Telah lebih dari seperempat jam, kakiku
menancap di pasir yang lembut ini. Kertas yang aku genggam tak kunjung menerima
keputusan nasibnya. Masuk kembali ke kantongku, atau bernasib sama seperti
lembaran uang berwarna merah. Bergulung dengan ombak setelah hancur di tanganku
yang kekar.
Matahari
mulai beranjak meninggalkan puncaknya. Dan entah kenapa, keindahan pantai Cicalobak
di selatan Garut ini sama sekali tak menarik perhatianku. Biasanya, pantai yang
aku sebut miniatur Bali ini berhasil membuatku betah berlama-lama menikmati
keindahan tebing, saung-saung dan hembusan anginnya, atau bahkan hanya untuk
menyampaikan salam pada lautan lepas.
Dan sekarang, satu-satunya yang
membuatku tak beranjak hanyalah karena disini, saat ini, aku tak menemukan
orang-orang yang ‘lupa’. Aku sepenuhnya berkuasa atas jalan pikiranku. Tak ada rayuan,
tak ada kepentingan.
Hanya aku sendiri disini. Memandang jauh
ke tengah lautan. Berharap menemukan bayangan laki-laki itu, hanya untuk
sekedar bertanya bagaimana cara agar aku bisa mewujudkan mipinya.
Kembali kuremas pembungkus otakku,
sedikit menjambak rambut ikalku yang tak lagi beraroma gel, fustasi! Deburan
ombak seakan menjadi musik pengiring kepenatanku. Sesekali gelombangnya
menyentuh telapak kakiku yang tak berpelindung. Sekedar untuk membasahinya,
atau untuk mengantarkan sampah-sampah plastik ke sela-sela jari.
Penguasa, penguasa, berilah hambamu
uang, beri hamba uang..
Sepenggal lirik lagu iwan fals berkoar
dibalik saku celanaku, tanda telfon masuk.
“Halo, Fras! Dimana?” seseorang
disebrang sana langsung mengintrogasi
“Mencari negeri impian,” aku menatap
langit, berharap menemukan jawaban
“Hahaha.. udah jadi mahasiswa beneran lagi lo? Udahlah, bukan saatnya
kembali pada idealisme. Jangan bilang lo mau nyia-nyiain kesempatan ini. apa
susahnya sih, tinggal nyebarin...”
Tut..tut..tut..
Obrolan kami berakhir setelah kutekan
tombol berwarna merah. Tiba-tiba saja aku muak mendengar celotehannya. Rudi,
dia yang dulunya menjadi orator favoritku. Dia yang dulunya berteriak-teriak
menyuarakan mimpi para pemuda dengan retorika yang membuat setiap kader bungkam
hanya untuk mendengarkan suaranya, dan merasakan semangatnya.
Dialah orang pertama yang mengenalkanku
pada idealisme, sejarah dan negara impian. Serta akhirnya menjadi orang pertama
yang mengajarkanku untuk menjadi ‘realistis’ di masa pemilu, dan melek duit.
Hah. Omong kosong dengan idealisme! batinku
Ya, Rudi kini memang tak lagi menjadi
mahasiswa. Dia adalah seniorku yang setahun yang lalu telah bekeja di salah
satu media masa terkemuka di Indonesia. Sedangkan aku masih berkutat dengan
skripsi.
Itulah mengapa sedikit demi sedikit
Rudi telah bermetamorfosis menjadi Rudi yang tak kukenal.
“Setelah lulus, saya akan menjadi
jurnalis yang bersih. Memberitakan fakta! Bukan seperti media sekarang, yang
hanya bisa membohongi masyarakat dengan berita-beritanya!” katanya waktu itu,
dengan almamater yang masih membungkus perut laparnya.
Dan Rudi yang ada sekarang, adalah Rudi
yang tak lagi lapar. Setelah jutaan rupiah menggelembungkan rekeningnya. Rupiah
itu sebagai bayaran atas kerja kerasnya sebagai tim sukses gelap salah satu partai.
Ya, pada pemilu presiden tahun ini,
salah satu partai telah berhasil membayar wartawan yang juga mantan aktivis
ini. Alhasil, setiap pemberitaan yang ia buat selalu mengagung-agungkan
partainya, dan terkesan menyudutkan lawan.
Rudi pula lah yang mengajakku
bergabung. Memintaku melupakan identitas sebagai mahasiswa dan menjadi pekerja
untuk kemenangan calonnya.
Rudi lupa, bahwa idealisme yang ia
tanam telah mengakar di benakku. Hingga tak sulit bagiku untuk membakar ratusan
kaos partai, dan menyumbangkan beras ke mushola dengan tidak mengatasnamakan
calon presiden yang ia dukung. Lembaran rupiah untukku dan untuk calon
pendukung telah hanyut bersama ombak, ranting, dan sampah plastik. Yang tersisa
hanyalah selebaran berlambang partai politik yang kini bersarang dibalik remasanku.
Kata-kata
Rudi kembali terngiang. Ketika kami bersila mengelilingi lilin-lilin yang
menjadi penerang ditengah malam yang penuh dengan harapan. Puluhan mahasiswa
dengan almamater yang sama menanti sang orator memulai pembicaraannya. Tak lama
kemudian, ia menyuarakan mimpi-mimpinya, mimpi-mimpi kami, dan mimpi bapak
kami, Plato.
Rudi berhasil
membuat kami menyadari akan perlunya mimpi tentang sebuah negara idaman seperti
mimpinya plato. Ribuan kata terlontar dari mulutnya, hingga sampailah pada
puncak harapan itu. Harapan tentang Indonesia yang disebut-sebut sebagai negara
impian Plato. Indonesia dengan kekayaan alam yang melimpah dan penguasa yang
mensejahterakan. Indonesia ketika masih bernama Atlantis.
Dan sekarang,
perlahan harapan itu tersamarkan oleh kesejahteraan pribadi. Perlahan
pemimpi-pemimpi itu lupa bahwa negara impian Plato adalah negeri yang
mensejahterakan seluruh rakyatnya, bukan sebagian. Negeri yang adil, bukan
curang. Negeri yang berhukum, bukan membeli hukum.
Dan sore ini,
ditengah senja yang muram, aku memutuskan nasib kertas-kertas calon penguasa
yang tak adil bahkan sejak masa pencalonannya. Aku menggulungnya dan
melemparkan sejauh yang aku bisa. Berharap dengan tenggelamnya si kertas,
tenggelam pula kemunafikan-kemunafikan ini. Bersama dengan tenggelamnya si
penguasa langit, tenggelam pula lah keborokan ini. Seperti halnya Atlantis yang
juga tenggelam bersama peradabannya.
*Astri Aitko

Tidak ada komentar:
Posting Komentar