Minggu, 07 Desember 2014

CERPEN: Tak Sekedar Duit



Buk!
Tanpa ba-bi-bu, kepalan itu kembali mendarat di pipiku. Lelaki berkepala pelontos itu tidak memberiku kesempatan barang sebentar pun untuk menyiapkan kuda-kuda. Pandanganku mulai mengabur, disusul pedih yang mulai terasa di sela bibir. Sialan, batinku.
            Aku yang sudah sejak tadi tak mampu lagi menjaga keseimbangan, mulai terhunyung. Sekelebat bayangan orang-orang di sekitarku tertangkap pandangan. Sayup-sayup kudengar gelegar tawa. Pelan, tubuhku mulai roboh, wajahku menyentuh tanah kering beraroma mentari. Botol minuman keras di satu tanganku tak lagi utuh.
Beberapa butir darah menetes dari pelipis dan mulutku. Merahnya menyatu dengan tanah. Bau amis.

***

“Itu kisah hari pertamaku di Ibu Kota.”
Sekelompok pemuda tanggung di hadapanku terbahak, menebarkan bau mulut yang entah sudah berapa lama tak beradu dengan pasta gigi.
“Ko lo bisa sampe digebukin?” salah seorang di antara mereka memaksaku membuka kenagan di hari yang paling kubenci, yang justru terpaksa harus kuceritakan.
“Iya, jadi saya datang ke Jakarta memang kepengen jadi artis.”
“Yang sayangnya berakhir tragis. Hahaha.”
 “Saya udah izin ke orang tua. Dan karena mereka—walaupun sudah tua—sering nonton acara kontes nyanyi di tv, yang hadiahnya bisa bikin saya jadi orang terkaya di kampung, mereka memberiku restu dan uang untuk bertahan hidup sebelum terkenal...”
“Ppfftt...” para manusia dekil itu menahan tawa.
“Sialnya, belum juga daftar jadi artis, uangku justru ludes di tangan preman-preman itu. Dirampok, dan dicekokin minuman keras pula.”
Demi mendengar kalimat terakhir, buncahlah tawa mereka. Tentu menertawakan kebodohanku.
“Lo jauh lebih polos daripada yang gue bayangkan, Sep. Sekarang gue percaya 100 persen kalau lo memang tinggal di kampung! Ini Jakarta, man! Lo harus bisa ngejaga diri lo sendiri. Untung sekarang ada kita yang mau ngasih lo ‘tumpangan’. Lah, kalau ngga? Gue rasa lo bakalan terus dipalak sampai cuma celana dalam lo aja yang tersisa,” Jams, ketua pedagang asongan mulai menggoda.
“Hahahaha...” kali ini mereka menertawakan kebodohanku versi imajinasi mereka sendiri.
Tiga hari yang lalu, sekelompok pedagang asongan—yang namanya keren-keren ini: Jams, Bob, Alex, Nicholas, Steven, John, dan Hery—menemukanku terkapar di antara jongko-jongko pasar dengan kondisi habis digebukin tentunya.
Mereka, dengan aneka jenis dagangan yang digantungkan di leher saling membantu mengangkat tubuhku yang babak belur. Kabarnya, aku sempat pingsan beberapa waktu, dilanjutkan dengan muntah-muntah sesaat setelah tersadar. Minuman keras yang baru pertama kali kutenggak membuatku mual selama tiga hari.
Ketujuh pemilik nama keren itu dengan ‘telaten’ merawatku. Mereka tak lupa memberiku makan. Menyediakan tempat tidur, yang meskipun entah layak atau tidak disebut tempat tidur, namun setidaknya berhasil mengantarku ke alam mimpi.
Di hari keempat, setelah berakhirnya kisah tragis yang mengundang tawa, aku memutuskan untuk bekerja. Tentu dengan modal suara dan tekad menjadi artis, pilihan profesi yang paling logis adalah menjadi pengamen.
Berjam-jam di jalanan, barulah aku tahu, bahwa tidak hanya menjadi artis yang susah. Jadi pengamen pun tidak bisa dibilang mudah.
Sampai matahari bertengger di ubun-ubun, hanya beberapa keping uang logam yang berhasil masuk kantongku. Alangkah tidak berharganya keringat seorang Asep.
Kulihat di sebrang, Alex dan Bob menawarkan dagangannya. Kulit hitam berbalur keringatnya tersorot matahari, mengilap. Yang ditawari hanya mengacungkan telapak tangan ke arah wajah mereka, tanda penolakan. Yang ditolak malah tersenyum, lantas beranjak pergi. Merayu pengendara mobil lain. Begitu seterusnya hingga adzan maghrib berkumandang. 
Kami, ketujuh pedangang asongan dan seorang pengamen pun kembali menyelinap ke gubuk tempat kami merajut mimpi.
Di perjalanan pulang, aku membeli sebungkus nasi untuk mengisi perut. Masing-masing dari mereka membeli dua bungkus.
Lima belas menit waktu yang cukup untuk menghabiskan sebungkus nasi hingga tak tersisa. Rasa lelah bekerja seharian terbayar sudah.
“Kenapa kalian membei nasi dua bungkus?”
“Sudah biasa, tiap hari juga kayak gini. Kemarin juga sama, cuman lo-nya aja yang nggak nyadar karena masih linglung,” Steven, yang nama aslinya Sariman menjawab.
“Terus kenapa nggak dimakan?” tanyaku heran.
“Buat adik-adik kita yang juga ngamen kayak lo.”
“Adik kandung?”
“Haha.. Ya, bukanlah. Mereka teman seprofesi aja. Yang ngantornya di jalanan. Ya sama kayak antara gue sama lo.”
Aku mulai heran, “Bukannya pendapatan kalian juga belum mencukupi untuk hidup kalian sehari-hari? Kalian juga perlu menyisihkan uang buat nabung, kan?”
“Haha.. Sep, hidup ini bukan hanya milik lo. Dan lo percaya ngga? Semakin banyak kita memberi, semakin banyak juga apa yang bakalan kita dapat. Buktinya, kita nggak pernah ngerasa kurang meskipun setiap hari, seberapapun duit yang kita dapat, kita pasti menyisihkan sebagian. Setidaknya buat makan temen-temen kita yang lain, yang belum tentu dapet penghasilan.”
Keenam teman lainnya mengangguk, setuju.
Seketika, aku berterima kasih kepada para preman yang merampokku di hari pertama aku menginjakan kaki di sini. Karena, mereka mengantarkanku pada kelompok manusia-manusia ‘berhati’, di kota sekejam Jakarta.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar