Kadangkala aku berpikir, alangkah berbahagianya
seseorang yang tidak tahu apa-apa..
Seperti matahari yang tak
tahu nikmatnya berlindung di dalam selimut, tidak tahu dirinya telah membakar
makhluk selainnya, bahkan tak tahu indahnya senja.
Hanya bersinar, dan terus saja bersinar.
Tak tahu apa-apa...
Seperti ayam yang tak tahu alangkah
mengganggunya ia ketika berkokok di pagi hari, tak tahu nikmatnya sate kambing,
hingga tak tahu bahwa toilet duduk telah ditemukan.
Hanya hidup, berkokok, bertelur, dan
disembelih. Hanya begitu.
Seperti ombak yang tak tahu dirinya
selalu dirindukan, tidak tahu banyak nyawa yang telah ia tenggelamkan, dan tak
tahu bahwa tidak semua air bisa bergerak.
Hanya berdebur, pasang, kemudian
surut...
Ah, andaikata aku tidak
tahu apa-apa, mungkin tawa masa kecilku masih menggema; mungkin langkahku masih
riang, mungkin kucir rambutku masih meliuk-liuk, mungkin aku masih bisa
berenang dengan tanpa mengenakan apapun!
Dan mungkin, aku tidak akan terlalu jauh
meninggalkan ‘diriku sendiri’!
Hingga pada suatu siang
dengan matahari yang lagi-lagi tak tahu bahwa dirinya telah membakar kulitku, di
lantai teratas gedung tempatku menuntut ilmu, seorang teman bertanya...
“Untuk apa kita dilahirkan?” matanya tertuju
pada mereka yang berlalu-lalang di bawah sana, sesekali orang-orang itu menutup
hidung, menyelamatkan rongga pernafasannya dari debu tanah yang membumbung. Kemudian
tertawa lagi, jingkrak-jingkrak lagi. Tak menyadari dirinya diamati...
Beberapa detik pita suaraku tak
berfungsi. Otakku mulai bekerja keras.
“Apa yang bisa kita lakukan untuk bumi
ini? Apakah kita setidak bermanfaat itu?” lanjutnya, seakan tak mempedulikan
pertanyaan pertama yang justru belum kujawab.
......
Hatiku mulai ciut, disaat aku masih
mengkhayalkan nikmatnya tidak mengetahui apapun, nikmatnya tidak berpikir,
sedangkan aku tahu bahwa yang menjadi pembeda antara manusia dengan mahluk
lainnya adalah kemampuan berpikir, ia, seseorang yang pandangannya masih
menembus jendela, telah memikirkan tentang hakikat, fungsi manusia hidup...
Aku mulai menopang daguku yang seakan
tak sanggup lagi menahan beban otak. Aku kembali merenung, menampar diri
sendiri.
Beberapa saat
berlalu... Mulutku mulai bergerak, pita suaraku kembali menjalankan tugasnya...
Telingaku mendengar bahasa yang keluar
dari mulutku, tapi aku sendiri tak tahu apa yang tengah kubicarakan.
Teman disebelahku tersenyum seraya
kembali melanjutkan obrolan, mengeluarkan banyak pertanyaan.
,
Namun kini justru telingaku yang tak
berfungsi. Aku melihat mulutnya bergerak, namun entah apa yang ia bicarakan.
Yang jelas, aku berterima kasih untuk
pertanyaan pertama yang ia lontarkan.
Seraya kembali berterima kasih pada Tuhan, karena
tidak lupa memberiku otak.
(Aku
kembali melanjutkan pencarian, sambil sesekali menengok ke belakang;
Aduhai,
betapa cantiknya jiwa yang kosong itu......)
Astagfirullah...
Wow sufi bingit ...
BalasHapusTata masa depan
BalasHapusJangan lupaka masalau sebagai Ibroh (pelajaran)
Hiraukan oran-orang yang ingin mengintimidasi
Istiqamah insyaalloh berkah...
aamiin...
keep smile u/ astri hilman yakin kamu bakal jadi orang besar
Kunjungan balik yaa di sahabatberguna123.blogspot.com hehe
BalasHapusbang iqbal?
BalasHapus:D masa sih, bang
Terima kasiiiiiih utk ahilmaan dan amiiiinnn do'anya :))
BalasHapuseeehhh ada guneee ;) terima kasih telah berkunjung, gun. he
ciee yang masih rajin nulis..
baiklah..
(maaf lg ngga bsa nlis d klom blasan -_-)