Barangkali,
malam ini tidurmu tak nyenyak karena ujung kumismu mengusap bantal, dan itu
membuatmu kegelian.
Barangkali, kau
sedang mendengkur, menyuarakan kemerdekaan atas penatnya hari yang kau lalui.
Barangkali,
tanpa sadar jari panjangmu membunuh nyamuk yang sedari tadi menghisap hangatnya
darahmu.
Barangkali,
justru hanya napas teratur yang terlihat.
Kau begitu
damai, begitu tanpa beban, mata dan alismu tampak tak bertenaga. Masihkah itu
karena obat tidur yang terpaksa harus kau tenggak?
Atau, barangkali—yang
kutahu ini adalah kemungkinan terbesar, saat ini kedua bibirmu berkomat-kamit
membisikkan lafadz nan syahdu. Kedua alismu nyaris beradu. Begitu khusyuk. Matamu
terkatup, sementara tangan kananmu lihai menghitung.
Kau duduk
bersila. Kadang badanmu sedikit bergoyang, kadang punggungmu membungkuk, kadang
kau bak tertidur.
Begitu tenang,
begitu damai, begitu indah, begitu memesona...
Sementara di
saat yang sama, di sini, kurasakan ketenangan. Sementara di hari selanjutnya,
setiap urusanku selalu dilancarkan. Sementara di waktu-waktu yang mengukur
seberapa lama ketakberjumpaan kita, aku menggenggam sesuatu yang kuimpikan.
Dan kau masih
bersila di tempat yang sama. Masih berbalut sarung dan berkoko putih. Masih mengenakan
kopiah, sementara kedua jarimu membingkai tasbih hijau. Masih mengangkat kedua
tangan seraya menyelipkan namaku untuk kali ke-sekian.
Wahai kau,
lelaki yang sangat kucintai....
Masih bolehkah
kududuk di atas punggungmu ketika kau bersujud di hadapan-Nya?
Masih bolehkan
kupeluk kau ketika mataku tak bisa terpejam seperti malam ini?
Masih akan
jahilkah kau ketika ternyata aku begitu takut mendengar cerita Mak Lampir?
Masih sudikah
kau menggosok tubuhku yang tak lagi kurus ini?
Masih adakah
buah tangan yang bisa kumakan sepulang kau kerja?
Masih maukau kau
mengajariku menggambar?
Masih harus
dikoreksikah gerakan shalatku?
Masih bolehkah
kucium bau ketiakmu?
Masih maukah kau
memelukku sedikit lebih lama?
Masih maukah kau
menolongku ketika aku dibentak?
Masih ada cerita
menarikkah yang bisa kudengar sebelum tidur?
Masih maukah kau
melihatku melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain?
Masih sukakah
kau dengan kopi hitam?
Masih maukah kau
mengantarku bersekolah?
Masih maukah kau
mengajariku mengaji?
Masih lucukah
aku menirukan suara adzan?
masih kuatkah
kau menggendongku?
Masih sempatkah
kau mengajariku bernyanyi?
Masih maukah kau
memeriksa buku rapotku?
Masih bolehkah
aku bercerita tanpa rasa canggung?
Masih bisakah
kau menganggapku sebagai anak kecil???
...
Masih tak
tahukah bahwa aku sangat sangat sangat merindukanmu?
...
Bapak.....
Bapak...
Masih berkenankah
kau mendo’akanku?
01:45
Sabtu, 12
Desember 2015