Tak
seperti biasanya, kali ini kau duduk di teras rumah sembari mendendangkan lagu kematian.
Segelas kopi yang menemanimu melintasi dua senja sama sekali tak kau sentuh. Matamu masih terpejem. Aku
belum dapat mencerna perasaan macam apa yang hendak kau pertontonkan. Sementara
itu, di dalam rumah, ibumu menyisir rambut panjangku. Ah, aku bukan anak kecil lagi, Ma, batinku.
Sejak
kemarin malam, tetangga dan keluarga kita silih berganti bertamu. Untuk kali
pertama, rumah yang kita bangun dibanjiri pengunjung. Untuk merayakan apa? Aku
masih belum mengerti. Kakimu mulai mengetuk-ngetuk lantai, kebiasaan yang kau
lakukan selagi gelisah. Aku ingin menghampirimu, tetapi sangat sulit melarikan
diri dari genggaman tangan ayah yang meskipun ia sudah tua, cengkramannya masih
bertenaga.
Kulirik
jam yang berdenting memecah keheningan; mengembalikan manusia-manusia di
sekelilingku yang lupa berpijak. Sayup-sayup terdengar suara adzan dari
kejauhan. Beberapa orang melangkah menuju kamar mandi, mengambil air wudhu. Para
ibu mengeluarkan peci dan mukena dari dalam tas yang malam tadi beralih fungsi
menjadi bantal. Aku mulai merasa perlu membeli banyak bantal, sayang. Barangkali
suatu saat nanti rumah kita akan mendadak menjadi tempat penginapan lagi.
Kau
masih belum beranjak dari tempat duduk. Kulihat beberapa orang mulai
menghampirimu, lantas menuntunmu mengambil air wudhu. Kau berjalan sambil
terpejam.
Tangan kananku
mulai merasakan kemerdekaannya setelah beberapa saat yang lalu ayah tak lagi
menggenggamnya. Ia beranjak pergi, hendak mengimami shalat. Tempatnya duduk digantikan
ibuku. Kali ini perutku yang menjadi sasaran. Kulihat ibuku tersenyum samar, barangkali
ia ingat, dua hari yang lalu perutku sangat bulat. Kadang ada yang
menendang-nendang dari dalam. Namun kini tinggal gumpalan lemak yang tersisa, tanpa
ada yang menendang-nendang. Mahluk yang biasanya menendang-nendang itu terbaring
di sampingku. Seperti bapaknya, matanya pun terpejam. Kata orang, manusia yang
baru dilahirkan memang lebih sering tidur. Aku mulai merasa kesepian. Ingin ikut
bergabung, ingin terpejam.
Dalam
ruang gelap di balik kelopak mata, mulai bermunculan begitu banyak kisah yang
membuatku ngeri sekaligus takjub. Detik ini aku tak hanya mengingat saat-saat
aku melahirkan, bahkan aku pun mengingat saat-saat aku dilahirkan. Aku merasakan
hal yang sebelumnya kulupa sekalipun. Aku ingat bagaimana rasanya air susu ibu,
aku merasakan hangatnya pelukan ayah, aku kembali merasakan bahagianya
mengenakan toga, hingga akhirnya aku mengingat betapa
pedihnya melihat kau tak bisa lagi melihat, sebulan sebelum hari pernikahan
kita. Untuk beberapa saat, tayangan masa laluku berhenti di hari itu, mengorek
kembali luka lama yang tak jua mengering. Jika ada hari yang paling menyakitkan
dalam hidup, ialah ketika kau menjadi buta. Dan jika ada hari yang paling membahagiakan,
adalah ketika aku mencintaimu yang buta dengan hatiku yang tak pernah buta.
Satu
jam berlalu, ketika kurasakan tanganmu mengusap kepalaku. Aku masih terpejam,
merasakan belaianmu, dan menjumpaimu dalam kegelapan. Kurasakan tanganmu mulai
bergetar. Aku baru tahu kau segugup ini,
pikirku.
Sesaat kemudian
tubuhmu mulai berguncang. Sementara kudengar kau mulai terisak. Demi tak ingin
terlihat cengeng, kau kembali menyeret kakimu menuju teras rumah, menghampiri
segelas kopi dingin, meninggalkan tubuhku yang juga dingin. Kutahu kau
meneguknya, kemudian berbisik parau: “Aku ingin istri dan anakku segera dimandikan”.
*Terinspirasi
oleh: Agus Noor-Pagi di Secangkir Kopi
bagus ceritanya...bahasanya mengalir...
BalasHapusTerima kasih kaa ^_^
HapusPekat bgt... :)
BalasHapusPositif atau negatif, Gune? -_-
HapusPositif Astri.. positif thinking, kunjungan baliknya blog Gunawan juga ya ditunggu http://padahalmasihsuka.blogspot.com/2016/10/kak-gun-mending-temenan-aja-ya.html
BalasHapus