Malam
itu, seorang bapak berkacamata duduk di hadapan puluhan peserta Simposium Nasional Dialog Agama (Colloqium
Religiosum). Selama dua jam, ia
menyampaikan materi dengan tema Kaitan Agama dan Kemanusiaan Serta Problematikanya Kini.Ia
adalah Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto.
Tidak
hanya beliau, acara itu juga diisi oleh dua pemateri lainnya, yakni Alfathri Adlin dan Dr.
Haryatmoko, S. J. Mereka berdua mengunggah materi
mengenai Humanisme dalam Islam: Tantangannya Kini,
dan Mengenali Sisi-sisi Kemanusiaan dalam
Agama.
Selama
tiga hari (1-3/5), kami, sejumlah
pengurus JAKATARUB turut
mengikuti kegiatan yang diselenggarakan di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan tersebut, dengan maksud hendak membagikan pengalaman di
lapangan mengenai bagaimana keberagamaan masyarakat Indonesia, khususnya Jawa Barat.
Puluhan
peserta yang mengikuti acara ini terdiri dari berbagai kalangan, dari berbagai
usia dan dari berbagai agama. Semua mencari pemahaman yang sama, yaitu ingin mengetahui sisi-sisi kemanusiaan dalam
agama, agar tercipta kehidupan beragama yang lebih baik
lagi di Indonesia.
Saya
menilai, acara ini penting dilaksanakan, mengingat masih banyak konflik yang
terjadi di Indonesia yang didasari oleh perbedaan agama. Melalui acara ini,
kami diberikan kesadaran tentang hal apa yang bisa membuat kita bersatu,
meskipun memiliki keyakinan keagamaan yang berbeda.
Salah
satu solusi yang ditawarkan untuk menghadapi perbedaan adalah melalui seni,
melalui keindahan, melalui hal yang dapat membangkitkan sisi kemanusiaan kita. Karenanya, acara ini dimeriahkan oleh sesi pentas
seni yang para pementasnya juga merupakan peserta simposium. Di hari kedua,
kami pun diajak menikmati kesenian sunda di Saung Angklung Udjo.Melalui
kegiatan tersebut, timbul kesimpulan bahwa seni memang merupakan salah satu
cara yang akan menciptakan keberagamaan yang lebih humanis.
Selain
itu, setelah berlangsungnya acara tersebut, saya menyadari bahwa beragama tidak
hanya sekedar tentang manusia dan Tuhan, tetapi juga tentang manusia dengan
manusia lainnya.
JAKATARUB
pun telah lama menyadari hal ini. Maka, setiap 16 November yang juga merupakan
hari toleransi Internasional, komunitas ini mengadakan acara bertajuk BALAD (Bandung Lautan Damai). Acara ini menyuarakan
keberagaman melalui kesenian dan berbagai kegiatan sosial.
“Agama kita memang berbeda, namun sisi kemanusiaan
kita tetap sama”
(Oleh: Astri Oktia)
Menutu pembacaa saya dari bukunya Mas Budhy Munawar Rachman dalam, Reorientasi Pembaruan Islam: Sekularisme, Liberalisme dan Pluralisme Paradigma Baru Islam Indonesia, alangkah lebih baik jika pluralitas yang ada di Indonesia digunakan sebagai langkah menuju bertemunya setiap agama untuk menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan. Mungkin, bisa disebut sebagai pembangunan suatu teologi "bersama". Maka dari itu, dialog antar agama harus ada.
BalasHapusbtw, follow: rajacahayaislam.blospot.com