Rabu, 12 November 2014

BIMBANG.....



Kadangkala aku berpikir, alangkah berbahagianya seseorang yang tidak tahu apa-apa..
Seperti matahari yang tak tahu nikmatnya berlindung di dalam selimut, tidak tahu dirinya telah membakar makhluk selainnya, bahkan tak tahu indahnya senja.
Hanya bersinar, dan terus saja bersinar. Tak tahu apa-apa...
Seperti ayam yang tak tahu alangkah mengganggunya ia ketika berkokok di pagi hari, tak tahu nikmatnya sate kambing, hingga tak tahu bahwa toilet duduk telah ditemukan.
Hanya hidup, berkokok, bertelur, dan disembelih. Hanya begitu.
Seperti ombak yang tak tahu dirinya selalu dirindukan, tidak tahu banyak nyawa yang telah ia tenggelamkan, dan tak tahu bahwa tidak semua air bisa bergerak.
Hanya berdebur, pasang, kemudian surut...
Ah, andaikata aku tidak tahu apa-apa, mungkin tawa masa kecilku masih menggema; mungkin langkahku masih riang, mungkin kucir rambutku masih meliuk-liuk, mungkin aku masih bisa berenang dengan tanpa mengenakan apapun!
Dan mungkin, aku tidak akan terlalu jauh meninggalkan ‘diriku sendiri’!

Hingga pada suatu siang dengan matahari yang lagi-lagi tak tahu bahwa dirinya telah membakar kulitku, di lantai teratas gedung tempatku menuntut ilmu, seorang teman bertanya...
“Untuk apa kita dilahirkan?” matanya tertuju pada mereka yang berlalu-lalang di bawah sana, sesekali orang-orang itu menutup hidung, menyelamatkan rongga pernafasannya dari debu tanah yang membumbung. Kemudian tertawa lagi, jingkrak-jingkrak lagi. Tak menyadari dirinya diamati...
Beberapa detik pita suaraku tak berfungsi. Otakku mulai bekerja keras.
“Apa yang bisa kita lakukan untuk bumi ini? Apakah kita setidak bermanfaat itu?” lanjutnya, seakan tak mempedulikan pertanyaan pertama yang justru belum kujawab.
......
Hatiku mulai ciut, disaat aku masih mengkhayalkan nikmatnya tidak mengetahui apapun, nikmatnya tidak berpikir, sedangkan aku tahu bahwa yang menjadi pembeda antara manusia dengan mahluk lainnya adalah kemampuan berpikir, ia, seseorang yang pandangannya masih menembus jendela, telah memikirkan tentang hakikat, fungsi manusia hidup...
Aku mulai menopang daguku yang seakan tak sanggup lagi menahan beban otak. Aku kembali merenung, menampar diri sendiri.
Beberapa saat berlalu... Mulutku mulai bergerak, pita suaraku kembali menjalankan tugasnya...
Telingaku mendengar bahasa yang keluar dari mulutku, tapi aku sendiri tak tahu apa yang tengah kubicarakan.
Teman disebelahku tersenyum seraya kembali melanjutkan obrolan, mengeluarkan banyak pertanyaan.
,
Namun kini justru telingaku yang tak berfungsi. Aku melihat mulutnya bergerak, namun entah apa yang ia bicarakan.
Yang jelas, aku berterima kasih untuk pertanyaan pertama yang ia lontarkan.
Seraya kembali berterima kasih pada Tuhan, karena tidak lupa memberiku otak.


(Aku kembali melanjutkan pencarian, sambil sesekali menengok ke belakang;
Aduhai, betapa cantiknya jiwa yang kosong itu......)




Astagfirullah...

5 komentar:

  1. Tata masa depan
    Jangan lupaka masalau sebagai Ibroh (pelajaran)
    Hiraukan oran-orang yang ingin mengintimidasi
    Istiqamah insyaalloh berkah...

    aamiin...

    keep smile u/ astri hilman yakin kamu bakal jadi orang besar

    BalasHapus
  2. Kunjungan balik yaa di sahabatberguna123.blogspot.com hehe

    BalasHapus
  3. Terima kasiiiiiih utk ahilmaan dan amiiiinnn do'anya :))


    eeehhh ada guneee ;) terima kasih telah berkunjung, gun. he
    ciee yang masih rajin nulis..
    baiklah..


    (maaf lg ngga bsa nlis d klom blasan -_-)

    BalasHapus