Kamis, 12 Desember 2013

CERPEN : Tentang Aku dan Hatimu


Namaku Rima. Seorang gadis yang selalu mengharapkan cinta, karena merasa dibesarkan dengan cara yang menyedihkan.
Banyak yang bilang aku hanya kurang bersyukur. Tapi sungguh, selama ini aku merasa tidak dicintai. Ya mungkin karena kurang bersyukur sih—akhirnya aku mengakui—.
Tapi ternyata dicintai tidak semudah yang dibayangkan.
Banyak hal yang harus dipikirkan, termasuk memikirkan hati mereka yang mencintai. Ya, seperti yang aku alami saat ini, merasa harus menjaga hati orang lain.
Sialnya, tidak hanya satu hati yang harus Aku jaga. Sekarang ini setidaknya ada dua hati yang tak layak Aku sakiti. Karena hati keduanya begitu tulus, terlalu lembut untuk digores.
Namun Aku adalah wanita, mendua adalah hal yang tabu. Setidaknya bagiku, seseorang yang sangat menghargai kesetiaan.
Kamu tahu, hidupku tentu tidak hanya sekarang. Seperti layaknya makhluk bernama manusia lainnya, Aku pun memiliki masa lalu yang disadari atau tidak tentu menentukan caraku hidup saat ini.
Tak banyak yang tahu, Aku memiliki cinta pertama yang Aku temukan bahkan saat aku masih remaja. Namanya Anton.
Dengan jujur Aku membenarkan kalimat ‘first love never die’. Aku begitu paham tentang kalimat itu.
Ya, cinta pertamaku adalah seorang yang Aku anggap sebagai manusia yang paling bisa membuatku menjadi Rima yang lain. Bukankah saat jatuh cinta seseorang lebih sering tidak mejadi dirinya sendiri?
Hmm Antonn, Anton. Aku merasa dia jodohku.
Namun, suatu hari aku menyadari bahwa aku hidup tidak hanya untuk cinta. Aku harus menghidupi diriku sendiri.
Aku memilih jalan sendiri, tidak dengan Anton.
Aku pergi meninggalkannya, bersama kenangan dan janji untuk hidup bersama, nanti.
Sering Aku merasa tak lagi menyayangi Anton. Tapi ternyata tidak.
Aku hanya lupa. Karena ternyata Anton tetap ada dalam hatiku, dalam hati yang telah tertutup oleh kisah-kisah yang lain. Dan tentang Anton selalu ada di tumpukan paling dalam. Karena kenangan bersama Antonlah yang paling mendominasi hatiku.
Dan sekarang, saat dua hati dipertaruhkan, Aku memilih menyakiti keduanya. Aku mencintai kedua hati yang tulus itu. Tapi sungguh, Aku lebih mencintai janjiku sendiri. Janji tentang hidupku bersama Anton.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar