………4
2.3 Pengertian Agama ………………………………………………………………………5
2.4 Hubungan Antara Filsafat, Ilmu dan Agama ………………………………………5
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ……………………………………………………………………………7
3.2 Saran ……………………………………………………………………………8
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Kemampuan manusia untuk menggunakan akal dalam
memahami lingkungannya merupakan potensi dasar yang memungkinkan manusia
berpikir. Dengan berpikir manusia menjadi mampu melakukan perubahan dalam
dirinya, dan memang sebagian besar perubahan dalam diri manusia merupakan
akibat dari aktifitas berpikir. Oleh karena itu, sangat wajar apabila berpikir
merupakan konsep kunci dalam setiap diskursus mengenai kedudukan manusia di
muka bumi. Ini berarti tanpa berpikir kemanusiaan manusia pun tidak punya makna
bahkan mungkin tidak pernah ada.
Konon, orang yang pertama kali menggunakan akal secara
serius adalah orang yunani yang bernama Thales (kira-kira tahun 624-546 SM).
Orang inilah yang digelari bapak filsafat. setelah kemunculannya, sangat banyak
bermunculan pemikir-pemikir baru dan semakin lama persoalan yang dipikirkan
manusia semakin luas, dan semakin rumit pula pemecahannya.
Pada kira-kira tahun 490 SM, muncul seorang Yunani
yang bernama Zero. Kemunculannya barangkali dapat dianggap menandai mulainya
pemikiran sofisme. Ia behasil membuktikan bahwa ruang kosong itu tidak ada;
pluralis (jamak) itu juga tidak ada; gerak pun tidak ada. Jadi semua yang mapan
dalam pandangan orang awam ketika itu menjadi goyah. Inilah salah satu karya
akal yang hebat itu: kebimbangan.
Puncak kebingungan itu terlihat pada tokoh sofisme
terbesar, yaitu Protagoras. Ia menyatakan bahwa manusia adalah ukuran
segala-galanya. Rumusan inilah yang kemudian disebut dengan relativisme.
Tidak sampai disitu, karena hakekat manusia yang tidak
hanya berakal tetapi juga memiliki hati, dominasi kendali diri oleh keduanya
seringkali bertentangan. Akibat penggunaan akal yang keterlaluan pada zaman
Yunani, orang menjadi bingung; karena kekangan agama yang terlalu di dominasi
oleh hati pada abad pertengahan, pemikiran seperti di rem. Karena alasan
persoalan pertentangan antara hati dan akal inilah kami memilih judul “Hubungan Filsafat, Ilmu dan Agama”,
agar kita mengerti hubungan apa yang saling keterkaitan antara hati dan
pemikiran manusia.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang masalah di atas, penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut,
1.2.1
Apa yang dimaksud dengan filsafat?
1.2.2
Apa yang dimaksud dengan ilmu?
1.2.3
Apa yang dimaksud dengan agama?
1.2.4
Bagaimana hubungan antara filsafat, ilmu dan agama?
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
Sejalan
dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk
mengetahui dan memahami:
1.3.1
Mengetahui pengertian filsafat;
1.3.2
Mengetahui pengertian ilmu;
1.3.3
Mengetahui pengertian agama;
1.3.4
Mengetahui hubungan antara filsafat, ilmu dan agama.
1.4 Manfaat Penulisan Makalah
Makalah
ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoretis maupun
praktis. Secara teoretis makalah ini berguna untuk mengembangkan konsep
penelitian mengenai gambaran tentang filsafat,
ilmu dan agama. Secara praktis makalah ini diharapkan bisa
bermanfaat bagi:
1.4.1
Penulis,
sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep keilmuan khususnya tentang
konsep penelitian masalah-masalah pertentangan
hati dan pikiran manusia yang berhubungan dengan filsafat, ilmu dan agama.
1.4.2
Pembaca,
sebagai media informasi untuk menambah
pengetahuan tentang hubungan antara filsafat, ilmu dan agama.
1.5 Metode Penelitian Makalah
Makalah ini disusun dengan menggunakan
pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode deskritif. Melalui
metode ini penulis akan menguraikan permasalahan yang dibahas secara jelas dan
konprehensif. Data teoretis dalam makalah ini dikumpulkan dengan menggunakan
teknik studi pustaka, artinya penulis mengambil data melalui kegiatan membaca
berbagai literatur yang relevan dengan tema makalah. Data tersebut diolah
dengan teknik analisis isi melalui mengeksposisikan data serta mengaplikasikan
data tersebut dalam konteks tema makalah.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Filsafat
Kata filsafat berasal dari kata arab yang berhubungan rapat
dengan kata Yunani, bahkan asalnya memang dari kata Yunani. Kata Yunaninya
ialah philosophia. Dalam bahasa Yunani, kata philosophia merupakan kata majemuk
yang terdiri atas philo dan Sophia; philo artinya cinta dalam arti yang luas, yaitu
ingin, dan karenanya berusaha mencapai apa yang diinginkannya tersebut; Sophia
artinya kebijakan yang artinya pandai, pengertian yang mendalam. Jadi menurut
namanya saja filsafat boleh diartikan ingin mencapai pandai, cinta pada
kebijakan.[1]
Poedjawijatna (1974:11)
mendefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab
yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka.
Hasbullah Bakry (1971:11)
mengatakan bahwa filsafat ialah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala
sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga
dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat
dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai
pengetahuan itu.
Plato menyatakan bahwa
filsafat ialah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli.
Dan bagi Aristoteles
filsafat adalah pengetahuan yang meliputi kebenaran yang tergabung didalamnya
metafisika, logika, retorika, ekonomi, politik dan estetika.
Sedangkan bagi Al-Farabi
filsafat adalah pengetahuan tentang alam ujud bagaimana hakikatnya yang
sebenarnya.
Munder dalam bukunya
(1966:10) mengajukan definisi filsafat sebagai pemikiran teoritis tentang
susunan keyakinan sebagai keseluruhan.
Perbedaan definisi filsafat
itu menurut Abu Bakar Atjeh (1970:9) disebabkan oleh berbedanya konotasi
filsafat pada tokoh-tokoh itu karena perbedaan keyakinan hidup yang mereka
anut. Perbedaan itu juga dapat muncul karena perkembangan filsafat itu sendiri
yang menyebabkan beberapa pengetahuan khusus memisahkan diri dari filsafat.
maka dapat diambil kesimpulan bahwa perbedaan definisi filsafat antara satu
tokoh dengan tokoh lain disebabkan oleh perbedaan konotasi filsafat pada mereka
masing-masing.
2.2 Pengertian Ilmu
Kata ilmu berasal dari
Bahasa Arab, yaitu ‘ilm yang berarti kejelasan. Sehingga dapat dikatakan bahwa
segala daya upaya manusia mencari ilmu sebenarnya adalah mencari kejelasan.
Ungkapan ‘segala daya upaya
manusia’ dalam mencari kejelasan menandakan bahwa kata ilmu memiliki makna yang
luas. Artinya apapun bentuk tindakan mengenal, memilirkan serta memahami yang
dilakukan manusia terhadap suatu objek bisa dikategorikan sebagai ilmu.
Menurut Thomas Kuhn, ilmu
adalah himpunan aktivitas yang menghasilkan banyak penemuan, baik dalam bentuk
penolakan maupun pengembangannya.
NS Asmadi berpendapat, bahwa
ilmu merupakan sekumpulan pengetahuan yang padat dan proses mengetahui
penyelidikan yang sistematis dan terkendali (metode ilmiah).
Menurut DR. H. M. Gade, ilmu
adalah falsafah. Yaitu hasil pemikiran tentang batas-batas kemungkinan
pengetahuan manusia.
Minto Rahayu mendefinisikan
ilmu adalah pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dan berlaku umum.
Sedangkan pengetahuan adalah pengalaman yang bersifat pribadi/kelompok yang
belum disusun secara sistematis karena belum dicoba dan diuji.
Hanya saja, Prof.Quraish
shihab selanjutnya menambahkan bahwa kata ilmu lebih banyak tidak melekat pada
manusia tetapi pada tuhan. Yaitu ‘alim yang berkata kerja ya’lam (Dia
mengetahui). hal ini memperkuat dugaan bahwa perlakuan istimewa umat islam atas
makna ‘ilmu’ menjadi lebih beralasan lagi. Menurut Qurais Shihab, istilah yang
lebih banyak melekat pada manusia adalah kata ‘arafa (mengetahui), a’rif (yang
mengetahui) dan ma’rifah (pengetahuan). Lepas dari hirarki religi atas konsep
ilmu ini, nampaknya makna ilmu sepadan dengan makna pengetahuan (knowledge).[2]
2.3 Pengertian Agama
Secara etimologi, kata agama
berasal dari bahasa sansakerta yang berasal dari akar kata ‘gam’ yang artinya
pergi. Kemudian akar kata gam tersebut mendapat awalan ‘a’ dan akhiran ‘a’,
maka terbentuklah kata agama yang artinya jalan. Maksudnya jalan untuk mencapai
kebahagiaan.
Disamping itu, ada pendapat
yang menyatakan bahwa kata agama berasal dari bahasa sansakerta yang akar
katanya adalah ‘a’ dan ‘gama’. ‘A’ artinya tidak dan ‘gama’ artinya kacau. Jadi
agama artinya tidak kacau atau teratur. Maksudnya, agama adalah peraturan yang
dapat membebaskan manusia dari kekacauan yang dihadapi dalam hidupnya, bahkan
menjelang matinya.
Ada hal yang menjadikan
sulit dalam mengartikan agama, menurut Prof. Dr. Mukti ali, ahli ilmu
perbandingan agama, mengemukakan tiga alasan:
a.
Agama merupakan soal batin dan subyektif;
b.
Melibatkan emosional dalam membicarakannya;
c.
Definisi agama akan dipengaruhi oleh tujuan orang yang
mendefinisikannya.
Para
ahli dalam menerjemahkannya menempuh beberapa cara:
a.
Dengan metode analisis etimologis. Yaitu dengan cara menganalisa konsep
bahasa;
b.
Dengan analisis deskriptif. Yaitu dengan menganalisa gejala dan fenomena
agama dalam kehidupan nyata.
Berdasarkan bahan bacaan,
kita mengetahui akan banyaknya definisi agama. Dari sekian banyak definisi itu agaknya
dapat dibagi menjadi dua kelompok. Yang pertama ialah definisi agama yang
menekankan segi rasa iman atau kepercayaan, yang kedua menekankan segi agama
sebagai peraturan tentang cara hidup. Kombinasi keduanya mungkin merupakan
definisi yang lebih memadai tentang agama. Agama ialah system kepercayaan dan
praktek yang sesuai dengan kepercayaan tersebut. Dapat juga diartikan bahwa
agama adalah peraturan tentang cara hidup, lahir-batin.
2.4 Hubungan Antara Filsafat, Ilmu dan Agama
Pada dasarnya, ada dua kekuatan yang mewarnai keadaan dunia, yaitu agama
dan filsafat. kedua hal tersebutlah yang mendominasi dalam diri manusia. Namun
terkadang salah satunya lah yang mendominasi. Hingga apabila akal yang mendominasi,
berpengaruh pada rohani seseorang yang pada akhirnya menyebabkan
ketidakpercayaannya pada tuhan. Jika hati yang mendominasi, akal manusia
seperti tidak berfungsi, tidak ada pemikiran-pemikiran yang mendalam tentang
hidup.
Agama
berbeda dengan sains dan filsafat karena agama menekankan keterlibatan pribadi.
Kemajuan spiritual manusia dapat diukur dengan tingginya nilai yang tak
terbatas yang ia berikan kepada obyek yang ia sembah. Seseorang yang religius
merasakan adanya kewajiban yang tak bersyarat terhadap zat yang ia anggap
sebagai sumber yang tertinggi bagi kepribadian dan kebaikan.
Agama
tak dapat dipisahkan dari bagian-bagian lain dari kehidupan manusia, jika ia
merupakan reaksi terhadap keseluruhan wujud manusia terhadap loyalitasnya yang
tertinggi. Sebaiknya, agama harus dapat dirasakan dan difikirkan: ia harus
diyakini, dijelaskan dalam tindakan (Titus,
1987:414).
Baik
ilmu, filsafat ataupun agama bertujuan–sekurang-kurangnya berurusan dengan hal
yang–sama yaitu kebenaran. Namun
titik perbedaannya terletak pada sumbernya,
ilmu dan filsafat berumur pada ra’yu (akal, budi, rasio, reason, nous, vede,
vertand, vernunft) manusia.
Sedangkan
agama bersumberkan wahyu. Disamping itu ilmu pengetahuan
mencari kebenaran dengan jalan
penyelidikan (riset, research), pengalaman (empiri) dan percobaan (eksperimen)
sebagai batu ujian.
Filasafat
menghampiri kebenaran dengan exploirasi akal budi secara radikal (mengakar);
tidak merasa terikat oleh ikatan apapun, kecuali oleh ikatan tangannya sendiri
bernama logika.
Manusia
mencari dan menemukan kebenaran dengan dan dalam agama dengan jalan
mempertanyakan pelbagai masalah asasi dari atau kepada kitab suci.
Kebenaran
ilmu pengetahuan adalah kebenaran positif (berlaku sampai dengan saat ini),
kebenaran filsafat adalah kebenaran
spekulatif (dugaan yang tidak dapat dibuktikan secara empiri, riset dan
eksperimental).
Baik
kebenaran ilmu maupun kebenaran filsafat kedua-duanya nisbi (relatif).
Sedangkan kebenaran agama bersifat mutlak (absolut) karena agama adalah wahyu
yang diturunkan Allah.
Baik
ilmu maupun filsafat dimulai dengan sikap
sanksi dan tidak percaya. Sedangkan agama dimulai dengan sikap percaya atau iman (Annshari, 1996:158-160).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
- Dengan filsafat, seseorang akan lebih menjadi manusia, karena terus melakukan perenungan dan menganalisa hakikat jasmani dan hakikat rokhani manusia dalam kehidupan di dunia agar bertindak bijaksana.
- Dengan berfilsafat seseorang dapat memahami makna hakikat hidup manusia, baik dalam lingkup pribadi maupun social. Dengan berfilsafat seseorang akan mampu memberi arti terbaik, unggul dan integral terhadap makna hidup, dan sanggup memahami keunggulan dan kelemahan diri, sehingga dapat memperkokoh kepribadian diri.
- Kebiasaan menganalisa segala sesuatu dalam hidup seperti yang diajarkan dalam metode berfilsafat, akan menjadikan seseorang cerdas, kritis, sistematis, dan obyektif dalam melihat dan memecahkan beragam problema kehidupan, sehingga mampu meraih kualitas, keunggulan dan kebahagiaan hidup.
- Belajar filsafat akan melatih seseorang untuk mampu meningkatkan kualitas berpikir secara mandiri, mampu membangun pribadi yang berkarakter, tidak mudah terpengaruh oleh factor eksternal, tetapi disisi lain masih mampu mengakui harkat martabat orang lain. Karena itu, belajar filsafat akan mendorong tumbuhnya sikap mentela kompetitif secara sehat dan berkualitas.
- Belajar filsafat akan memberikan dasar-dasar semua bidang kajian pengetahuan, memberikan pandangan yang sintesis atau pemahaman atas hakikat kesatuan semua pengetahuan yang baik. Karena berfikir filsafat selalu mendorong seseorang untuk membangun keterbukaan berpikir, ketelitian dan melakukan analisis terdalam, serta terdorong untuk melakukan inovasi berdasarkan penemuan terbaru (invention) (Jhonstone, H.W. 1968; Tafsir, 2004; Sudiarja, dkk.2006)
- Selain berfilsafat, manusia juga harus menyeimbanginya dengan beragama. Karena filsafat dan agama merupakan dua hal yang berbeda. Kita tidak akan mendapatkan kepuasan batin jika hanya berfilsafat, dan kita tidak akan mendapat kenikmatan dunia secara utuh jika hanya beragama.
- Manusia ideal adalah manusia yang utuh, yaitu manusia yang menggunakan indera, akal, dan hatinya secara seimbang. Manusia yang jalan hidupnya ditentukan oleh indera, akal, dan hatinya, secara seimbang sekaligus dan menyeluruh.
3.2 Saran
Sejalan
dengan kesimpulan diatas, penulis merumuskan saran yaitu:
Sebagai manusia yang memiliki akal
dan pikiran, kita hendaknya menyeimbangkan keduanya. Karena kita tidak hanya
memerlukan kepuasan jasmani, tetapi juga memerlukan ketenangan rohani.
[2] M. Quraish shihab, Wawasan Al-Qur’an, Tafsir Maudhu’I atas
Pelbagi Persoalan Umat. Mizan bandung, hlm 434-435
DAFTAR PUSTAKA
Tafsir, Ahmad.
2005. Filsafat Umum. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya
Irawan. 2007.
Filsafat Sains. Bandung: Intelekia Pratama