Buk!
Tanpa ba-bi-bu, kepalan itu kembali
mendarat di pipiku. Lelaki berkepala pelontos itu tidak memberiku kesempatan barang
sebentar pun untuk menyiapkan kuda-kuda. Pandanganku mulai mengabur, disusul
pedih yang mulai terasa di sela bibir. Sialan,
batinku.
Aku
yang sudah sejak tadi tak mampu lagi menjaga keseimbangan, mulai terhunyung. Sekelebat
bayangan orang-orang di sekitarku tertangkap pandangan. Sayup-sayup kudengar gelegar
tawa. Pelan, tubuhku mulai roboh, wajahku menyentuh tanah kering beraroma
mentari. Botol minuman keras di satu tanganku tak lagi utuh.
Beberapa butir darah
menetes dari pelipis dan mulutku. Merahnya menyatu dengan tanah. Bau amis.
***
“Itu kisah hari pertamaku di Ibu Kota.”
Sekelompok pemuda tanggung di hadapanku
terbahak, menebarkan bau mulut yang entah sudah berapa lama tak beradu dengan
pasta gigi.
“Ko lo bisa sampe digebukin?” salah seorang di antara mereka memaksaku membuka
kenagan di hari yang paling kubenci, yang justru terpaksa harus kuceritakan.
“Iya, jadi saya datang ke Jakarta memang kepengen jadi artis.”
“Yang sayangnya berakhir tragis. Hahaha.”
“Saya
udah izin ke orang tua. Dan karena mereka—walaupun sudah tua—sering nonton
acara kontes nyanyi di tv, yang hadiahnya bisa bikin saya jadi orang terkaya di
kampung, mereka memberiku restu dan uang untuk bertahan hidup sebelum
terkenal...”
“Ppfftt...” para manusia dekil itu
menahan tawa.
“Sialnya, belum juga daftar jadi artis,
uangku justru ludes di tangan preman-preman itu. Dirampok, dan dicekokin
minuman keras pula.”
Demi mendengar kalimat terakhir,
buncahlah tawa mereka. Tentu menertawakan kebodohanku.
“Lo jauh lebih polos daripada yang gue bayangkan,
Sep. Sekarang gue percaya 100 persen kalau lo memang tinggal di kampung! Ini
Jakarta, man! Lo harus bisa ngejaga
diri lo sendiri. Untung sekarang ada kita yang mau ngasih lo ‘tumpangan’. Lah,
kalau ngga? Gue rasa lo bakalan terus dipalak sampai cuma celana dalam lo aja
yang tersisa,” Jams, ketua pedagang asongan mulai menggoda.
“Hahahaha...” kali ini mereka
menertawakan kebodohanku versi imajinasi mereka sendiri.
Tiga hari yang lalu,
sekelompok pedagang asongan—yang namanya keren-keren ini: Jams, Bob, Alex,
Nicholas, Steven, John, dan Hery—menemukanku terkapar di antara jongko-jongko
pasar dengan kondisi habis digebukin tentunya.
Mereka, dengan aneka
jenis dagangan yang digantungkan di leher saling membantu mengangkat tubuhku
yang babak belur. Kabarnya, aku sempat pingsan beberapa waktu, dilanjutkan dengan
muntah-muntah sesaat setelah tersadar. Minuman keras yang baru pertama kali
kutenggak membuatku mual selama tiga hari.
Ketujuh pemilik nama
keren itu dengan ‘telaten’ merawatku. Mereka tak lupa memberiku makan. Menyediakan
tempat tidur, yang meskipun entah layak atau tidak disebut tempat tidur, namun
setidaknya berhasil mengantarku ke alam mimpi.
Di hari keempat,
setelah berakhirnya kisah tragis yang mengundang tawa, aku memutuskan untuk
bekerja. Tentu dengan modal suara dan tekad menjadi artis, pilihan profesi yang
paling logis adalah menjadi pengamen.
Berjam-jam di jalanan,
barulah aku tahu, bahwa tidak hanya menjadi artis yang susah. Jadi pengamen pun
tidak bisa dibilang mudah.
Sampai matahari bertengger
di ubun-ubun, hanya beberapa keping uang logam yang berhasil masuk kantongku. Alangkah
tidak berharganya keringat seorang Asep.
Kulihat di sebrang,
Alex dan Bob menawarkan dagangannya. Kulit hitam berbalur keringatnya tersorot
matahari, mengilap. Yang ditawari hanya mengacungkan telapak tangan ke arah
wajah mereka, tanda penolakan. Yang ditolak malah tersenyum, lantas beranjak pergi.
Merayu pengendara mobil lain. Begitu seterusnya hingga
adzan maghrib berkumandang.
Kami, ketujuh pedangang asongan dan seorang pengamen pun kembali menyelinap ke gubuk tempat kami merajut mimpi.
Kami, ketujuh pedangang asongan dan seorang pengamen pun kembali menyelinap ke gubuk tempat kami merajut mimpi.
Di perjalanan pulang,
aku membeli sebungkus nasi untuk mengisi perut. Masing-masing dari mereka
membeli dua bungkus.
Lima belas menit waktu
yang cukup untuk menghabiskan sebungkus nasi hingga tak tersisa. Rasa lelah
bekerja seharian terbayar sudah.
“Kenapa kalian membei nasi dua bungkus?”
“Sudah biasa, tiap hari juga kayak gini.
Kemarin juga sama, cuman lo-nya aja yang nggak nyadar karena masih linglung,”
Steven, yang nama aslinya Sariman menjawab.
“Terus kenapa nggak dimakan?” tanyaku
heran.
“Buat adik-adik kita yang juga ngamen
kayak lo.”
“Adik kandung?”
“Haha.. Ya, bukanlah. Mereka teman
seprofesi aja. Yang ngantornya di jalanan. Ya sama kayak antara gue sama lo.”
Aku mulai heran, “Bukannya pendapatan
kalian juga belum mencukupi untuk hidup kalian sehari-hari? Kalian juga perlu
menyisihkan uang buat nabung, kan?”
“Haha.. Sep, hidup ini bukan hanya milik
lo. Dan lo percaya ngga? Semakin banyak kita memberi, semakin banyak juga apa
yang bakalan kita dapat. Buktinya,
kita nggak pernah ngerasa kurang meskipun setiap hari, seberapapun duit yang
kita dapat, kita pasti menyisihkan sebagian. Setidaknya buat makan temen-temen
kita yang lain, yang belum tentu dapet penghasilan.”
Keenam teman lainnya mengangguk, setuju.
Seketika, aku berterima
kasih kepada para preman yang merampokku di hari pertama aku menginjakan kaki
di sini. Karena, mereka mengantarkanku pada kelompok manusia-manusia ‘berhati’,
di kota sekejam Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar