Rintik
hujan mulai membasahi jalanan kota Bandung, sekaligus sedikit membasahi
jilbabku. Aku berlari-lari kecil menuju tempat yang untuk ke-sekian kalinya kudatangi.
Tempat yang selalu menyambutku dengan hangat. Tempat yang perpustakaannya
seringkali komunitasku pinjam untuk rapat. Tempat yang mempertemukanku dengan
banyak sahabat baru. Tempat yang selalu memfasilitasiku untuk shalat. Tempat manis yang (ternyata) menyimpan segudang
kisah pahit... Tempat itu bernama Pasundan Durebang.
Diiringi
bunyi hujan yang mulai deras, Pdt. Karmila menyambut dan mempersilakanku duduk
di ruangan mungil nan hangat itu. Kulihat sekeliling. Meskipun tak begitu luas,
ruangan itu tampak nyaman. Tak seperti kantor, bagiku, sebagaimana namanya, Pasundan
Durebang lebih terasa seperti rumah.[1]
Ini
adalah kali kedua aku bertemu dengan Pdt. Karmila, seseorang yang menjadi
tujuanku datang sore itu. Sejak kali pertama bertemu, senyum selalu terpancar
dari wajahnya. Memberiku kesan bahwa ia adalah perempuan yang ramah sekaligus
penyayang. Pdt. Karmila begitu bersahabat, begitu hangat, sehangat secangkir
kopi selamat datang yang ia suguhkan.
***
Adalah
tahun 1992-2004, Pdt. Karmila ditugaskan melakukan pelayanan di sebuah gereja
di daerah Purwakarta. Saat itu, nyaris setiap hari terjadi keributan. Baik di
keluarga jemaat, maupun penyerangan terhadap dirinya sendiri. Korban-korban
kekerasan rumah tangga silih-berganti berdatangan meminta bantuan. Beberapa di
antaranya sampai harus dilarikan ke rumah sakit. Kerasnya peringai ‘kepala
keluarga’ berimbas juga pada dirinya yang dianggap sebagai perempuan muda yang tak punya pengalaman. Ancaman dengan
senjata tajam pun akhirnya ia terima.
Tapi,
nyatanya, bahkan dalam keadaan separah itu, tak banyak perempuan yang menyadari
dirinya adalah korban. Meskipun sudah babak belur. Tidak sedikit pula di antara
mereka yang menganggapnya sebagai salib.[2]
Sayangnya,
anggota gereja pada waktu itu, memandang bahwa persoalan yang terjadi dalam rumah
tangga adalah masalah intern, bukan perkara yang harus dicampuri. Barangkali,
hal ini pulalah yang menjadikan sebagian pengacara Kristen enggan membantu
mendampingi korban kekerasan rumah tangga untuk bercerai. Al-Kitab menyebutkan,
apa yang telah dipersatukan Allah,
tidak boleh diceraikan.
Sementara
aku bergidik membayangkan kekerasan yang terjadi, Pdt. Karmila kembali
berkisah. Ia menerawang lebih jauh ke masa lalunya, saat tak hanya sekedar
melihat, namun juga mengalami diskriminasi gender, ras, dan agama. Ia yang tak
diinginkan ayahnya karena terlahir sebagai seorang perempuan, dianak-tirikan di
sekolah karena takdir mengharuskannya lahir sebagai seorang yang berentis
Tionghoa, dan beragama Kristen di tengah lingkungan muslim. Lagi-lagi, cerita
ini bukanlah hal yang bisa serta-merta kuterka,
jika hanya dengan melihat sosoknya yang sekarang.
“Saya harus keluar, dan saya harus mengeluarkan orang
lain dari keadaan ini. Betapa tidak enaknya kita tidak bisa bicara dan tidak
memiliki kebebasan...”
kenangnya agak menggebu.
Sementara
itu, dalam dekade yang sama, untuk pertama kalinya Pdt. Ira bertemu secara
langsung dengan seorang pekerja seks. Pdt. Ira adalah perempuan yang pertama
kali kutemui dalam kegiatan pelatihan “Mencegah Human Trafficcking”. Ia seperti
ibu. Setiap persoalan sulit, seolah bisa dilalui dengan mudah karena
ketenangannya.
Untuk
mencapai gelar Magister Sains Teologi, Pdt. Ira memilih topik Spiritualitas
Perempuan Pekerja Seks, pada tahun 1999.
“Yang menjadi masalah adalah, bukan hanya ada pada
stigma masyarakat, kekerasan dari warga, dan agama; tetapi justru dari dirinya
sendiri. Ketika mereka bertemu dengan Tuhannya, itu menjadi pergumulan yang
berat,” begitulah Pdt.
Ira menggambarkan hal yang paling membuatnya luka ketika berhadapan dengan
perempuan pekerja seks. Sembari bercerita, kulihat kepedihan sekaligus kekuatan
di balik sorot matanya, dibingkai kening yang sedikit mengerut.
Terlampau
banyak kisah getir yang untuk satu dan lain hal, tidak bisa aku tuliskan. Yang
pasti, para pekerja seks bukannya tidak mau keluar dari persoalan ini, tapi
mereka tidak berdaya. Bahkan sebagai warga negara pun, seringkali tak
mendapatkan perlakuan yang sama di mata hukum.”Selama ini yang kita lihat hanya soal moralitas. Padahal sebenarnya,
di balik semua itu, persoalannya jauh lebih kompleks. Mereka mengalami
kekerasan multi-dimensi.” Sedetik kemudian, aku merasa malu. Betapa
dangkalnya cara pandangku selama ini terhadap para PSK.
Kompleksnya
persoalan ini, salah satunya berkaitan dengan masalah nilai. Di sebagian
daerah, yang terpenting adalah bukan pada jenis pekerjaan yang mereka lakukan,
tetapi terletak pada seberapa banyak penghasilan yang bisa didapat. Kesuksesan seseorang
berbanding lurus dengan melimpahnya materi yang dimiliki. Sejenak aku berkaca, masihkah aku pun berpikiran sepicik itu?....
Maraknya
kasus kekerasan berbasis gender, menyadarkan Pdt. Ira, Pdt. Karmila, dan tiga
rekan lainnya membentuk sebuah komunitas pelayanan yang khusus menyoroti
masalah ini. Pada awalnya, Pasundan Durebang adalah komunitas yang berada di
bawah naungan GKP. Dua tahun setelah berdiri, disepakati bahwa Pasundan
Durebang bukan hanya untuk melayani jemaat gereja. Mereka menyadari, banyak juga
korban yang berada di luar gereja dan layak beroleh hak yang sama.
Melalui
cerita Pdt. Karmila, aku menyadari, kesetaraan gender bukan persoalan yang
lantas selesai ketika perempuan sudah bisa duduk di kursi pemerintahan, menjadi
dokter, insinyur, dosen, bahkan pekerja bangunan. Lebih dari itu, kesetaraan
gender barangkali berbicara mengenai menghargai manusia sebagai manusia.
Melalui
cerita Pdt. Ira, mataku mulai terbuka, bahwa betapa ruwetnya persoalan ini.
Kita tidak bisa memandang suatu perkara hanya berdasarkan cara pandang
masyarakat luas. Dalam beberapa hal, cara pandang tersebut justru membutakan
kita untuk melihat sesuatu dari sisi yang berbeda. Melalui ceritanya pulalah
aku mengerti bahwa Pasundan Durebang bukanlah komunitas yang hanya ‘memungut
bayi-bayi di sungai’, mereka pun mencoba bergerak ke hulu, mencari penyebab kenapa
bayi-bayi itu dibuang. “Dengan konseling,
persoalan hanya selesai di korban. Pelakunya tidak berubah. Itulah mengapa kami
berpikir harus ada lembaga khusus yang menangani itu.”
Setelah
diamati, perlakuan diskriminatif seolah dilegalkan juga oleh tafsiran terhadap
ayat dalam kitab suci, yang ternyata bias gender. Misalnya, istri harus tunduk
pada suami. Karena itu pulalah, mereka merasa perlu menafsirkan kitab suci
dengan cara baru.
Pasundan
Durebang lahir bukan untuk menghapuskan prostitusi, tapi untuk meminimalisir
eksploitasi. Bukan untuk menganjurkan perceraian, tapi untuk membentuk
kesadaran menghargai perempuan—atau laki-laki, karena pada sebagian kasus, lelaki
pun menjadi korban.
Meskipun
kekerasan fisik sudah tidak banyak terjadi lagi, bukan berarti persoalan ini
telah selesai. Sekarang, yang terjadi adalah kekerasan dalam bentuk verbal.
Seperti perselingkuhan dan penelantaran. Namun, tidakkah kekerasan tetap
kekerasan, sekalipun telah beralih bentuk dari fisik menjadi verbal?
Diakui
keduanya, memang belum banyak yang bisa Pasundan Durebang lakukan. Selain pendampingan
terhadap korban, konseling perubahan prilaku bagi pelaku, menjadi sahabat
sekaligus rekan diskusi, serta menyuarakan kembali kisah-kisah yang telah
dibisukan.
***
Untuk
beberapa detik, waktu seakan berhenti berputar. Tak ada yang bersuara. Hanya
melihat ke kedalaman hati masing-masing...
“Saya juga sering merenung. Rasanya, apa yang saya
lakukan nggak berarti—terlalu kecil,”
sembari mengusap wajahnya, Pdt. Karmila mengembuskan napas berat.
“Tapi, ini yang bisa saya lakukan. Inilah bentuk
kepedualian saya. Walaupun saya tidak bisa menyelesaikan persoalan yang begitu
kompleks, tapi saya sudah memulainya. Saya peduli, dan setidaknya saya sudah
melakukan sesuatu. Sekecil apapun,”
Aku tidak bisa menahan senyum penghormatan, mengingat begitu dalam kisah yang
telah Pdt. Karmila bagikan.
Sementara
itu, sepenggal kalimat lain juga terngiang dalam diriku. Kalimat yang beberapa
hari sebelumnya terucap dari Pdt. Ira, perempuan yang juga telah lama kukagumi, “Ini kan ruwet. Tapi, juga..... kami nggak
mungkin berhenti.”
