Jumat, 11 Juli 2014

Edisi Ramadhan (part 2)--Syurga dan Penghuninya



Syurga merupakan sebuah tempat yang namanya tak asing lagi ditelinga umat beragama. Termasuk bagi umat Islam, karena syurga diyakini sebagai tempat kembalinya manusia setelah bangkit dari kematian.
Dalam Islam, tidak hanya dikenal adanya syurga sebagai ‘tempat kembali’. Namun ada juga yang dinamakan neraka.
Jika syurga diperuntukkan bagi manusia-manusia yang selama hidup di dunia menebar kebaikan, maka neraka diperuntukkan bagi mereka yang menumpuk kejahatan.
Yang dimaksud kebaikan dan atau kejahatan disini tidak hanya antara hamba dengan sang pencipta, tetapi juga antara manusia dengan manusia lainnya, dengan lingkungan sekitar dan bahkan dengan diri sendiri. Dalam islam dikenal adanya istilah hablu minAllah (hubungan antara manusia dengan Allah), hablu minannas (hubungan antara manusia dengan manusia lainnya) dan hablu minal alam (hubungan antara manusia dengan mahluk/lingkungan/alam sekitar).
Setiap manusia pasti menginginkan syurga sebgai tempat kembali. Bagaimana tidak, sejak kecil kita telah dikenalkan dengan suatu tempat bernama syurga dengan gambaran yang sungguh indah dan menakjubkan. Seakan kita bisa menyulap sesuatu menjadi apa yang kita inginkan, dan semuanya bisa didapatkan dalam waktu kurang dari satu kedipan mata. Kita selalu dirangsang untuk mengimajinasikan begitu dahsyatnya kenikmatan yang akan didapatkan di syurga dan begitu ngerinya siksaan yang akan dirasakan jika kita terjerumus kedalam api neraka (naudzubilahhimindzalik).
Bagi umat islam sendiri, Allah menjanjikan bahwa Ia akan menyediakan syurga seluas langit dan bumi. Syarat mendapatkannya adalah dengan menjadi orang yang bertaqwa. Dan salah catu cara agar kita bisa disebut bertaqwa adalah dengan segera memohon ampunan atas apa yang telah kita lakukan (bertaubat)...
Malam ini kembali saya menyimak apa yang disampaikan penceramah di malam tarawih. Bahwa yang dimaksud dengan bertaubat adalah tidak hanya beristigfar dan lantas kembali ‘lupa’.
Bertaubat adalah memohon ampun kepada Allah melalui perkataan, kemudian diikuti dengan perbuatan, dengan meninggalkan kesalahan yang telah diperbuat dan kembali pada jalan kebaikan.
Tidak ada manusia yang tidak memiliki dosa. Karennaya, tidak ada manusia yang luput dari kewajiban memohon ampun.
Maha besar Allah, sebesar apapun dosa yang kita lakukan, amat banyak kesempatan untuk kita untuk bertaubat. Bahkan Allah menyediakan satu bulan yang penuh dengan ampunan. Bulan Ramadhan.
Untuk itu, mari kita sama-sama memanfaatkan fasilitas bulan Ramadhan ini untuk bertaubat....


Saya adalah hamba yang penuh dengan dosa, entah sekotor apa raga ini.. Dosa saya sangat besar, namun saya—pun—percaya bahwa pengampunan Allah jauh lebih besar. InsyaAllah*