Matahari benar-benar tak terlihat
lagi setelah aku keluar dari bangunan putih itu. Aroma khasnya masih kental di
hidungku. Menyengat! Di tengah langit yang sudah menghitam, yang seakan tak
lama lagi akan menyemburkan air yang menggantung di dalamnya, aku menyeret kaki
menuju mobil yang pintunya telah terbuka,
Selly yang membukakannya.
Hari ini tak secerah biasanya, aku
pun begitu. Sejak tadi siang, mendung membungkus Jakarta; Membungkus hatiku,
membungkus jiwa Dave pula. Ah, kejadian siang tadi masih begitu menyesakkan.
Tapi masih lebih menyesakkan sekarang, saat Dave tak menemaniku keluar dari rumah
sakit. Bahkan sejak aku tak sadar, tak sekalipun aku melihat keberadaanya.
Sama seperti kemarin, hari ini
pun aku hanya ditemani Selly—yang justru adalah sahabat baik Dave. Selly adalah
satu-satunya wanita yang dekat dengan Dave yang aku percaya. Entah mengapa, aku
merasakan ketulusannya.
Benar saja, awan menumpahkan
bebannya sesaat setelah mobil yang dikendarai Selly melaju meninggalkan salah
satu rumah sakit besar di Jakarta itu. Sepertinya ini mulai malam, walau aku
tak yakin. Karena kalaupun ini masih sore, lampu-lampu jalanan pasti akan
dinyalakan. Sangat sulit melihat diantara mendung, gelap dan hujan—sebenarnya masih
gerimis.
Aku membuka kaca mobil
dipinggirku. Tak ku hiraukan larangan Selly, bahkan mengeluarkan sedikit saja
suara untuk sekedar meyakinkan bahwa aku mendengarnyapun aku tak rela. Tapi tak
apa, aku tahu dia tak akan memaksa. Tak akan pernah! Bukan hanya dia, bahkan siapapun!
Butir-butir air mulai menerobos
celah kaca yang terbuka, menyapa lembut pipiku yang terasa panas sejak siang
tadi. Aku selalu menikmati saat-saat seperti ini. Air hujan yang menyentuhku
rasanya sedikit meredakan penat.
Aku menatap ramainya jalanan
ditengah rasa sepi, aku tetap memicingkan mata untuk menyulap lampu kota
menjadi gemintang. Ya, kebiasaan yang sering aku lakukan, rasanya sepertiiii
aku sangat dekat dengan bintang-bintang. Apalagi sekarang, gumpalan hitam awan
menutup sebagian besar langit Jakarta, tak satupun cahaya bintang yang nampak, maka
lampu-lampu jalanan sempurna menggatikannya. Tapii, tak seindah biasanya,
karena kali ini tak ada punggung dihadapanku. Ya, biasanya aku menikmati
saat-saat seperti ini bersamanya. Memicingkan mata, merentangkan tangan, dan
duduk diatas vespa. Selalu dibelakang punggungnya, punggung Dave.
Sesaat kemudian aku merasakan
pipiku kembali memanas disusul tetesan air yang menetralkannya.
“Ada apa lagi, Kinar?” Selly menatapku, megusap air mata di
pipiku dengan sebelah tangannya yang tak memegang kemudi.
“Tega sekali dia, Sell,” aku membalas tatapannya.
“Sudahlah, itu tidak seperti yang kamu bayangkan. Pasti! Aku
lama mengenal Dave. Nar”
“Aku yang jauh lebih mengenal dia!” mataku membesar
“Eu..eummm ia, Kinar. Kamu tentu yang jauh lebih mengenal
dia. Maafkan aku” Selly menjawab gugup.
Aku kembali menatap keramaian
malam di Jakarta, meskipun dalam keadaan hujan seperti sekarang ini sekalipun, tak
ada bedanya. Warung-warung pinggir jalan justru terlihat lebih ramai, dipadati
orang-orang yang perjalanannya terhalang hujan. Mungkin sebagian besar baru
pulang dari kantor, sebagian lagi hanya jalan-jalan. Entahlah.
Ditengah keramaian seperti itu,
satu yang membuat aku terpesona, saat mataku menangkap pemandangan yang
menenangkan. Keluarga kecil yang mungkin juga menunggu hujan reda di pinggir
jalan. Tiga anggota keluarga. Seorang ayah dan ibu, keduanya masih terlihat
muda, mungkin usianya sekitar 25 atau 30 tahunan. Sang ayah mengenakan jas
hujan, sebelah tangannya mengacungkan payung untuk perempuannya. Satu orang
yang lain berlindung dalam pangkuan perempuan tadi. Dia masih sangat kecil, mungkin bayi. Indah sekali melihatnya.
Aku pun akan seperti itu, tentu bersama Dave.
Hmm setelah lama mengamatinya,
menatap kedamaian disertai rasa sesak yang masih mendominasi hati, aku
menghembuskan nafas, tersenyum, dan mulai memejamkan mata.
Aku terbangun dengan mata sembab.
Ya, masih lelah rasanya. Pergelangan tanganku pun masih sakit. Seperti sebulan
terakhir, hari ini Selly menginap dirumahku, dan tak seperti biasanya, pagi ini
ia akan membantu melepaskan perban yang membungkus sebagian pergelangan
tanganku. Tidak lebih baik dari kemarin, masih begitu perih.
“Kamu seharusnya dirawat, Nar. Kamu sudah mengeluarkan
terlalu banyak darah. Lihat keadaanmu sekarag,” Selly datang dari balik pintu
kamarku, langsung membuka gordeng. Cahaya matahari berebut masuk meski mendung
kemarin masih tersisa. Pagi ini tak begitu terang.
“Aku tak pernah selemas ini,” jawabku singkat.
Kejadian kemarin masih sangat
jelas dalam ingatanku. Dave duduk dibalik kursi ruang tamu rumahnya saat aku
bermaksud mengejutkan dia dengan keberadaanku. Kukira dia hanya sendiri, ternyata
ada seseorang yang lain dibalik kursi, duduk di lantai, buku-buku berserakan diatas
meja di hadapannya.
Aku rasa otakku bekerja senormal
biasanya, aku selalu tak rela Dave bersama wanita lain. Keributan pun terjadi,
aku begitu muak. Tak begitu jelas medengar apa yang Dave katakan, bagiku semuanya
hanya bualan. Seperti biasa, aku bertekad menghabisi wanita yang sama sekali
tak ku kenal. Aku mencekiknya! Dave bilang wanita itu hanya teman kuliahnya.
Tapi siapa yang mengira aku akan percaya?
Wanita itu tak melawan. Matanya
membesar saat aku berhasil melingkarkan tanganku dilehernya, menekannya kuat. Tapi
Dave mendorongku. Entah apa yang ada dipikirannya saat itu, sampai aku tak yakin
apakah dia masih mencintaiku. Cengkraman tangan Dave begitu kuat. Dadaku sesak.
Pisauku keluar tanpa komando, aku mengancam! Tapi kali ini Dave tak peduli, aku
lantas menggoreskannya di pergelangan tangan. Entah apa lagi yang terjadi.
Sial!
“Kau terlalu cantik untuk cemburu kepadanya,” Selly
membuyarkan lamunanku
Aku hanya tersenyum ketus
“Kau pun terlalu pintar untuk melakukan hal sebodoh itu” Selly
melanjutkan
“Apalagi yang bisa dilakukan untuk menghadapi wanita sialan
itu?”
“Sudahlah, Kinar. Kau tak mengenalnya. Bahkan sama sekali
tak mendengarkan penjelasan Dave.”
Otakku kembali mendidih mendengar
pembelaan Selly. Ia menyadari perubahan sikapku, lantas minta maaf.
Selly tak
semendamaikan biasanya, batinku.
“Sulit, Dave! Menyembuhkan seorang psikopat bukanlah hal
yang mudah,” Selly menegaskan
“Apa gunanya ilmu psikologi yang kamu pelajari selama ini?
Kamu itu psikolog, Selly!” sindir Dave kecewa
“Kamu pikir psikopat
itu bodoh? Mereka bahkan jauh lebih pintar dari kita”
“Jika benar mereka pintar, mana mungkin Kinar melakukan hal
sebodoh itu. Percobaan pembunuhan itu tidak hanya sekali dua kali ia lakukan, Selly!”
“Itu karena dia terobsesi kepadamu! Tidakkah kamu mengerti?”
“Haha terobsesi? Bahkan itu berarti dia tidak mencintaiku”
“Cara dia mencintai berbeda dengan kita Dave. Orang-orang
seperti Kinar punya dunianya sendiri. Terkadang cara pandang mereka pun tidak
kita pahami, ya seperti sekarang ini. Bahkan yang ia sebut cinta pun kita kenal
dengan nama obsesi. Obsesi itulah yang menurutnya cinta, Dave! Kamu sendiri,
apa kamu mencintainya?”
“Apa gunanya aku korbankan waktuku selama ini jika aku tak
mencintainya? Kamu harusnya menyadari, aku tak sedikitpun berniat
melepaskannya. Aku hanya ingin dia senormal kita. Mencintai dengan cara yang
lebih manusiawi,” Dave mengeluh
“Jika benar kamu mencintainya, lantas mengapa kamu tak bisa
menerima kondisinya? Kenapa kamu tak menerima dia apa adanya?” Selly mulai
mendesak, gemas.
“Karena bagiku, cinta
tak harus lantas menerima apa adanya, menelan kata apa adanya dengan mentah-mentah. Apa adanya itu menerima semua
hasil usaha, bukan menerima kejelekan yang sama sekali tak hendak diperbaiki.
Aku ingin dia berusaha, Selly. Bukan ingin dia sempurna! Caraku mencintainya
adalah membantunya berusaha menjadi lebih baik. Aku ingin dia normal.”
“Dia normal, Dave. Dia pun tak pernah menghendaki semua ini.
Menjadi seorang psikopat sama sekali tak ia harapkan. Ia hanya tak
menyadarinya.”
“Itu sebabnya aku meminta bantuanmu.”
Hening... Hujan kembali mengguyur sore Jakarta. Cafe yang
mereka tempati sekarang cukup lengang, tak memperumit keadaan.
Rahangku
mengeras, sebelah tangan menggenggam pisau yang sedari tadi bersembunyi
diantara jari-jari mungilku. Aku benar-benar tak habis pikir ternyata Dave tak
bisa menerima keadaanku. Mungkin dia menganggapku gila, sama seperti yang
lainnya. Kupikir di dunia ini hanya Dave satu-satunya orang yang menganggapku
normal. Ternyata aku salah besar, dia menganggapku gila seperti yang lainnya,
bahkan Selly pun sama saja walau ia menggunakan kata yang lebih halus—yang
tetap saja aku benci, Psikopat!
Aku
melangkah keluar dari persembunyian, keduanya menoleh, menyadari keberadaanku.
Selly refleks membuka mulutnya, bola matanya membesar, alis Dave berkerut walau
ia terlihat sedikit leih tenang dibanding Selly. Aku melangkahkan kakiku cepat,
menuju meja yang mereka tempati. Pisau yang sedari tadi kugenggam telah lebih dahulu
bersembunyi di balik tas, aku belajar dari obrolan mereka, tak ingin pengunjung
cafe sama menganggapku gila.
Tak ada
sepatah kata pun yang keluar dari mulutku. Aku menarik tangan Dave, memaksanya
memasuki mobil yang aku parkir di depan Cafe. Langkahku cepat, tangan Dave masih
kucengkram, orang-orang di sekitar cafe memandang kami yang tak menghiraukan mereka.
Selly masih bersandar di kursinya, tak bersuara.
“Kinar, dengarkan penjelasanku dulu!” Dave mulai panik saat
aku menginjak gas, kecepatan tinggi.
“Diam!” Aku menjawabnya singkat, entah ia mendengarnya atau
tidak
“Kinar, ini benar-benar tidak seperti apa yang kamu
bayangkan. Apa kamu dengar kalau aku mencitamu? Kau harus mendengarkan
penjelasanku”
“Apa lagi yang harus aku dengarkan? Kamu memang sama saja
dengan yang lainnya, menganggapku gila!” Suaraku meninggi
“Tidak seperti itu, Kinara! Biar aku yang mengemudi. Kita
bisa mati, Kinar!”
“Haha jika justru itu yang aku inginkan, lantas apa yang
akan kamu lakukan, hah? Jika kamu akhirnya akan meninggalkanku karena
menganggap aku gila, maka lebih baik kita mati. Tak ada yang bisa memilikimu
selain aku!”
“Siapa yang akan meninggakanmu? Aku mencintaimu, Kinar. Aku
hanya ingin kamu bisa mengendalikan emosimu, tak lagi berusaha menyakiti dirimu
sendiri, dan juga membahayakan nyawa orang lain”
“Hahaha.. Tak kusangka kamu benar-benar tak mengerti, Dave!
Kalaupun ada nyawa yang harus aku korbankan, bukan karena aku menginginkannya, tapi
karena aku menginginkanmu!”
Aku tak memperlambat laju mobil,
justru menaikan kecepatan. Dave seakan tak berkutik, tak tahu apa yang harus ia
lakukan, lantas hanya mengencangkan sabuk pengamannya.
Mobil yang kukendarai dengan
cepat membelah ibu kota, seakan ingin cepat sampi ke suatu tempat walau aku
sendiri pun tak tahu tempat macam apa yang hendak aku tuju. Aku tak bisa
berpikir, tak bisa merasakan keadaan sekitar. Ditengah ketidak-karuan itu, aku tak
menyadari mobilku menerobos lampu merah, dua mobil yang sedang melaju menyeret
mobil yang aku kendarai. Mobilku berguling. Teriakan orang-orang di sekitar mengalahkan
suara mobil yang berderit, menghilangkan sebagian kesadaranku. Dave berteriak,
tangannya berusaha menggapai tubuhku sebelum kepalanya membentur kaca. Kulihat Dave
memejamkan mata, darah mengucur dari bagian kepalanya. Aku ingin menggapai
tubuhnya kalau saja kakiku tak terjepit, tak lagi kuingat apapun. Gelap.
Pagi ini
ada yang berbeda, angin menyapa lembut pori-poriku, membelai sebagian rambutku
yang terurai. Aku tak mengikatnya dengan benar. Ini adalah udara tersegar yang pernah
aku hirup, meski belum sepenuhnya. Dua bulan setelah kecelakaan mengerikan itu,
aku dibolehkan meninggalkan rumah sakit dengan berbagai aturan yang biasa
diberikan dokter. Kali ini aku tak melawan. Ya, dalam dua bulan terakhir aku
merasakan diriku yang berbeda, bahkan tak ada lagi yang menyebutku gila. Aku
merasa tak punya energi lagi, meski sebenarnya ketakutanku tentang Dave dan
wanita lain semakin meningkat. Apa yang bisa dibanggakan dari kondisiku
sekarang ini?
Aku meminta
Dave menemaniku berkeliling taman, masih di lingkungan rumah sakit. Seperti
biasa, aku berlindung dibalik punggung Dave, meski kali ini tanpa vespa.
“Kita istirahat dulu disini, ya?” Dave menawarkan
“Ya, kamu pasti lelah,” Aku yakin, senyumanku masih semanis
dulu
Dave duduk
di sebelahku, merangkul bahuku yang masih lemah. Aku merasa terlindungi.
“Maafkan aku, Dave,”
“Kamu telah mengatakannya berulang kali, Kinar. Bahkan aku
hafal apa yang akan kamu ucapkan selanjutnya,” ia tersenyum. “Dan aku bingung
harus memaafkan kesalahanmu yang mana, karena kamu bahkan selalu membuat aku
tersenyum,” kali ini ia membelai rambutku
“Aku selalu menyakiti tubuhmu,” aku menatap matanya, mata
yang selalu meluluhkan hatiku. Aku selalu mengenal mata itu. Di dunia ini, tak
ada seorangpun yang bermata ketenangan, hanya dave. Daveku! Air mataku menetes.
Butiran pertama.
“Tidak, sayang. Kau menyayangiku”
“Harusnya aku bisa mengendalikan diriku”
“Harusnya aku bisa menjaga hatimu”
“Aku berbeda”
“Kamu istimewa!”
Air mataku tumpah sekarang, tak kusangka Dave begitu
menyayangiku, bahkan lebih dari apa yang aku harapkan selama ini.
“Kinar, dengarkan aku. Aku selalu punya alasan untuk
mencintaimu, tapi tak pernah punya alasan untuk meninggalkanmu”
“Dave,”
Dave memelukku, aku terisak di balik dekapannya.
Selang berapa lama, Dave mengajakku pulang saat matahari
mulai meninggi.
Aku menyesal dan benci dengan kondisiku sekarang ini.
Tapi setidaknya, sejak saat itu aku akan selalu bersama
dave, mendekapnya dari belakang, merasakan kehangatannya.
Tapi hal yang paling aku benci adalah ketika menyadari bahwa
pundak Dave akan semakin membungkuk karena berat badanku. Aku benci untuk tidak
berjalan. Aku benci harus kehilangan kakiku! Dan aku benci karena Dave lebih
suka menggendongku daripada mendorongku dari belakang kursi roda.
Ah, Dave.. kau begitu menyebalkan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar