Sabtu, 19 Oktober 2013

MAKALAH Pengertian Filsafat, Ilmu Dan Agama


MAKALAH
Pengertian Filsafat, Ilmu Dan Agama
(diajukan untuk memenuhi salah satu tugas kelompok Mata Kuliah Pengantar Filsafat)





Disusun oleh :
Astri Oktia Indriyani (1131020009)
Awwaluddin Fauzan (1131020010)




PROGRAM STUDI PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2013


KATA  PENGANTAR



Puji syukur kami panjatkan ke hadirat  Allah SWT, karena atas izin-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Hubungan Antara Filsafat, Ilmu dan Agama. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas kelompok pada matakuliah Pengantar Filsafat.
Pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada Bapak dosen mata kuliah Pengantar Filsafat yang telah memberi masukan dan nasehatnya.
Kami menyadari penulisan karya tulis ini masih belum sempurna, untuk itu kami mengharapkan keritik dan saran yang sifatnya membangun dari Bapak dosen khususnya, umumnya dari para pembaca demi lebih baiknya karya-karya tulis yang selanjutnya.
Akhirnya, semoga makalah yang kami susun ini dapat memberikan manfaat bagi semua pembaca. Amin..














Bandung, 12 September 2013

  
  Peyusun









DAFTAR ISI

Kata Pengantar    ……………………………………………………………………………ii
Daftar isi             ………………………………………………………………………   …iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang      ………………………………………………………………………1
1.2 Rumusan Masalah ………………………………………………………………………2
1.3 Tujuan Penulisan Makalah            ………………………………………………………2
1.4 Manfaat Penulisan Makalah          ………………………………………………………2
1.4 Metode Penelitian Makalah          ………………………………………………………2

BAB II ISI
2.1 Pengertian Filsafat            ………………………………………………………………3
2.2 Pengertian Ilmu     ………………………………………………………………………4
2.3 Pengertian Agama ………………………………………………………………………5
2.4 Hubungan Antara Filsafat, Ilmu dan Agama       ………………………………………5

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan   ……………………………………………………………………………7
3.2 Saran             ……………………………………………………………………………8

Daftar Pustaka   
BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar belakang
Kemampuan manusia untuk menggunakan akal dalam memahami lingkungannya merupakan potensi dasar yang memungkinkan manusia berpikir. Dengan berpikir manusia menjadi mampu melakukan perubahan dalam dirinya, dan memang sebagian besar perubahan dalam diri manusia merupakan akibat dari aktifitas berpikir. Oleh karena itu, sangat wajar apabila berpikir merupakan konsep kunci dalam setiap diskursus mengenai kedudukan manusia di muka bumi. Ini berarti tanpa berpikir kemanusiaan manusia pun tidak punya makna bahkan mungkin tidak pernah ada.
Konon, orang yang pertama kali menggunakan akal secara serius adalah orang yunani yang bernama Thales (kira-kira tahun 624-546 SM). Orang inilah yang digelari bapak filsafat. setelah kemunculannya, sangat banyak bermunculan pemikir-pemikir baru dan semakin lama persoalan yang dipikirkan manusia semakin luas, dan semakin rumit pula pemecahannya.
Pada kira-kira tahun 490 SM, muncul seorang Yunani yang bernama Zero. Kemunculannya barangkali dapat dianggap menandai mulainya pemikiran sofisme. Ia behasil membuktikan bahwa ruang kosong itu tidak ada; pluralis (jamak) itu juga tidak ada; gerak pun tidak ada. Jadi semua yang mapan dalam pandangan orang awam ketika itu menjadi goyah. Inilah salah satu karya akal yang hebat itu: kebimbangan.
Puncak kebingungan itu terlihat pada tokoh sofisme terbesar, yaitu Protagoras. Ia menyatakan bahwa manusia adalah ukuran segala-galanya. Rumusan inilah yang kemudian disebut dengan relativisme.
Tidak sampai disitu, karena hakekat manusia yang tidak hanya berakal tetapi juga memiliki hati, dominasi kendali diri oleh keduanya seringkali bertentangan. Akibat penggunaan akal yang keterlaluan pada zaman Yunani, orang menjadi bingung; karena kekangan agama yang terlalu di dominasi oleh hati pada abad pertengahan, pemikiran seperti di rem. Karena alasan persoalan pertentangan antara hati dan akal inilah kami memilih judul “Hubungan Filsafat, Ilmu dan Agama”, agar kita mengerti hubungan apa yang saling keterkaitan antara hati dan pemikiran manusia.


1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut,
1.2.1        Apa yang dimaksud dengan filsafat?
1.2.2        Apa yang dimaksud dengan ilmu?
1.2.3        Apa yang dimaksud dengan agama?
1.2.4        Bagaimana hubungan antara filsafat, ilmu dan agama?

1.3  Tujuan Penulisan Makalah
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan memahami:
1.3.1        Mengetahui pengertian filsafat;
1.3.2        Mengetahui pengertian ilmu;
1.3.3        Mengetahui pengertian agama;
1.3.4        Mengetahui hubungan antara filsafat, ilmu dan agama.

1.4  Manfaat Penulisan Makalah
Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoretis maupun praktis. Secara teoretis makalah ini berguna untuk mengembangkan konsep penelitian mengenai gambaran tentang filsafat, ilmu dan agama. Secara praktis makalah ini diharapkan bisa bermanfaat bagi:
1.4.1        Penulis, sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep keilmuan khususnya tentang konsep penelitian masalah-masalah pertentangan hati dan pikiran manusia yang berhubungan dengan filsafat, ilmu dan agama.
1.4.2        Pembaca, sebagai media informasi untuk menambah pengetahuan tentang hubungan antara filsafat, ilmu dan agama.

1.5    Metode Penelitian Makalah
Makalah ini disusun dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode deskritif. Melalui metode ini penulis akan menguraikan permasalahan yang dibahas secara jelas dan konprehensif. Data teoretis dalam makalah ini dikumpulkan dengan menggunakan teknik studi pustaka, artinya penulis mengambil data melalui kegiatan membaca berbagai literatur yang relevan dengan tema makalah. Data tersebut diolah dengan teknik analisis isi melalui mengeksposisikan data serta mengaplikasikan data tersebut dalam konteks tema makalah.
BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Filsafat
     Kata filsafat berasal dari kata arab yang berhubungan rapat dengan kata Yunani, bahkan asalnya memang dari kata Yunani. Kata Yunaninya ialah philosophia. Dalam bahasa Yunani, kata philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri atas philo dan Sophia; philo artinya cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karenanya berusaha mencapai apa yang diinginkannya tersebut; Sophia artinya kebijakan yang artinya pandai, pengertian yang mendalam. Jadi menurut namanya saja filsafat boleh diartikan ingin mencapai pandai, cinta pada kebijakan.[1]
Poedjawijatna (1974:11) mendefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka.
Hasbullah Bakry (1971:11) mengatakan bahwa filsafat ialah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
Plato menyatakan bahwa filsafat ialah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli.
Dan bagi Aristoteles filsafat adalah pengetahuan yang meliputi kebenaran yang tergabung didalamnya metafisika, logika, retorika, ekonomi, politik dan estetika.
Sedangkan bagi Al-Farabi filsafat adalah pengetahuan tentang alam ujud bagaimana hakikatnya yang sebenarnya.
Munder dalam bukunya (1966:10) mengajukan definisi filsafat sebagai pemikiran teoritis tentang susunan keyakinan sebagai keseluruhan.
Perbedaan definisi filsafat itu menurut Abu Bakar Atjeh (1970:9) disebabkan oleh berbedanya konotasi filsafat pada tokoh-tokoh itu karena perbedaan keyakinan hidup yang mereka anut. Perbedaan itu juga dapat muncul karena perkembangan filsafat itu sendiri yang menyebabkan beberapa pengetahuan khusus memisahkan diri dari filsafat. maka dapat diambil kesimpulan bahwa perbedaan definisi filsafat antara satu tokoh dengan tokoh lain disebabkan oleh perbedaan konotasi filsafat pada mereka masing-masing.

2.2 Pengertian Ilmu
Kata ilmu berasal dari Bahasa Arab, yaitu ‘ilm yang berarti kejelasan. Sehingga dapat dikatakan bahwa segala daya upaya manusia mencari ilmu sebenarnya adalah mencari kejelasan.
Ungkapan ‘segala daya upaya manusia’ dalam mencari kejelasan menandakan bahwa kata ilmu memiliki makna yang luas. Artinya apapun bentuk tindakan mengenal, memilirkan serta memahami yang dilakukan manusia terhadap suatu objek bisa dikategorikan sebagai ilmu.
Menurut Thomas Kuhn, ilmu adalah himpunan aktivitas yang menghasilkan banyak penemuan, baik dalam bentuk penolakan maupun pengembangannya.
NS Asmadi berpendapat, bahwa ilmu merupakan sekumpulan pengetahuan yang padat dan proses mengetahui penyelidikan yang sistematis dan terkendali (metode ilmiah).
Menurut DR. H. M. Gade, ilmu adalah falsafah. Yaitu hasil pemikiran tentang batas-batas kemungkinan pengetahuan manusia.
Minto Rahayu mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dan berlaku umum. Sedangkan pengetahuan adalah pengalaman yang bersifat pribadi/kelompok yang belum disusun secara sistematis karena belum dicoba dan diuji.
Hanya saja, Prof.Quraish shihab selanjutnya menambahkan bahwa kata ilmu lebih banyak tidak melekat pada manusia tetapi pada tuhan. Yaitu ‘alim yang berkata kerja ya’lam (Dia mengetahui). hal ini memperkuat dugaan bahwa perlakuan istimewa umat islam atas makna ‘ilmu’ menjadi lebih beralasan lagi. Menurut Qurais Shihab, istilah yang lebih banyak melekat pada manusia adalah kata ‘arafa (mengetahui), a’rif (yang mengetahui) dan ma’rifah (pengetahuan). Lepas dari hirarki religi atas konsep ilmu ini, nampaknya makna ilmu sepadan dengan makna pengetahuan (knowledge).[2]





2.3 Pengertian Agama
Secara etimologi, kata agama berasal dari bahasa sansakerta yang berasal dari akar kata ‘gam’ yang artinya pergi. Kemudian akar kata gam tersebut mendapat awalan ‘a’ dan akhiran ‘a’, maka terbentuklah kata agama yang artinya jalan. Maksudnya jalan untuk mencapai kebahagiaan.
Disamping itu, ada pendapat yang menyatakan bahwa kata agama berasal dari bahasa sansakerta yang akar katanya adalah ‘a’ dan ‘gama’. ‘A’ artinya tidak dan ‘gama’ artinya kacau. Jadi agama artinya tidak kacau atau teratur. Maksudnya, agama adalah peraturan yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan yang dihadapi dalam hidupnya, bahkan menjelang matinya.
Ada hal yang menjadikan sulit dalam mengartikan agama, menurut Prof. Dr. Mukti ali, ahli ilmu perbandingan agama, mengemukakan tiga alasan:
a.       Agama merupakan soal batin dan subyektif;
b.      Melibatkan emosional dalam membicarakannya;
c.       Definisi agama akan dipengaruhi oleh tujuan orang yang mendefinisikannya.
Para ahli dalam menerjemahkannya menempuh beberapa cara:
a.       Dengan metode analisis etimologis. Yaitu dengan cara menganalisa konsep bahasa;
b.      Dengan analisis deskriptif. Yaitu dengan menganalisa gejala dan fenomena agama dalam kehidupan nyata.
Berdasarkan bahan bacaan, kita mengetahui akan banyaknya definisi agama. Dari sekian banyak definisi itu agaknya dapat dibagi menjadi dua kelompok. Yang pertama ialah definisi agama yang menekankan segi rasa iman atau kepercayaan, yang kedua menekankan segi agama sebagai peraturan tentang cara hidup. Kombinasi keduanya mungkin merupakan definisi yang lebih memadai tentang agama. Agama ialah system kepercayaan dan praktek yang sesuai dengan kepercayaan tersebut. Dapat juga diartikan bahwa agama adalah peraturan tentang cara hidup, lahir-batin.

2.4 Hubungan Antara Filsafat, Ilmu dan Agama
Pada dasarnya, ada dua kekuatan yang mewarnai keadaan dunia, yaitu agama dan filsafat. kedua hal tersebutlah yang mendominasi dalam diri manusia. Namun terkadang salah satunya lah yang mendominasi. Hingga apabila akal yang mendominasi, berpengaruh pada rohani seseorang yang pada akhirnya menyebabkan ketidakpercayaannya pada tuhan. Jika hati yang mendominasi, akal manusia seperti tidak berfungsi, tidak ada pemikiran-pemikiran yang mendalam tentang hidup.
Agama berbeda dengan sains dan filsafat karena agama menekankan keterlibatan pribadi. Kemajuan spiritual manusia dapat diukur dengan tingginya nilai yang tak terbatas yang ia berikan kepada obyek yang ia sembah. Seseorang yang religius merasakan adanya kewajiban yang tak bersyarat terhadap zat yang ia anggap sebagai sumber yang tertinggi bagi kepribadian dan kebaikan.
Agama tak dapat dipisahkan dari bagian-bagian lain dari kehidupan manusia, jika ia merupakan reaksi terhadap keseluruhan wujud manusia terhadap loyalitasnya yang tertinggi. Sebaiknya, agama harus dapat dirasakan dan difikirkan: ia harus diyakini, dijelaskan dalam tindakan (Titus, 1987:414).
Baik ilmu, filsafat ataupun agama bertujuan–sekurang-kurangnya berurusan dengan hal yang–sama yaitu kebenaran. Namun titik perbedaannya terletak pada sumbernya, ilmu dan filsafat berumur pada ra’yu (akal, budi, rasio, reason, nous, vede, vertand, vernunft) manusia.
Sedangkan agama bersumberkan wahyu. Disamping itu ilmu pengetahuan mencari kebenaran dengan jalan penyelidikan (riset, research), pengalaman (empiri) dan percobaan (eksperimen) sebagai batu ujian.
Filasafat menghampiri kebenaran dengan exploirasi akal budi secara radikal (mengakar); tidak merasa terikat oleh ikatan apapun, kecuali oleh ikatan tangannya sendiri bernama logika.
Manusia mencari dan menemukan kebenaran dengan dan dalam agama dengan jalan mempertanyakan pelbagai masalah asasi dari atau kepada kitab suci.
Kebenaran ilmu pengetahuan adalah kebenaran positif (berlaku sampai dengan saat ini), kebenaran filsafat adalah kebenaran spekulatif (dugaan yang tidak dapat dibuktikan secara empiri, riset dan eksperimental).
Baik kebenaran ilmu maupun kebenaran filsafat kedua-duanya nisbi (relatif). Sedangkan kebenaran agama bersifat mutlak (absolut) karena agama adalah wahyu yang diturunkan Allah.
Baik ilmu maupun filsafat dimulai dengan sikap sanksi dan tidak percaya. Sedangkan agama dimulai dengan sikap percaya atau iman (Annshari, 1996:158-160).



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
  1. Dengan filsafat, seseorang akan lebih menjadi manusia, karena terus melakukan perenungan dan menganalisa hakikat jasmani dan hakikat rokhani manusia dalam kehidupan di dunia agar bertindak bijaksana.
  2. Dengan berfilsafat seseorang dapat memahami makna hakikat hidup manusia, baik dalam lingkup pribadi maupun social. Dengan berfilsafat seseorang akan mampu memberi arti terbaik, unggul dan integral terhadap makna hidup, dan sanggup memahami keunggulan dan kelemahan diri, sehingga dapat memperkokoh kepribadian diri.
  3. Kebiasaan menganalisa segala sesuatu dalam hidup seperti yang diajarkan dalam metode berfilsafat, akan menjadikan seseorang cerdas, kritis, sistematis, dan obyektif dalam melihat dan memecahkan beragam problema kehidupan, sehingga mampu meraih kualitas, keunggulan dan kebahagiaan hidup.
  4. Belajar filsafat akan melatih seseorang untuk mampu meningkatkan kualitas berpikir secara mandiri, mampu membangun pribadi yang berkarakter, tidak mudah terpengaruh oleh factor eksternal, tetapi disisi lain masih mampu mengakui harkat martabat orang lain. Karena itu, belajar filsafat akan mendorong tumbuhnya sikap mentela kompetitif secara sehat dan berkualitas.
  5. Belajar filsafat akan memberikan dasar-dasar semua bidang kajian pengetahuan, memberikan pandangan yang sintesis atau pemahaman atas hakikat kesatuan semua pengetahuan yang baik. Karena berfikir filsafat selalu mendorong seseorang untuk membangun keterbukaan berpikir, ketelitian dan melakukan analisis terdalam, serta terdorong untuk melakukan inovasi berdasarkan penemuan terbaru (invention) (Jhonstone, H.W. 1968; Tafsir, 2004; Sudiarja, dkk.2006)
  6. Selain berfilsafat, manusia juga harus menyeimbanginya dengan beragama. Karena filsafat dan agama merupakan dua hal yang berbeda. Kita tidak akan mendapatkan kepuasan batin jika hanya berfilsafat, dan kita tidak akan mendapat kenikmatan dunia secara utuh jika hanya beragama.
  7. Manusia ideal adalah manusia yang utuh, yaitu manusia yang menggunakan indera, akal, dan hatinya secara seimbang. Manusia yang jalan hidupnya ditentukan oleh indera, akal, dan hatinya, secara seimbang sekaligus dan menyeluruh.
3.2 Saran
            Sejalan dengan kesimpulan diatas, penulis merumuskan saran yaitu:
Sebagai manusia yang memiliki akal dan pikiran, kita hendaknya menyeimbangkan keduanya. Karena kita tidak hanya memerlukan kepuasan jasmani, tetapi juga memerlukan ketenangan rohani.








                                                                                                                   





















[1] Prof. DR. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA. Hlm. 9
[2] M. Quraish shihab, Wawasan Al-Qur’an, Tafsir Maudhu’I atas Pelbagi Persoalan Umat. Mizan bandung, hlm 434-435

 
DAFTAR PUSTAKA

Tafsir, Ahmad. 2005. Filsafat Umum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Irawan. 2007. Filsafat Sains. Bandung: Intelekia Pratama    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar