I.
PENDAHULUAN
Sebagai
makluk sosial, tidak mungkin manusia memisahkan hidupnya dari manusia lain.
Manusia akan selalu berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia lainnya,
terutama dengan yang ada di lingkungannya. Dari proses interaksi dengan
lingkungan ini, pada akhirnya manusia akan membentuk sebuah kelompok, dan lebih
jauh lagi akan membentuk sebuah masyarakat.
Masyarakat
adalah sekelompok individu yang memiliki hubungan, memiliki kepentingan
bersama, dan memiliki budaya.
Selain
dari interaksi, budaya yang dihasilkan oleh sebuah masyarakat tidak terlepas
dari kodrat manusia sebagai mahluk yang diberi akal untuk berfikir. Manusia
selalu ingin tahu tentang lingkungan sekitarnya. Bahkan sejak zaman sebelum
masehi pun manusia sudah menggunakan akal tersebut untuk memikirkan tentang lingkungannya.
Baik tentang alam maupun tentang manusia itu sendiri. Dari hasil prose berfikir
itu pada akhirnya manusia memperoleh pengetahuan.
Pada mulanya, semua pengetahuan
manusia yang mencakup segala usaha pemikiran mengenai manusia dan alam
sekitarnya—termasuk masyarakat—ada dalam naungan sebuah ilmu yang disebut
filsafat. Akan tetapi, sejalan dengan semakin kompleksnya pemikiran manusia,
maka terjadilah spesialisasi. Filsafat alam dan filsafat sosial. Filsafat alam
berkembang menjadi berbagai cabang ilmu, seperti astronomi, fisika, kimia,
biologi, dan geologi. Sedangkan filsafat kejiwaan dan filsafat sosial
berkembang menjadi psikologi dan sosiologi.
Sosiologi
berasal dari bahasa latin yaitu socius
yang berarti kawan dan logos yang
berarti ilmu pengetahuan. Hal ini pertama kali diungkapkan oleh Auguste Comte
(1798-1857) dalam bukunya yang berjudul Cours
De Philosophie Positive. Hingga pada akhirnya sosiologi dikenal sebagai
ilmu yang mempelajari tentang masyarakat. Dan dengan nama sosiologi, berarti
ilmu ini sudah merupakan spesialisasi dari ilmu-ilmu sosial, bukan lagi ilmu
filsafat.
Pada saat sosiologi masih dianggap
sebagai ilmu yang bernaung di dalam filsafat dan disebut dengan nama filsafat
sosial, materi yang dibahas tidak dapat dikatakan sebagai ilmu sosiologi
seperti yang dikenal sekarang. Sebab, pada saat itu materi filsafat sosial
masih mengandung unsur etika yang membahas tentang bagaimana seharusnya
masyarakat itu (das solen). Sedangkan sosiologi yang berkembang saat ini
merupakan ilmu yang membicarakan bagaimana kenyataan yang ada dalam
masyarakat (das sein).
Beberapa ilmuan yang mengembangkan
filsafat sosial diantaranya adalah Plato (429–347 SM) yang membahas unsur-unsur
sosiologi tentang negara dan Aristoteles (384-322 SM) yang membahas unsur-unsur
sosiologi dalam hubungannya dengan etika sosial, yakni bagaimana seharusnya
tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan sesama manusia ataupun dalam
kehidupan sosialnya. Selain kedua ilmuan itu, Thomas Hobbes, John Locke, dan
Jean Jaques Rousseau juga ikut memberikan bentuk pada ilmu yang kemudian
disebut sosiologi, dengan pemikiran mereka tentang kontak sosial. Sampai awal
tahun 1800-an, konsep pemikiran sosiologi belum dianggap sebagai ilmu
pengetahuan. Baru setelah Auguste Comte (1798-1857) menciptakan istilah
sosiologi, pada tahun 1839 terhadap keseluruhan pengetahuan manusia mengenai
kehidupan bermasyarakat, maka lahirlah sosiologi sebagai suatu ilmu
pengetahuan. Inilah yang disebut dengan tahap pemikiran awal sosiologi. Comte
berpendapat bahwa tingkah laku sosial dan kejadian-kejadian di masyarakat dapat
diamati dan diukur secara ilmiah. Comte dianggap sebagai ‘Bapak Sosiologi’ yang
memulai kajian sosial dengan metode ilmiah.
Dari pemaparan tersebut, jelas bahwa
interaksi antar manusia dan masyarakat terjadi sebelum ilmu yang mempelajarinya
muncul. Spesialisasi ilmunya pun harus melewati beberapa tahapan terlebih
dahulu, salah satunya adalah dengan bernaung di satu ilmu yang sama dengan
ilmu-ilmu lainnya. Sosiologi pun bukan ilmu yang statis. Sosiologi selalu
berkembang sesuai dengan perkembangan manusia itu sendiri.
Karena alasan sosiologi yang selalu
berkembang dari waktu ke waktu, dan sosiologi tidak begitu saja terlahir
menjadi sebuah disiplin ilmu, dalam karya ilmiah ini kami akan mengelompokan masa
perkembangan sosiologi beserta tokohnya. Sesuai dengan judul yang kami pilih
yaitu “Perkembangan Sosiologi dari Masa ke
Masa”.
Karya tulis ilmiah ini kami buat
dengan tujuan untuk:
·
Mengetahui sejarah perkembangan sosiologi
·
Mengetahui perkembangan sosiologi dari abad kea bad
·
Mengetahui proses lahirnya sosiologi modern.
Selain itu, karya tulis ilmiah ini disusun dengan
harapan memberikan kegunaan baik secara teoretis maupun praktis. Secara
teoretis paper ini berguna untuk mengembangkan konsep penelitian mengenai perkembangan
masyarakat dan gambaran perkembangan sosiologi. Secara praktis makalah ini
diharapkan bisa bermanfaat bagi:
II.
HASIL
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1.
Hasil
Penelitian
Sebelum mengelompokan perkembangan sosiologi sesuai masa,
terlebih dahulu kami akan memaparkan gambaran umum materi dari hasil penelitian
yang telah kami lakukan berupa studi pustaka.
Gambaran umum mengenai perkembangan sosiologi ini terdiri
dari tiga kelompok besar yakni perhatian mayarakat sebelum Comte, sosiologi
Auguste Comte dan teori-teori sesudah Auguste Comte.
A. Perhatian Masyarakat Sebelum Comte
1. Plato : Menelaah masyarakat secara
sistematis dengan merumuskan teori organis tentang masyarakat yang mencakup
bidang kehidupan ekonomi dan sosial.
2. Aristoteles : melakukan analisis
terhadap lembaga-lembaga politik dalam masyarakat.
3. Ibn. Khaldun : mengemukakan beberapa
prinsip pokok untuk menafsirkan kejadian sosial dan peristiwa dalam sejarah.
4. Zaman Renaissance : tercarat
nama-nama Thomas More dan Campenella mengenai bagaimana cara mempertahankan
kekuasaan.
5. Hobbes : menulis mengenai keadaan
alamiah manusia yang didasari pada keinginan-keinginan mekanis sehingga manusia
selalu saling berkelahi (kontrak sosial).
6. Johm Locke dan JJ Rousseau : menulis
mengenai kontrak sosial.
7. Saint Simon : menulis tentang
manusia yang hendaknya dipelajari dalam kehidupan berkelompok.[1]
Pada masyarakat sebelum Comte, pemikiran-pemikiran
kemasyarakatan ini lebih menjurus pada filsafat sosial, karena sosiologi belum
lahir.
B. Zaman Auguste Comte
Suatu pandangan menarik dari Comte
ialah bahwa sosiologi menurutnya merupakan “Ratu Ilmu-ilmu sosial”. Dalam
bayangannya mengenai harkiki ilmu, sosiologi bahkan menempati kedudukan teratas—diatas
astronomi, fisika, ilmu kimia, biologi(Coser, 1977).
Sumbangan pikiran lain yang
diberikan Comte ialah pembagian sosiologi kedalam dua bagian besar. Statika
sosial (social statics) dan dinamika
sosial (social dynamics). Statika
mewakili stabilitas, sedangkan dinamika mewakili perubahan.[2]
Auguste Comte merupakan orang
pertama yang menggunakan istilah sosiologi dan membedakan ruang lingkup serta
isi sosiologi dari ilmu pengetahuan yang lain. Sosiologi merupakan studi
positif tentang hokum-hukum dasar dan gejala sosial.
C. Teori-teori Sesudah Comte
Teori-teori sesudah Comte
dikelompokkan dalam enam madzhab, yakni:
1. Mazhab Geografi dan Lingkungan :
2. Mazhab organis dan evolusioner
3. Mazhab Formal
4. Mazhab Psikologi
5. Mazhab Ekonomi
6. Mazhab Hukum[3]
2.
Pembahasan
Setelah memaparkan gambaran umum
perkembangan sosiologi, kami akan membahas perkembangan tersebut secara lebih
terperinci dengan membahasnya sesuai masa.
A.
Pada Jaman Keemasan Filsafat Yunani
Pada
masa ini sosiologi dipandang sebagai bagian tentang kehidupan bersama secara
filsafat. Pada masa itu Plato (429-347 SM) seorang filsuf terkenal dari Yunani,
dalam pencariannya tentang makna negara berhasil merumuskan teori organis
tentang masyarakat yang mencakup kehidupan sosial dan ekonomi. Plato menganggap
bahwa institusi-institusi dalam masyarakat saling bergantung secara fungsional.
Kalau ada satu institusi yang tidak jalan maka secara keseluruhan kehidupan
masyarakat akan terganggu. Seperti halnya Plato, Aristoteles (384-322 SM) juga
menganggap bahwa masyarakat adalah suatu organisme hidup (seperti pandangan
kaum biologiwan) dengan basis kehidupannya adalah moral—yang baik. Pada masa
ini kaum agamawan yang berkuasa sehingga kehidupan sosial lebih diwarnai oleh
keputusan-keputusan kaum agamawan.[4]
B. Pada Zaman Renaissance (1200-1600)
Terjadi antara 1200-1600-an. Dalam beberapa literatur
sejarah dijelaskan bahwa pada zaman ini muncul ajaran yang memuat teori-teori
politik dan sosial. Teori-teori ini memusatkan perhatian pada mekanisme
jalannya suatu pemerintahan dan bagaimana posisi rakyat dalam pemerintahan
tersebut. Sehingga ada pemisahan antara politik dan moral dalam mekanisme
pendekatannya terhadap masyarakat. Dan pada masa ini kekuasaan para agamawan
yang sebelumnya begitu besar dan kuat, perlahan mulai mendapat perlawanan dari
masyarakat.[5]
C. Pada Abad Pencerahan (abad ke 16 dan
17)
Pada masa ini muncul Thomas Hobbes (1588-1679) yang
mengarang buku yang dikenal sebagai The Leviathan. Inti ajarannya diilhami oleh
hukum alam, fisika dan matematika. Pada masa ini pengaruh keagamaan mulai
ditinggalkan dan digantikan oleh pandangan-pandangan yang bersifat hukum
sebagai kodrat keduniawiannya. Berdasar pandangan kelompok inilah kemudian
muncul suatu kesepakatan antar manusia (kelompok) yang dikenal sebagai kontrak
sosial. Pada mulanya interaksi antar manusia berada dalam kondisi chaos karena
saling mencurigai dan saling bersaing untuk memperebutkan sumber daya alam dan
manusia yang ada. Kondisi yang bersifat kodrati (sesuai dengan hukum alam) ini
kemudian dipandang akan selalu menyengsarakan kehidupan manusia. Oleh sebab itu
dibuatlah kesepakatan-kesepakatan pengaturan antar kelompok yang dapat saling
berterima dan saling menguntungkan, yang kemudian dikenal sebagai kontrak
sosial.[6]
D. Pada Abad Ke 18
Perubahan-perubahan besar
di abad pencerahan, terus berkembang secara revolusioner sapanjang abad
ke-18 M. Dengan cepat struktur masyarakat lama berganti dengan struktur
yang lebih baru. Hal ini terlihat dengan jelas terutama dalam revolusi
Amerika, revolusi industri, dan revolusi Perancis. Gejolak-gejolak
yang diakibatkan oleh ketiga revolusi ini terasa pengaruhnya di seluruh dunia.
Para ilmuwan tergugah, mereka mulai menyadari pentingnya menganalisis perubahan
dalam masyarakat.[7]
E. Pada Abad ke 19
Abad ke 19 dapat dianggap sebagai abad mulai berkembangnya
sosiologi, terutama sesudah Auguste Comte (1798-1853) memperkenalkan istilah
sosiologi, sebagai usaha untuk menjawab adanya perkembangan interaksi sosial
dalam masa industrialisasi. Pada masa ini sosiologi dianggap mulai dapat
mandiri. Kondisi yang baru dalam taraf mulai mandiri ini disebabkan walaupun
sosiologi sudah dapat menunjukkan adanya obyek yang dijadikan fokus pembahasan
(interaksi manusia), namun di dalam pengembangan ilmunya masih menggunakan
metode-metode ilmu-ilmu yang lain (ilmu ekonomi misalnya).[8]
F. Pada Abad ke 20
Sosiologi modern tumbuh pesat di
benua Amerika, tepatnya di Amerika Serikat dan Kanada.
Pada permulaan abad ke-20, gelombang
besar imigran berdatangan ke Amerika Utara. Gejala itu berakibat pesatnya pertumbuhan
penduduk, munculnya kota-kota industri baru, bertambahnya kriminalitas dan lain
lain. Konsekuensi gejolak sosial itu, perubahan besar masyarakat pun tak
terelakkan.
Perubahan masyarakat itu menggugah
para ilmuwan sosial untuk berpikir keras, untuk sampai pada kesadaran bahwa
pendekatan sosiologi lama ala Eropa tidak relevan lagi.Mereka berupaya
menemukan pendekatan baru yang sesuai dengan kondisi masyarakat pada saat
itu.Maka lahirlah sosiologi modern.
Berkebalikan dengan pendapat
sebelumnya, pendekatan sosiologi modern cenderung mikro (lebih sering disebut
pendekatan empiris).Artinya, perubahan masyarakat dapat dipelajari mulai dari
fakta sosial demi fakta sosial yang muncul.Berdasarkan fakta sosial itu dapat
ditarik kesimpulan perubahan masyarakat secara menyeluruh.Sejak saat itulah
disadari betapa pentingnya penelitian (research) dalam sosiologi.[9]
III.
KESIMPULAN
Sosiologi
lahir dari sebuah induk keilmuan bernama filsafat. Sebeluum menjadi ilmu yang
mandiri, sosiologi adalah bagian dari filsafat sosial. Ada perbedaan cara
pandang antara filsafat sosial dan sosiologi. Filsafat sosial membahas hakikat,
sedangkan sosiologi membahas kenyataan yang terjadi dilapangan.
Sebelum
sosiologi berdiri sebagai ilmu, banyak filsuf yang telah berpikir sosiologis,
karena memikirkan persoalan sosial. Salah satunya adalah plato yang merenungkan
persoalan negara.
Setelah
banyak melewati kehidupan filsuf-filsuf selain plato dan teori-teorinya,
lahirlah seorang tokoh bernama Auguste Comte pada abad ke-19. Ia akhirnya
dianggap sebagai Bapak sosiologi.
Sosiologi
bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan objek kajiannya itu sendiri, yaitu
masyarakat. Oleh karena itu, walaupun sosiologi sudah tidak menginduk lagi,
tetapi ilmu sosiologi akan terus berkembang. Walaupun tidak bisa dipungkiri
teori-teori baru sosiologi yang menjelaskan tentang perubahan-perubahan yang
terjadi dalam masyarakat menginduk pada teori-teori yang telah ada sebelumnya.
[1] Soerjono Soekanto, Sosiologi
Suatu Pengantar, (Jakarta: PT
RajaGrafindo Perseda:2007). Hlm.29
[2] Kamanto Sunarto, Pengantar
Sosiologi. (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia:
1998). hlm.3
[3] Ibid., hlm. 42
[4] http://kuswan.wordpress.com/2011/11/18/sejarah-perkemb/
[5] Perkembangan Sosiologi-Bimbie.com
[6] Op.cit., http://kuswan.wordpress.com/2011/11/18/sejarah-perkemb/
[7] http://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi
[8] Op.cit., http://kuswan.wordpress.com/2011/11/18/sejarah-perkemb/
[9] Op.cit., http://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi
bukan sendiri atau kopas nih? hehe
BalasHapussendiri a, cuman itu banyak footnote'na :D
BalasHapus