Rabu, 21 Agustus 2013

who i am (?)


Suka tidak suka, akan ada yang menilai kepribadian kita.  Siapapun itu.
Entah hanya menebak, atau memang dengan seriusnya mereka mempelajari ilmu yang hanya untuk mengenal kepribadian orang lain. Aneh!
Saya selalu tidak nyaman berada di posisi ‘yang diamati’ ini. Apalagi oleh mereka yang benar-benar hanya menebak.
Karena apa? Karena mereka tidak (akan) tahu siapa saya.
Saya sendiri pun selalu dibuat bungkam oleh pertanyan yang menyudutkan yang dilontarkan seseorang (atau lebih tepatnya pantulan seseorang) di cermin sana yang dengan entengnya berkata. Siapa saya?

Entahlah ..
Seseorang dengan dua kepribadian –yang bertolak belakang- yang sama-sama kuat.

Dan entah mengapa saya tidak pernah peduli dengan masalah kepribadian ini (walaupun memang mengganggu).
Tapi yang saya benci adalah betapa saya selalu peduli dengan penilaian orang lain. Rumit, memang.

Andai mereka mengerti, saya tidak butuh penilaian. Saya butuh solusi.

si manis tanpa jembatan

Dia tersenyum kearah aku berdiri. Menatap langsung kedua mataku. Melambaikan tangan. Dan tersenyum lebar --memperlihatkan deretan giginya-- setelah aku membalas lambaian tangannya. Manis.

Itu kali kedua aku melihatnya. Dia yang tak lagi mengenakan jaket berlogo salah satu jenis bela diri (yang juga merupakan ekskul di kampus ini), masih berdiri di tempat yang sama, dengan setumpuk kesibukan yang berhari-hari ia kerjakan ditengah panasnya cuaca kota Cibiru.

Berhari-hari berlalu, memoriku masih sempurna menampilkan bayangannya. aku ingat wajahnya. Ingat pula senyum manisnya. Tanpa tahu siapa dia. Bahkan tanpa tahu potongan nama warisan dari orang tuanya.

Dan kamu tahu? Bayangan itu tak menyiksaku. Juga sama sekali tak mendamaikanku.

Berbeda 180 derajat dengan saat aku berusaha (keras) mengingat wajahmu. Tapi jauh lebih sering tak berhasil ..
Aku hanya ingat namamu, khas yang ada di wajahmu, kalimat-kalimat indahmu, dan senyummu. Manis.
Alhasil, setelah sekian lama dan akhirnya aku berhasil mengingat wajahmu, tanpa dikomando mataku terpejam agar wajahmu tak pergi 'dimakan' cahaya. Karena aku tahu bayangan yang melintas itu tak (pernah) berlangsung lama. Dan aku tak ingin melewatkan detik-detik berharga itu untuk tidak menikmatinya.
Manis.

Jumat, 02 Agustus 2013

Curat Coret

Astriiiiii...
Kamu telah mendaki setinggi ini, dan sekarang kamu berada di tempat yang kamu perjuangkan. Lantas, mengapa hatimu tak sepenuhnya menikmati?

Hari ini kamu dihadapkan pada sebuah gua.
Jika kamu tak masuk, kamu tak akan pernah tahu seperti apa didalamnya.
Gua memang tak pernah menampakan wajah aslinya. Dari luar semuanya terlihat sama. gelap!
Tidak ada cara lain untuk mengetahui bagaimana dan seperti apa selain harus MASUK.
Jika kamu kembali, apa kamu yakin keadaan di dalam sana tidak membuat kamu nyaman?
Kenapa raguuuu?
Toh jika akhirnya kamu ingin meninggalkan tempat itu, diujung sana ada jalan keluar
Sekalipun untuk menuju pintu keluar itu kamu harus berjalan selama 360 hari ..
Pikirkan.. Pikirkan.. Pikirkan apa yang telah kamu lewati dan kamu korbankan selama ini.

Selamat berjuang!

Bernafas Tanpamu

Mungkin kau bertanya-tanya 
Arti perhatianku terhadapmu 
Pasti kau menerka-nerka 
Apa yang tersirat dalam gerakku
Akulah serpihan kisah masa lalumu 
Yang sekedar ingin tau keadaanmu 
Tak pernah aku bermaksud mengusikmu
 Mengganggu setiap ketentraman hidupmu
 Hanya tak mudah bagiku lupakanmu 
Dan pergi menjauh
Beri sedikit waktu 
Agar ku terbiasa 
Bernafas tanpamu......