Rabu, 21 Agustus 2013

si manis tanpa jembatan

Dia tersenyum kearah aku berdiri. Menatap langsung kedua mataku. Melambaikan tangan. Dan tersenyum lebar --memperlihatkan deretan giginya-- setelah aku membalas lambaian tangannya. Manis.

Itu kali kedua aku melihatnya. Dia yang tak lagi mengenakan jaket berlogo salah satu jenis bela diri (yang juga merupakan ekskul di kampus ini), masih berdiri di tempat yang sama, dengan setumpuk kesibukan yang berhari-hari ia kerjakan ditengah panasnya cuaca kota Cibiru.

Berhari-hari berlalu, memoriku masih sempurna menampilkan bayangannya. aku ingat wajahnya. Ingat pula senyum manisnya. Tanpa tahu siapa dia. Bahkan tanpa tahu potongan nama warisan dari orang tuanya.

Dan kamu tahu? Bayangan itu tak menyiksaku. Juga sama sekali tak mendamaikanku.

Berbeda 180 derajat dengan saat aku berusaha (keras) mengingat wajahmu. Tapi jauh lebih sering tak berhasil ..
Aku hanya ingat namamu, khas yang ada di wajahmu, kalimat-kalimat indahmu, dan senyummu. Manis.
Alhasil, setelah sekian lama dan akhirnya aku berhasil mengingat wajahmu, tanpa dikomando mataku terpejam agar wajahmu tak pergi 'dimakan' cahaya. Karena aku tahu bayangan yang melintas itu tak (pernah) berlangsung lama. Dan aku tak ingin melewatkan detik-detik berharga itu untuk tidak menikmatinya.
Manis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar