Kamis, 05 Juni 2014

CERPEN : IDEOLOGI (?)



Telah lebih dari seperempat jam, kakiku menancap di pasir yang lembut ini. Kertas yang aku genggam tak kunjung menerima keputusan nasibnya. Masuk kembali ke kantongku, atau bernasib sama seperti lembaran uang berwarna merah. Bergulung dengan ombak setelah hancur di tanganku yang kekar.
          Matahari mulai beranjak meninggalkan puncaknya. Dan entah kenapa, keindahan pantai Cicalobak di selatan Garut ini sama sekali tak menarik perhatianku. Biasanya, pantai yang aku sebut miniatur Bali ini berhasil membuatku betah berlama-lama menikmati keindahan tebing, saung-saung dan hembusan anginnya, atau bahkan hanya untuk menyampaikan salam pada lautan lepas.
Dan sekarang, satu-satunya yang membuatku tak beranjak hanyalah karena disini, saat ini, aku tak menemukan orang-orang yang ‘lupa’. Aku sepenuhnya berkuasa atas jalan pikiranku. Tak ada rayuan, tak ada kepentingan.
Hanya aku sendiri disini. Memandang jauh ke tengah lautan. Berharap menemukan bayangan laki-laki itu, hanya untuk sekedar bertanya bagaimana cara agar aku bisa mewujudkan mipinya.
Kembali kuremas pembungkus otakku, sedikit menjambak rambut ikalku yang tak lagi beraroma gel, fustasi! Deburan ombak seakan menjadi musik pengiring kepenatanku. Sesekali gelombangnya menyentuh telapak kakiku yang tak berpelindung. Sekedar untuk membasahinya, atau untuk mengantarkan sampah-sampah plastik ke sela-sela jari.

          Penguasa, penguasa, berilah hambamu uang, beri hamba uang..
Sepenggal lirik lagu iwan fals berkoar dibalik saku celanaku, tanda telfon masuk.
“Halo, Fras! Dimana?” seseorang disebrang sana langsung mengintrogasi
“Mencari negeri impian,” aku menatap langit, berharap menemukan jawaban
“Hahaha.. udah jadi mahasiswa beneran lagi lo? Udahlah, bukan saatnya kembali pada idealisme. Jangan bilang lo mau nyia-nyiain kesempatan ini. apa susahnya sih, tinggal nyebarin...”
Tut..tut..tut..
Obrolan kami berakhir setelah kutekan tombol berwarna merah. Tiba-tiba saja aku muak mendengar celotehannya. Rudi, dia yang dulunya menjadi orator favoritku. Dia yang dulunya berteriak-teriak menyuarakan mimpi para pemuda dengan retorika yang membuat setiap kader bungkam hanya untuk mendengarkan suaranya, dan merasakan semangatnya.
Dialah orang pertama yang mengenalkanku pada idealisme, sejarah dan negara impian. Serta akhirnya menjadi orang pertama yang mengajarkanku untuk menjadi ‘realistis’ di masa pemilu, dan melek duit.
Hah. Omong kosong dengan idealisme! batinku
Ya, Rudi kini memang tak lagi menjadi mahasiswa. Dia adalah seniorku yang setahun yang lalu telah bekeja di salah satu media masa terkemuka di Indonesia. Sedangkan aku masih berkutat dengan skripsi.
Itulah mengapa sedikit demi sedikit Rudi telah bermetamorfosis menjadi Rudi yang tak kukenal.
“Setelah lulus, saya akan menjadi jurnalis yang bersih. Memberitakan fakta! Bukan seperti media sekarang, yang hanya bisa membohongi masyarakat dengan berita-beritanya!” katanya waktu itu, dengan almamater yang masih membungkus perut laparnya.
Dan Rudi yang ada sekarang, adalah Rudi yang tak lagi lapar. Setelah jutaan rupiah menggelembungkan rekeningnya. Rupiah itu sebagai bayaran atas kerja kerasnya sebagai tim sukses gelap salah satu partai.
Ya, pada pemilu presiden tahun ini, salah satu partai telah berhasil membayar wartawan yang juga mantan aktivis ini. Alhasil, setiap pemberitaan yang ia buat selalu mengagung-agungkan partainya, dan terkesan menyudutkan lawan.
Rudi pula lah yang mengajakku bergabung. Memintaku melupakan identitas sebagai mahasiswa dan menjadi pekerja untuk kemenangan calonnya.
Rudi lupa, bahwa idealisme yang ia tanam telah mengakar di benakku. Hingga tak sulit bagiku untuk membakar ratusan kaos partai, dan menyumbangkan beras ke mushola dengan tidak mengatasnamakan calon presiden yang ia dukung. Lembaran rupiah untukku dan untuk calon pendukung telah hanyut bersama ombak, ranting, dan sampah plastik. Yang tersisa hanyalah selebaran berlambang partai politik yang kini bersarang dibalik remasanku.
          Kata-kata Rudi kembali terngiang. Ketika kami bersila mengelilingi lilin-lilin yang menjadi penerang ditengah malam yang penuh dengan harapan. Puluhan mahasiswa dengan almamater yang sama menanti sang orator memulai pembicaraannya. Tak lama kemudian, ia menyuarakan mimpi-mimpinya, mimpi-mimpi kami, dan mimpi bapak kami, Plato.
          Rudi berhasil membuat kami menyadari akan perlunya mimpi tentang sebuah negara idaman seperti mimpinya plato. Ribuan kata terlontar dari mulutnya, hingga sampailah pada puncak harapan itu. Harapan tentang Indonesia yang disebut-sebut sebagai negara impian Plato. Indonesia dengan kekayaan alam yang melimpah dan penguasa yang mensejahterakan. Indonesia ketika masih bernama Atlantis.

          Dan sekarang, perlahan harapan itu tersamarkan oleh kesejahteraan pribadi. Perlahan pemimpi-pemimpi itu lupa bahwa negara impian Plato adalah negeri yang mensejahterakan seluruh rakyatnya, bukan sebagian. Negeri yang adil, bukan curang. Negeri yang berhukum, bukan membeli hukum.
          Dan sore ini, ditengah senja yang muram, aku memutuskan nasib kertas-kertas calon penguasa yang tak adil bahkan sejak masa pencalonannya. Aku menggulungnya dan melemparkan sejauh yang aku bisa. Berharap dengan tenggelamnya si kertas, tenggelam pula kemunafikan-kemunafikan ini. Bersama dengan tenggelamnya si penguasa langit, tenggelam pula lah keborokan ini. Seperti halnya Atlantis yang juga tenggelam bersama peradabannya.


*Astri Aitko

Tidak ada komentar:

Posting Komentar