Senin, 19 Januari 2015

CERPEN: PERGI



Kau embuskan napas berat. Butir pertama jatuh dari kelopak matamu yang terpejam. Kau masih bergumam, menyanyikan lagu yang beberapa detik lagi akan kau tenggelamkan.
Semalam, telapak tanganmu mendarat di pipinya. Kue perayaan hari jadi hubunganmu menjadi saksi penghianatannya. Masih kau rasakan genggamannya pada lenganmu, saat mencegah kakimu menjauh.
“Tidak ada yang salah. Jalan buntulah yang membuatku memutuskan untuk berjalan mundur. Berharap menemukan arah yang tepat, berharap suatu saat dipertemukan di tempat terbaik. Saat kita sudah sama-sama dewasa, saat salah satu di antara kita rela mengulurkan tangan, meski kita sendiri merasa lelah,” untuk terakhir kali, kalimat sepanjang itu meluncur dari bibirmu.
Cepat kau gelengkan kepala. Tak ada lagi gumam, tak ada lagi kenangan.
Gulungan ombak pembawa pesan mulai menjauh. Meninggalkanmu sendirian, dan kamu kesepian.

Selasa, 13 Januari 2015

CERPEN : KINARA



Matahari benar-benar tak terlihat lagi setelah aku keluar dari bangunan putih itu. Aroma khasnya masih kental di hidungku. Menyengat! Di tengah langit yang sudah menghitam, yang seakan tak lama lagi akan menyemburkan air yang menggantung di dalamnya, aku menyeret kaki menuju mobil yang pintunya telah terbuka,  Selly yang membukakannya.
Hari ini tak secerah biasanya, aku pun begitu. Sejak tadi siang, mendung membungkus Jakarta; Membungkus hatiku, membungkus jiwa Dave pula. Ah, kejadian siang tadi masih begitu menyesakkan. Tapi masih lebih menyesakkan sekarang, saat Dave tak menemaniku keluar dari rumah sakit. Bahkan sejak aku tak sadar, tak sekalipun aku melihat keberadaanya.
Sama seperti kemarin, hari ini pun aku hanya ditemani Selly—yang justru adalah sahabat baik Dave. Selly adalah satu-satunya wanita yang dekat dengan Dave yang aku percaya. Entah mengapa, aku merasakan ketulusannya.
Benar saja, awan menumpahkan bebannya sesaat setelah mobil yang dikendarai Selly melaju meninggalkan salah satu rumah sakit besar di Jakarta itu. Sepertinya ini mulai malam, walau aku tak yakin. Karena kalaupun ini masih sore, lampu-lampu jalanan pasti akan dinyalakan. Sangat sulit melihat diantara mendung, gelap dan hujan—sebenarnya masih gerimis.
Aku membuka kaca mobil dipinggirku. Tak ku hiraukan larangan Selly, bahkan mengeluarkan sedikit saja suara untuk sekedar meyakinkan bahwa aku mendengarnyapun aku tak rela. Tapi tak apa, aku tahu dia tak akan memaksa. Tak akan pernah! Bukan hanya dia, bahkan siapapun!
Butir-butir air mulai menerobos celah kaca yang terbuka, menyapa lembut pipiku yang terasa panas sejak siang tadi. Aku selalu menikmati saat-saat seperti ini. Air hujan yang menyentuhku rasanya sedikit meredakan penat.
Aku menatap ramainya jalanan ditengah rasa sepi, aku tetap memicingkan mata untuk menyulap lampu kota menjadi gemintang. Ya, kebiasaan yang sering aku lakukan, rasanya sepertiiii aku sangat dekat dengan bintang-bintang. Apalagi sekarang, gumpalan hitam awan menutup sebagian besar langit Jakarta, tak satupun cahaya bintang yang nampak, maka lampu-lampu jalanan sempurna menggatikannya. Tapii, tak seindah biasanya, karena kali ini tak ada punggung dihadapanku. Ya, biasanya aku menikmati saat-saat seperti ini bersamanya. Memicingkan mata, merentangkan tangan, dan duduk diatas vespa. Selalu dibelakang punggungnya, punggung Dave.
Sesaat kemudian aku merasakan pipiku kembali memanas disusul tetesan air yang menetralkannya.
“Ada apa lagi, Kinar?” Selly menatapku, megusap air mata di pipiku dengan sebelah tangannya yang tak memegang kemudi.
“Tega sekali dia, Sell,” aku membalas tatapannya.
“Sudahlah, itu tidak seperti yang kamu bayangkan. Pasti! Aku lama mengenal Dave. Nar”
“Aku yang jauh lebih mengenal dia!” mataku membesar
“Eu..eummm ia, Kinar. Kamu tentu yang jauh lebih mengenal dia. Maafkan aku” Selly menjawab gugup.
Aku kembali menatap keramaian malam di Jakarta, meskipun dalam keadaan hujan seperti sekarang ini sekalipun, tak ada bedanya. Warung-warung pinggir jalan justru terlihat lebih ramai, dipadati orang-orang yang perjalanannya terhalang hujan. Mungkin sebagian besar baru pulang dari kantor, sebagian lagi hanya jalan-jalan. Entahlah.
Ditengah keramaian seperti itu, satu yang membuat aku terpesona, saat mataku menangkap pemandangan yang menenangkan. Keluarga kecil yang mungkin juga menunggu hujan reda di pinggir jalan. Tiga anggota keluarga. Seorang ayah dan ibu, keduanya masih terlihat muda, mungkin usianya sekitar 25 atau 30 tahunan. Sang ayah mengenakan jas hujan, sebelah tangannya mengacungkan payung untuk perempuannya. Satu orang yang lain berlindung dalam pangkuan perempuan tadi. Dia masih sangat kecil,  mungkin bayi. Indah sekali melihatnya.
Aku pun akan seperti itu, tentu bersama Dave.
Hmm setelah lama mengamatinya, menatap kedamaian disertai rasa sesak yang masih mendominasi hati, aku menghembuskan nafas, tersenyum, dan mulai memejamkan mata.

*       

Aku terbangun dengan mata sembab. Ya, masih lelah rasanya. Pergelangan tanganku pun masih sakit. Seperti sebulan terakhir, hari ini Selly menginap dirumahku, dan tak seperti biasanya, pagi ini ia akan membantu melepaskan perban yang membungkus sebagian pergelangan tanganku. Tidak lebih baik dari kemarin, masih begitu perih.
“Kamu seharusnya dirawat, Nar. Kamu sudah mengeluarkan terlalu banyak darah. Lihat keadaanmu sekarag,” Selly datang dari balik pintu kamarku, langsung membuka gordeng. Cahaya matahari berebut masuk meski mendung kemarin masih tersisa. Pagi ini tak begitu terang.
“Aku tak pernah selemas ini,” jawabku singkat.
Kejadian kemarin masih sangat jelas dalam ingatanku. Dave duduk dibalik kursi ruang tamu rumahnya saat aku bermaksud mengejutkan dia dengan keberadaanku. Kukira dia hanya sendiri, ternyata ada seseorang yang lain dibalik kursi, duduk di lantai, buku-buku berserakan diatas meja di hadapannya.
Aku rasa otakku bekerja senormal biasanya, aku selalu tak rela Dave bersama wanita lain. Keributan pun terjadi, aku begitu muak. Tak begitu jelas medengar apa yang Dave katakan, bagiku semuanya hanya bualan. Seperti biasa, aku bertekad menghabisi wanita yang sama sekali tak ku kenal. Aku mencekiknya! Dave bilang wanita itu hanya teman kuliahnya. Tapi siapa yang mengira aku akan percaya?
Wanita itu tak melawan. Matanya membesar saat aku berhasil melingkarkan tanganku dilehernya, menekannya kuat. Tapi Dave mendorongku. Entah apa yang ada dipikirannya saat itu, sampai aku tak yakin apakah dia masih mencintaiku. Cengkraman tangan Dave begitu kuat. Dadaku sesak. Pisauku keluar tanpa komando, aku mengancam! Tapi kali ini Dave tak peduli, aku lantas menggoreskannya di pergelangan tangan. Entah apa lagi yang terjadi. Sial!
“Kau terlalu cantik untuk cemburu kepadanya,” Selly membuyarkan lamunanku
Aku hanya tersenyum ketus
“Kau pun terlalu pintar untuk melakukan hal sebodoh itu” Selly melanjutkan
“Apalagi yang bisa dilakukan untuk menghadapi wanita sialan itu?”
“Sudahlah, Kinar. Kau tak mengenalnya. Bahkan sama sekali tak mendengarkan penjelasan Dave.”
Otakku kembali mendidih mendengar pembelaan Selly. Ia menyadari perubahan sikapku, lantas minta maaf.
Selly tak semendamaikan biasanya, batinku.

*       

“Sulit, Dave! Menyembuhkan seorang psikopat bukanlah hal yang mudah,” Selly menegaskan
“Apa gunanya ilmu psikologi yang kamu pelajari selama ini? Kamu itu psikolog, Selly!” sindir Dave kecewa
“Kamu pikir  psikopat itu bodoh? Mereka bahkan jauh lebih pintar dari kita”
“Jika benar mereka pintar, mana mungkin Kinar melakukan hal sebodoh itu. Percobaan pembunuhan itu tidak hanya sekali dua kali ia lakukan, Selly!”
“Itu karena dia terobsesi kepadamu! Tidakkah kamu mengerti?”
“Haha terobsesi? Bahkan itu berarti dia tidak mencintaiku”
“Cara dia mencintai berbeda dengan kita Dave. Orang-orang seperti Kinar punya dunianya sendiri. Terkadang cara pandang mereka pun tidak kita pahami, ya seperti sekarang ini. Bahkan yang ia sebut cinta pun kita kenal dengan nama obsesi. Obsesi itulah yang menurutnya cinta, Dave! Kamu sendiri, apa kamu mencintainya?”
“Apa gunanya aku korbankan waktuku selama ini jika aku tak mencintainya? Kamu harusnya menyadari, aku tak sedikitpun berniat melepaskannya. Aku hanya ingin dia senormal kita. Mencintai dengan cara yang lebih manusiawi,” Dave mengeluh
“Jika benar kamu mencintainya, lantas mengapa kamu tak bisa menerima kondisinya? Kenapa kamu tak menerima dia apa adanya?” Selly mulai mendesak, gemas.
 “Karena bagiku, cinta tak harus lantas menerima apa adanya, menelan kata apa adanya dengan mentah-mentah. Apa adanya itu menerima semua hasil usaha, bukan menerima kejelekan yang sama sekali tak hendak diperbaiki. Aku ingin dia berusaha, Selly. Bukan ingin dia sempurna! Caraku mencintainya adalah membantunya berusaha menjadi lebih baik. Aku ingin dia normal.”
“Dia normal, Dave. Dia pun tak pernah menghendaki semua ini. Menjadi seorang psikopat sama sekali tak ia harapkan. Ia hanya tak menyadarinya.”
“Itu sebabnya aku meminta bantuanmu.”
Hening... Hujan kembali mengguyur sore Jakarta. Cafe yang mereka tempati sekarang cukup lengang, tak memperumit keadaan.
            Rahangku mengeras, sebelah tangan menggenggam pisau yang sedari tadi bersembunyi diantara jari-jari mungilku. Aku benar-benar tak habis pikir ternyata Dave tak bisa menerima keadaanku. Mungkin dia menganggapku gila, sama seperti yang lainnya. Kupikir di dunia ini hanya Dave satu-satunya orang yang menganggapku normal. Ternyata aku salah besar, dia menganggapku gila seperti yang lainnya, bahkan Selly pun sama saja walau ia menggunakan kata yang lebih halus—yang tetap saja aku benci, Psikopat!
            Aku melangkah keluar dari persembunyian, keduanya menoleh, menyadari keberadaanku. Selly refleks membuka mulutnya, bola matanya membesar, alis Dave berkerut walau ia terlihat sedikit leih tenang dibanding Selly. Aku melangkahkan kakiku cepat, menuju meja yang mereka tempati. Pisau yang sedari tadi kugenggam telah lebih dahulu bersembunyi di balik tas, aku belajar dari obrolan mereka, tak ingin pengunjung cafe sama menganggapku gila.
            Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku. Aku menarik tangan Dave, memaksanya memasuki mobil yang aku parkir di depan Cafe. Langkahku cepat, tangan Dave masih kucengkram, orang-orang di sekitar cafe memandang kami yang tak menghiraukan mereka. Selly masih bersandar di kursinya, tak bersuara.
“Kinar, dengarkan penjelasanku dulu!” Dave mulai panik saat aku menginjak gas, kecepatan tinggi.
“Diam!” Aku menjawabnya singkat, entah ia mendengarnya atau tidak
“Kinar, ini benar-benar tidak seperti apa yang kamu bayangkan. Apa kamu dengar kalau aku mencitamu? Kau harus mendengarkan penjelasanku”
“Apa lagi yang harus aku dengarkan? Kamu memang sama saja dengan yang lainnya, menganggapku gila!” Suaraku meninggi
“Tidak seperti itu, Kinara! Biar aku yang mengemudi. Kita bisa mati, Kinar!”
“Haha jika justru itu yang aku inginkan, lantas apa yang akan kamu lakukan, hah? Jika kamu akhirnya akan meninggalkanku karena menganggap aku gila, maka lebih baik kita mati. Tak ada yang bisa memilikimu selain aku!”
“Siapa yang akan meninggakanmu? Aku mencintaimu, Kinar. Aku hanya ingin kamu bisa mengendalikan emosimu, tak lagi berusaha menyakiti dirimu sendiri, dan juga membahayakan nyawa orang lain”
“Hahaha.. Tak kusangka kamu benar-benar tak mengerti, Dave! Kalaupun ada nyawa yang harus aku korbankan, bukan karena aku menginginkannya, tapi karena aku menginginkanmu!”
Aku tak memperlambat laju mobil, justru menaikan kecepatan. Dave seakan tak berkutik, tak tahu apa yang harus ia lakukan, lantas hanya mengencangkan sabuk pengamannya.
Mobil yang kukendarai dengan cepat membelah ibu kota, seakan ingin cepat sampi ke suatu tempat walau aku sendiri pun tak tahu tempat macam apa yang hendak aku tuju. Aku tak bisa berpikir, tak bisa merasakan keadaan sekitar. Ditengah ketidak-karuan itu, aku tak menyadari mobilku menerobos lampu merah, dua mobil yang sedang melaju menyeret mobil yang aku kendarai. Mobilku berguling. Teriakan orang-orang di sekitar mengalahkan suara mobil yang berderit, menghilangkan sebagian kesadaranku. Dave berteriak, tangannya berusaha menggapai tubuhku sebelum kepalanya membentur kaca. Kulihat Dave memejamkan mata, darah mengucur dari bagian kepalanya. Aku ingin menggapai tubuhnya kalau saja kakiku tak terjepit, tak lagi kuingat apapun. Gelap.

*       
            Pagi ini ada yang berbeda, angin menyapa lembut pori-poriku, membelai sebagian rambutku yang terurai. Aku tak mengikatnya dengan benar. Ini adalah udara tersegar yang pernah aku hirup, meski belum sepenuhnya. Dua bulan setelah kecelakaan mengerikan itu, aku dibolehkan meninggalkan rumah sakit dengan berbagai aturan yang biasa diberikan dokter. Kali ini aku tak melawan. Ya, dalam dua bulan terakhir aku merasakan diriku yang berbeda, bahkan tak ada lagi yang menyebutku gila. Aku merasa tak punya energi lagi, meski sebenarnya ketakutanku tentang Dave dan wanita lain semakin meningkat. Apa yang bisa dibanggakan dari kondisiku sekarang ini?
            Aku meminta Dave menemaniku berkeliling taman, masih di lingkungan rumah sakit. Seperti biasa, aku berlindung dibalik punggung Dave, meski kali ini tanpa vespa.
“Kita istirahat dulu disini, ya?” Dave menawarkan
“Ya, kamu pasti lelah,” Aku yakin, senyumanku masih semanis dulu
            Dave duduk di sebelahku, merangkul bahuku yang masih lemah. Aku merasa terlindungi.
“Maafkan aku, Dave,”
“Kamu telah mengatakannya berulang kali, Kinar. Bahkan aku hafal apa yang akan kamu ucapkan selanjutnya,” ia tersenyum. “Dan aku bingung harus memaafkan kesalahanmu yang mana, karena kamu bahkan selalu membuat aku tersenyum,” kali ini ia membelai rambutku
“Aku selalu menyakiti tubuhmu,” aku menatap matanya, mata yang selalu meluluhkan hatiku. Aku selalu mengenal mata itu. Di dunia ini, tak ada seorangpun yang bermata ketenangan, hanya dave. Daveku! Air mataku menetes. Butiran pertama.
“Tidak, sayang. Kau menyayangiku”
“Harusnya aku bisa mengendalikan diriku”
“Harusnya aku bisa menjaga hatimu”
“Aku berbeda”
“Kamu istimewa!”
Air mataku tumpah sekarang, tak kusangka Dave begitu menyayangiku, bahkan lebih dari apa yang aku harapkan selama ini.
“Kinar, dengarkan aku. Aku selalu punya alasan untuk mencintaimu, tapi tak pernah punya alasan untuk meninggalkanmu”
“Dave,”
Dave memelukku, aku terisak di balik dekapannya.
Selang berapa lama, Dave mengajakku pulang saat matahari mulai meninggi.
Aku menyesal dan benci dengan kondisiku sekarang ini.
Tapi setidaknya, sejak saat itu aku akan selalu bersama dave, mendekapnya dari belakang, merasakan kehangatannya.
Tapi hal yang paling aku benci adalah ketika menyadari bahwa pundak Dave akan semakin membungkuk karena berat badanku. Aku benci untuk tidak berjalan. Aku benci harus kehilangan kakiku! Dan aku benci karena Dave lebih suka menggendongku daripada mendorongku dari belakang kursi roda.
Ah, Dave.. kau begitu menyebalkan!