Syurga merupakan sebuah
tempat yang namanya tak asing lagi ditelinga umat beragama. Termasuk bagi umat Islam,
karena syurga diyakini sebagai tempat kembalinya manusia setelah bangkit dari kematian.
Dalam Islam, tidak
hanya dikenal adanya syurga sebagai ‘tempat kembali’. Namun ada juga yang
dinamakan neraka.
Jika syurga
diperuntukkan bagi manusia-manusia yang selama hidup di dunia menebar kebaikan,
maka neraka diperuntukkan bagi mereka yang menumpuk kejahatan.
Yang dimaksud kebaikan
dan atau kejahatan disini tidak hanya antara hamba dengan sang pencipta, tetapi
juga antara manusia dengan manusia lainnya, dengan lingkungan sekitar dan
bahkan dengan diri sendiri. Dalam islam dikenal adanya istilah hablu minAllah
(hubungan antara manusia dengan Allah), hablu minannas (hubungan antara manusia
dengan manusia lainnya) dan hablu minal alam (hubungan antara manusia dengan
mahluk/lingkungan/alam sekitar).
Setiap manusia pasti
menginginkan syurga sebgai tempat kembali. Bagaimana tidak, sejak kecil kita
telah dikenalkan dengan suatu tempat bernama syurga dengan gambaran yang
sungguh indah dan menakjubkan. Seakan kita bisa menyulap sesuatu menjadi apa
yang kita inginkan, dan semuanya bisa didapatkan dalam waktu kurang dari satu
kedipan mata. Kita selalu dirangsang untuk mengimajinasikan begitu dahsyatnya
kenikmatan yang akan didapatkan di syurga dan begitu ngerinya siksaan yang akan
dirasakan jika kita terjerumus kedalam api neraka (naudzubilahhimindzalik).
Bagi umat islam sendiri,
Allah menjanjikan bahwa Ia akan menyediakan syurga seluas langit dan bumi.
Syarat mendapatkannya adalah dengan menjadi orang yang bertaqwa. Dan salah catu
cara agar kita bisa disebut bertaqwa adalah dengan segera memohon ampunan atas
apa yang telah kita lakukan (bertaubat)...
Malam ini kembali saya
menyimak apa yang disampaikan penceramah di malam tarawih. Bahwa yang dimaksud
dengan bertaubat adalah tidak hanya beristigfar dan lantas kembali ‘lupa’.
Bertaubat adalah
memohon ampun kepada Allah melalui perkataan, kemudian diikuti dengan
perbuatan, dengan meninggalkan kesalahan yang telah diperbuat dan kembali pada
jalan kebaikan.
Tidak ada manusia yang
tidak memiliki dosa. Karennaya, tidak ada manusia yang luput dari kewajiban
memohon ampun.
Maha besar Allah,
sebesar apapun dosa yang kita lakukan, amat banyak kesempatan untuk kita untuk
bertaubat. Bahkan Allah menyediakan satu bulan yang penuh dengan ampunan. Bulan
Ramadhan.