Minggu, 12 Januari 2014

PAPER : Perkembangan Sosiologi dari Masa ke Masa



I.                  PENDAHULUAN

Sebagai makluk sosial, tidak mungkin manusia memisahkan hidupnya dari manusia lain. Manusia akan selalu berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia lainnya, terutama dengan yang ada di lingkungannya. Dari proses interaksi dengan lingkungan ini, pada akhirnya manusia akan membentuk sebuah kelompok, dan lebih jauh lagi akan membentuk sebuah masyarakat.
Masyarakat adalah sekelompok individu yang memiliki hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya.
Selain dari interaksi, budaya yang dihasilkan oleh sebuah masyarakat tidak terlepas dari kodrat manusia sebagai mahluk yang diberi akal untuk berfikir. Manusia selalu ingin tahu tentang lingkungan sekitarnya. Bahkan sejak zaman sebelum masehi pun manusia sudah menggunakan akal tersebut untuk memikirkan tentang lingkungannya. Baik tentang alam maupun tentang manusia itu sendiri. Dari hasil prose berfikir itu pada akhirnya manusia memperoleh pengetahuan.
Pada mulanya, semua pengetahuan manusia yang mencakup segala usaha pemikiran mengenai manusia dan alam sekitarnya—termasuk masyarakat—ada dalam naungan sebuah ilmu yang disebut filsafat. Akan tetapi, sejalan dengan semakin kompleksnya pemikiran manusia, maka terjadilah spesialisasi. Filsafat alam dan filsafat sosial. Filsafat alam berkembang menjadi berbagai cabang ilmu, seperti astronomi, fisika, kimia, biologi, dan geologi. Sedangkan filsafat kejiwaan dan filsafat sosial berkembang menjadi psikologi dan sosiologi.
Sosiologi berasal dari bahasa latin yaitu socius yang berarti kawan dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Hal ini pertama kali diungkapkan oleh Auguste Comte (1798-1857) dalam bukunya yang berjudul Cours De Philosophie Positive. Hingga pada akhirnya sosiologi dikenal sebagai ilmu yang mempelajari tentang masyarakat. Dan dengan nama sosiologi, berarti ilmu ini sudah merupakan spesialisasi dari ilmu-ilmu sosial, bukan lagi ilmu filsafat.
Pada saat sosiologi masih dianggap sebagai ilmu yang bernaung di dalam filsafat dan disebut dengan nama filsafat sosial, materi yang dibahas tidak dapat dikatakan sebagai ilmu sosiologi seperti yang dikenal sekarang. Sebab, pada saat itu materi filsafat sosial masih mengandung unsur etika yang membahas tentang bagaimana  seharusnya masyarakat itu (das solen). Sedangkan sosiologi yang berkembang saat ini merupakan ilmu yang membicarakan bagaimana  kenyataan  yang ada dalam masyarakat (das sein).
Beberapa ilmuan yang mengembangkan filsafat sosial diantaranya adalah Plato (429–347 SM) yang membahas unsur-unsur sosiologi tentang negara dan Aristoteles (384-322 SM) yang membahas unsur-unsur sosiologi dalam hubungannya dengan etika sosial, yakni bagaimana seharusnya tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan sesama manusia ataupun dalam kehidupan sosialnya. Selain kedua ilmuan itu, Thomas Hobbes, John Locke, dan Jean Jaques Rousseau juga ikut memberikan bentuk pada ilmu yang kemudian disebut sosiologi, dengan pemikiran mereka tentang kontak sosial. Sampai awal tahun 1800-an, konsep pemikiran sosiologi belum dianggap sebagai  ilmu pengetahuan. Baru setelah Auguste Comte (1798-1857) menciptakan istilah sosiologi, pada tahun 1839 terhadap keseluruhan pengetahuan manusia mengenai kehidupan bermasyarakat, maka lahirlah sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan. Inilah yang disebut dengan tahap pemikiran awal sosiologi. Comte berpendapat bahwa tingkah laku sosial dan kejadian-kejadian di masyarakat dapat diamati dan diukur secara ilmiah. Comte dianggap sebagai ‘Bapak Sosiologi’ yang memulai kajian sosial dengan metode ilmiah.
Dari pemaparan tersebut, jelas bahwa interaksi antar manusia dan masyarakat terjadi sebelum ilmu yang mempelajarinya muncul. Spesialisasi ilmunya pun harus melewati beberapa tahapan terlebih dahulu, salah satunya adalah dengan bernaung di satu ilmu yang sama dengan ilmu-ilmu lainnya. Sosiologi pun bukan ilmu yang statis. Sosiologi selalu berkembang sesuai dengan perkembangan manusia itu sendiri.
Karena alasan sosiologi yang selalu berkembang dari waktu ke waktu, dan sosiologi tidak begitu saja terlahir menjadi sebuah disiplin ilmu, dalam karya ilmiah ini kami akan mengelompokan masa perkembangan sosiologi beserta tokohnya. Sesuai dengan judul yang kami pilih yaitu “Perkembangan Sosiologi dari Masa ke Masa”.




Karya tulis ilmiah ini kami buat dengan tujuan untuk:
·         Mengetahui sejarah perkembangan sosiologi
·         Mengetahui perkembangan sosiologi dari abad kea bad
·         Mengetahui proses lahirnya sosiologi modern.

Selain itu, karya tulis ilmiah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoretis maupun praktis. Secara teoretis paper ini berguna untuk mengembangkan konsep penelitian mengenai perkembangan masyarakat dan gambaran perkembangan sosiologi. Secara praktis makalah ini diharapkan bisa bermanfaat bagi:
*      Penulis, sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep keilmuan khususnya tentang sejarah perkembangan sosiologi.
*      Pembaca, sebagai media informasi tentang konsep penelitian tentang perkembangan interaksi manusia dengan melihat secara historis dan mengetahui sejarah perkembangannya.













II.               HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1.   Hasil Penelitian
Sebelum mengelompokan perkembangan sosiologi sesuai masa, terlebih dahulu kami akan memaparkan gambaran umum materi dari hasil penelitian yang telah kami lakukan berupa studi pustaka.
Gambaran umum mengenai perkembangan sosiologi ini terdiri dari tiga kelompok besar yakni perhatian mayarakat sebelum Comte, sosiologi Auguste Comte dan teori-teori sesudah Auguste Comte.
A.       Perhatian Masyarakat Sebelum Comte
1.    Plato : Menelaah masyarakat secara sistematis dengan merumuskan teori organis tentang masyarakat yang mencakup bidang kehidupan ekonomi dan sosial.
2.    Aristoteles : melakukan analisis terhadap lembaga-lembaga politik dalam masyarakat.
3.    Ibn. Khaldun : mengemukakan beberapa prinsip pokok untuk menafsirkan kejadian sosial dan peristiwa dalam sejarah.
4.    Zaman Renaissance : tercarat nama-nama Thomas More dan Campenella mengenai bagaimana cara mempertahankan kekuasaan.
5.    Hobbes : menulis mengenai keadaan alamiah manusia yang didasari pada keinginan-keinginan mekanis sehingga manusia selalu saling berkelahi (kontrak sosial).
6.    Johm Locke dan JJ Rousseau : menulis mengenai kontrak sosial.
7.    Saint Simon : menulis tentang manusia yang hendaknya dipelajari dalam kehidupan berkelompok.[1]
Pada masyarakat sebelum Comte, pemikiran-pemikiran kemasyarakatan ini lebih menjurus pada filsafat sosial, karena sosiologi belum lahir.


B.       Zaman Auguste Comte
Suatu pandangan menarik dari Comte ialah bahwa sosiologi menurutnya merupakan “Ratu Ilmu-ilmu sosial”. Dalam bayangannya mengenai harkiki ilmu, sosiologi bahkan menempati kedudukan teratas—diatas astronomi, fisika, ilmu kimia, biologi(Coser, 1977).
Sumbangan pikiran lain yang diberikan Comte ialah pembagian sosiologi kedalam dua bagian besar. Statika sosial (social statics) dan dinamika sosial (social dynamics). Statika mewakili stabilitas, sedangkan dinamika mewakili perubahan.[2]
Auguste Comte merupakan orang pertama yang menggunakan istilah sosiologi dan membedakan ruang lingkup serta isi sosiologi dari ilmu pengetahuan yang lain. Sosiologi merupakan studi positif tentang hokum-hukum dasar dan gejala sosial.


C.       Teori-teori Sesudah Comte
Teori-teori sesudah Comte dikelompokkan dalam enam madzhab, yakni:
1.    Mazhab Geografi dan Lingkungan :
2.    Mazhab organis dan evolusioner
3.    Mazhab Formal
4.    Mazhab Psikologi
5.    Mazhab Ekonomi
6.    Mazhab Hukum[3]





2.   Pembahasan
Setelah memaparkan gambaran umum perkembangan sosiologi, kami akan membahas perkembangan tersebut secara lebih terperinci dengan membahasnya sesuai masa.
A.       Pada Jaman Keemasan Filsafat Yunani
Pada masa ini sosiologi dipandang sebagai bagian tentang kehidupan bersama secara filsafat. Pada masa itu Plato (429-347 SM) seorang filsuf terkenal dari Yunani, dalam pencariannya tentang makna negara berhasil merumuskan teori organis tentang masyarakat yang mencakup kehidupan sosial dan ekonomi. Plato menganggap bahwa institusi-institusi dalam masyarakat saling bergantung secara fungsional. Kalau ada satu institusi yang tidak jalan maka secara keseluruhan kehidupan masyarakat akan terganggu. Seperti halnya Plato, Aristoteles (384-322 SM) juga menganggap bahwa masyarakat adalah suatu organisme hidup (seperti pandangan kaum biologiwan) dengan basis kehidupannya adalah moral—yang baik. Pada masa ini kaum agamawan yang berkuasa sehingga kehidupan sosial lebih diwarnai oleh keputusan-keputusan kaum agamawan.[4]
B.       Pada Zaman Renaissance (1200-1600)
Terjadi antara 1200-1600-an. Dalam beberapa literatur sejarah dijelaskan bahwa pada zaman ini muncul ajaran yang memuat teori-teori politik dan sosial. Teori-teori ini memusatkan perhatian pada mekanisme jalannya suatu pemerintahan dan bagaimana posisi rakyat dalam pemerintahan tersebut. Sehingga ada pemisahan antara politik dan moral dalam mekanisme pendekatannya terhadap masyarakat. Dan pada masa ini kekuasaan para agamawan yang sebelumnya begitu besar dan kuat, perlahan mulai mendapat perlawanan dari masyarakat.[5]


C.       Pada Abad Pencerahan (abad ke 16 dan 17)
Pada masa ini muncul Thomas Hobbes (1588-1679) yang mengarang buku yang dikenal sebagai The Leviathan. Inti ajarannya diilhami oleh hukum alam, fisika dan matematika. Pada masa ini pengaruh keagamaan mulai ditinggalkan dan digantikan oleh pandangan-­pandangan yang bersifat hukum sebagai kodrat keduniawiannya. Berdasar pandangan kelompok inilah kemudian muncul suatu kesepakatan antar manusia (kelompok) yang dikenal sebagai kontrak sosial. Pada mulanya interaksi antar manusia berada dalam kondisi chaos karena saling mencurigai dan saling bersaing untuk memperebutkan sumber daya alam dan manusia yang ada. Kondisi yang bersifat kodrati (sesuai dengan hukum alam) ini kemudian dipandang akan selalu menyengsarakan kehidupan manusia. Oleh sebab itu dibuatlah kesepakatan-kesepakatan pengaturan antar kelompok yang dapat saling berterima dan saling menguntungkan, yang kemudian dikenal sebagai kontrak sosial.[6]

D.    Pada Abad Ke 18
Perubahan-perubahan besar di abad pencerahan, terus berkembang secara revolusioner sapanjang abad ke-18 M. Dengan cepat struktur masyarakat lama berganti dengan struktur yang lebih baru. Hal ini terlihat dengan jelas terutama dalam revolusi Amerika, revolusi industri, dan revolusi Perancis. Gejolak-gejolak yang diakibatkan oleh ketiga revolusi ini terasa pengaruhnya di seluruh dunia. Para ilmuwan tergugah, mereka mulai menyadari pentingnya menganalisis perubahan dalam masyarakat.[7]




E.     Pada Abad ke 19
Abad ke 19 dapat dianggap sebagai abad mulai berkembangnya sosiologi, terutama sesudah Auguste Comte (1798-1853) memperkenalkan istilah sosiologi, sebagai usaha untuk menjawab adanya perkembangan interaksi sosial dalam masa industrialisasi. Pada masa ini sosiologi dianggap mulai dapat mandiri. Kondisi yang baru dalam taraf mulai mandiri ini disebabkan walaupun sosiologi sudah dapat menunjukkan adanya obyek yang dijadikan fokus pembahasan (interaksi manusia), namun di dalam pengembangan ilmunya masih menggunakan metode-metode ilmu-ilmu yang lain (ilmu ekonomi misalnya).[8]
F.      Pada Abad ke 20
Sosiologi modern tumbuh pesat di benua Amerika, tepatnya di Amerika Serikat dan Kanada.
Pada permulaan abad ke-20, gelombang besar imigran berdatangan ke Amerika Utara. Gejala itu berakibat pesatnya pertumbuhan penduduk, munculnya kota-kota industri baru, bertambahnya kriminalitas dan lain lain. Konsekuensi gejolak sosial itu, perubahan besar masyarakat pun tak terelakkan.
Perubahan masyarakat itu menggugah para ilmuwan sosial untuk berpikir keras, untuk sampai pada kesadaran bahwa pendekatan sosiologi lama ala Eropa tidak relevan lagi.Mereka berupaya menemukan pendekatan baru yang sesuai dengan kondisi masyarakat pada saat itu.Maka lahirlah sosiologi modern.
Berkebalikan dengan pendapat sebelumnya, pendekatan sosiologi modern cenderung mikro (lebih sering disebut pendekatan empiris).Artinya, perubahan masyarakat dapat dipelajari mulai dari fakta sosial demi fakta sosial yang muncul.Berdasarkan fakta sosial itu dapat ditarik kesimpulan perubahan masyarakat secara menyeluruh.Sejak saat itulah disadari betapa pentingnya penelitian (research) dalam sosiologi.[9]
III.           KESIMPULAN

Sosiologi lahir dari sebuah induk keilmuan bernama filsafat. Sebeluum menjadi ilmu yang mandiri, sosiologi adalah bagian dari filsafat sosial. Ada perbedaan cara pandang antara filsafat sosial dan sosiologi. Filsafat sosial membahas hakikat, sedangkan sosiologi membahas kenyataan yang terjadi dilapangan.
Sebelum sosiologi berdiri sebagai ilmu, banyak filsuf yang telah berpikir sosiologis, karena memikirkan persoalan sosial. Salah satunya adalah plato yang merenungkan persoalan negara.
Setelah banyak melewati kehidupan filsuf-filsuf selain plato dan teori-teorinya, lahirlah seorang tokoh bernama Auguste Comte pada abad ke-19. Ia akhirnya dianggap sebagai Bapak sosiologi.
Sosiologi bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan objek kajiannya itu sendiri, yaitu masyarakat. Oleh karena itu, walaupun sosiologi sudah tidak menginduk lagi, tetapi ilmu sosiologi akan terus berkembang. Walaupun tidak bisa dipungkiri teori-teori baru sosiologi yang menjelaskan tentang perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat menginduk pada teori-teori yang telah ada sebelumnya.


[1] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar,  (Jakarta: PT RajaGrafindo Perseda:2007). Hlm.29
[2] Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi. (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia: 1998). hlm.3
[3] Ibid., hlm. 42
[4] http://kuswan.wordpress.com/2011/11/18/sejarah-perkemb/
[5] Perkembangan Sosiologi-Bimbie.com
[6] Op.cit., http://kuswan.wordpress.com/2011/11/18/sejarah-perkemb/

[7] http://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi
[8] Op.cit., http://kuswan.wordpress.com/2011/11/18/sejarah-perkemb/

[9] Op.cit., http://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi

2 komentar: