Minggu, 22 Maret 2015

CERPEN : PEKAT


Tak seperti biasanya, kali ini kau duduk di teras rumah sembari mendendangkan lagu kematian. Segelas kopi yang menemanimu melintasi dua senja sama sekali tak kau sentuh. Matamu masih terpejem. Aku belum dapat mencerna perasaan macam apa yang hendak kau pertontonkan. Sementara itu, di dalam rumah, ibumu menyisir rambut panjangku. Ah, aku bukan anak kecil lagi, Ma, batinku.
Sejak kemarin malam, tetangga dan keluarga kita silih berganti bertamu. Untuk kali pertama, rumah yang kita bangun dibanjiri pengunjung. Untuk merayakan apa? Aku masih belum mengerti. Kakimu mulai mengetuk-ngetuk lantai, kebiasaan yang kau lakukan selagi gelisah. Aku ingin menghampirimu, tetapi sangat sulit melarikan diri dari genggaman tangan ayah yang meskipun ia sudah tua, cengkramannya masih bertenaga.
Kulirik jam yang berdenting memecah keheningan; mengembalikan manusia-manusia di sekelilingku yang lupa berpijak. Sayup-sayup terdengar suara adzan dari kejauhan. Beberapa orang melangkah menuju kamar mandi, mengambil air wudhu. Para ibu mengeluarkan peci dan mukena dari dalam tas yang malam tadi beralih fungsi menjadi bantal. Aku mulai merasa perlu membeli banyak bantal, sayang. Barangkali suatu saat nanti rumah kita akan mendadak menjadi tempat penginapan lagi.
Kau masih belum beranjak dari tempat duduk. Kulihat beberapa orang mulai menghampirimu, lantas menuntunmu mengambil air wudhu. Kau berjalan sambil terpejam.
Tangan kananku mulai merasakan kemerdekaannya setelah beberapa saat yang lalu ayah tak lagi menggenggamnya. Ia beranjak pergi, hendak mengimami shalat. Tempatnya duduk digantikan ibuku. Kali ini perutku yang menjadi sasaran. Kulihat ibuku tersenyum samar, barangkali ia ingat, dua hari yang lalu perutku sangat bulat. Kadang ada yang menendang-nendang dari dalam. Namun kini tinggal gumpalan lemak yang tersisa, tanpa ada yang menendang-nendang. Mahluk yang biasanya menendang-nendang itu terbaring di sampingku. Seperti bapaknya, matanya pun terpejam. Kata orang, manusia yang baru dilahirkan memang lebih sering tidur. Aku mulai merasa kesepian. Ingin ikut bergabung, ingin terpejam.
Dalam ruang gelap di balik kelopak mata, mulai bermunculan begitu banyak kisah yang membuatku ngeri sekaligus takjub. Detik ini aku tak hanya mengingat saat-saat aku melahirkan, bahkan aku pun mengingat saat-saat aku dilahirkan. Aku merasakan hal yang sebelumnya kulupa sekalipun. Aku ingat bagaimana rasanya air susu ibu, aku merasakan hangatnya pelukan ayah, aku kembali merasakan bahagianya mengenakan toga, hingga akhirnya aku mengingat betapa pedihnya melihat kau tak bisa lagi melihat, sebulan sebelum hari pernikahan kita. Untuk beberapa saat, tayangan masa laluku berhenti di hari itu, mengorek kembali luka lama yang tak jua mengering. Jika ada hari yang paling menyakitkan dalam hidup, ialah ketika kau menjadi buta. Dan jika ada hari yang paling membahagiakan, adalah ketika aku mencintaimu yang buta dengan hatiku yang tak pernah buta.
Satu jam berlalu, ketika kurasakan tanganmu mengusap kepalaku. Aku masih terpejam, merasakan belaianmu, dan menjumpaimu dalam kegelapan. Kurasakan tanganmu mulai bergetar. Aku baru tahu kau segugup ini, pikirku.
Sesaat kemudian tubuhmu mulai berguncang. Sementara kudengar kau mulai terisak. Demi tak ingin terlihat cengeng, kau kembali menyeret kakimu menuju teras rumah, menghampiri segelas kopi dingin, meninggalkan tubuhku yang juga dingin. Kutahu kau meneguknya, kemudian berbisik parau: “Aku ingin istri dan anakku segera dimandikan”.





*Terinspirasi oleh: Agus Noor-Pagi di Secangkir Kopi

5 komentar:

  1. bagus ceritanya...bahasanya mengalir...

    BalasHapus
  2. Positif Astri.. positif thinking, kunjungan baliknya blog Gunawan juga ya ditunggu http://padahalmasihsuka.blogspot.com/2016/10/kak-gun-mending-temenan-aja-ya.html

    BalasHapus