Namaku Rima. Seorang gadis yang selalu
mengharapkan cinta, karena merasa dibesarkan dengan cara yang menyedihkan.
Banyak yang bilang aku hanya kurang
bersyukur. Tapi sungguh, selama ini aku merasa tidak dicintai. Ya mungkin
karena kurang bersyukur sih—akhirnya aku mengakui—.
Tapi ternyata dicintai tidak semudah yang
dibayangkan.
Banyak hal yang harus dipikirkan,
termasuk memikirkan hati mereka yang mencintai. Ya, seperti yang aku alami saat
ini, merasa harus menjaga hati orang lain.
Sialnya, tidak hanya satu hati yang harus
Aku jaga. Sekarang ini setidaknya ada dua hati yang tak layak Aku sakiti. Karena
hati keduanya begitu tulus, terlalu lembut untuk digores.
Namun Aku adalah wanita, mendua adalah
hal yang tabu. Setidaknya bagiku, seseorang yang sangat menghargai kesetiaan.
Kamu tahu, hidupku tentu tidak hanya sekarang.
Seperti layaknya makhluk bernama manusia lainnya, Aku pun memiliki masa lalu
yang disadari atau tidak tentu menentukan caraku hidup saat ini.
Tak banyak yang tahu, Aku memiliki cinta
pertama yang Aku temukan bahkan saat aku masih remaja. Namanya Anton.
Dengan jujur Aku membenarkan kalimat ‘first
love never die’. Aku begitu paham tentang kalimat itu.
Ya, cinta pertamaku adalah seorang yang
Aku anggap sebagai manusia yang paling bisa membuatku menjadi Rima yang lain. Bukankah
saat jatuh cinta seseorang lebih sering tidak mejadi dirinya sendiri?
Hmm Antonn, Anton. Aku merasa dia
jodohku.
Namun, suatu hari aku menyadari bahwa aku
hidup tidak hanya untuk cinta. Aku harus menghidupi diriku sendiri.
Aku memilih jalan sendiri, tidak dengan Anton.
Aku pergi meninggalkannya, bersama kenangan
dan janji untuk hidup bersama, nanti.
Sering Aku merasa tak lagi menyayangi Anton.
Tapi ternyata tidak.
Aku hanya lupa. Karena ternyata Anton tetap
ada dalam hatiku, dalam hati yang telah tertutup oleh kisah-kisah yang lain. Dan
tentang Anton selalu ada di tumpukan paling dalam. Karena kenangan bersama Antonlah
yang paling mendominasi hatiku.
Dan sekarang, saat dua hati dipertaruhkan,
Aku memilih menyakiti keduanya. Aku mencintai kedua hati yang tulus itu. Tapi sungguh,
Aku lebih mencintai janjiku sendiri. Janji tentang hidupku bersama Anton.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar